Halaman

Assalamu'alaikum, have barokah day ;)

Jumat, 11 November 2011

Serpihan Fhoto Usang Ayah

Sebuah fhoto usang ayah 20-an tahun yang lalu, bersama ibu yang berumur sekarang....


Ayah...

“Ayah dengarkanlah, aku ingin berjumpa walau hanya dalam mimpi….”

Ayah, sering kuhadir-hadirkan kau menjelang tidurku
Agar aku bisa bertemu mencium tanganmu
Agar aku bisa bercerita tentang sakitku
Ayah, datanglah padaku…

Ayah, aku ingin belajar padamu tentang cinta
Agar aku tidak jatuh dalam jurangnya
Agar aku siap dengan kedatangannya
Agar aku jauh dalam jerumusnya

Ayah, jika berandai-andai itu diperbolehkan
Maka aku akan berandai agar aku saja yang dipanggil-Nya duluan
Biar aku saja menempati rumahmu yang berhias nisan
kamboja yang berguguran
juga rumput dan pepohonan

Ayah, rasanya aku sudah sangat ingin berjumpa….

(Lebong Siarang, 091111. 8.15 AM waktu laptop mini hijauku)

*********************************************************************
Ibu…

Ibu, terima kasihku tak terhingga untukmu
Kasih sayangku tak terbendung buatmu
Lirih do’aku tak pernah putus untukmu

Ibu, jika tidak ada Tuhan maka kaulah yang akan aku sembah
Di sini, hanya kaulah yang mencintaiku tanpa syarat, tanpa lelah
Kaulah yang menguatkan langkahku saat goyah
Senyum dan harapmu padaku itulah yang menghapus resah

Ibu, aku berjanji
Akan memberi seorang teman yang spesial nanti
Seseorang yang akan menambah panjang do’aku untukmu
Seseorang yang akan menguatkan baktiku padamu

Ibu, hati kita sering merasakan hal yang sama
Saat aku begitu merindu, maka kau menelponku
Saat aku sakit yang tak tertahan, maka kau pun menghubungiku
Tanpa aku minta atau memberitahu

Ibu, ribuan kata tak kan pernah habis mengungkapkan cintaku padamu
I love you, dalam keadaan apapun aku selalu bersamamu dalam do’aku
I love you, telah menjadi ibu yang begitu hebat untukku
I love you…I love you…I love you…

(Lebong Siarang, 91111. 8.43 AM waktu laptop hijau miniku)


Selasa, 01 November 2011

Aku Apa Adanya


Dalam mencipta kata
Tak sehebat pujangga merangkainya
Tak seindah penyair membacanya
Pun tak sepuitis para penikmatnya

Aku menuangkannya dengan sederhana
Dengan untaian do’a terkadang air mata
Dengan gugusan asa yang selalu mengangkasa
Dan dengan setia yang selalu tersemat di jiwa

Aku selalu bercerita tentang apa adanya
Tentang kesederhanaan yang selalu menyertainya
Tentang kelembutan yang selalu melengkapinya
Juga tentang kesabaran yang tak kan pernah hilang selamanya

Setiap goresan kata-kataku
Adalah kata yang juga harapku
Adalah kata yang juga cintaku
Tergores oleh tarian kaku jemariku


(Demang Lebar Daun, 31 Oktober 2011. 08.03 PM waktu laptop hijau miniku)