Halaman

Assalamu'alaikum, have barokah day ;)

Kamis, 05 September 2013

Apakah Cinta Itu Buta???

Dering pesan masuk berbunyi, dibaca isi sms-nya… “Pengkhianat!!!” Tak mampu berkata apapun lagi menahan semua rasa dalam dada, hanya isak tangis yang makin keras menghentak. Orang yang selama ini dicintainya memutuskan hubungan mereka berdua yang sudah terlampau jauh hanya karena alasan ada orang lain.

Sementara banyak juga di luar sana yang mungkin menangis, menitikkan air mata ‘kegembiraan’ dalam sujud penuh kesyukuran, mengalir hangat di sudut-sudut matanya lantaran sang kekasih hati yang diimpikan akhirnya menikahi setelah sekian lama menanti.

Dan mungkin ada lagi isak tangis yang siapapun mendengar akan teriris hatinya. Di sebuah rumah kecil yang hanya diterangi lampu minyak di suatu desa, ditinggali seorang bapak dan anaknya yang masih kecil. Seteguh hati seorang lelaki ternyata mampu mencucurkan air mata. Air mata penyesalan memiliki istri yang meninggalkan suami dan anaknya hanya karena ada lelaki kaya raya menggodanya.

Apakah cinta itu buta???

Begitulah cinta, sangat sulit menjelaskannya. Umumnya cinta itu memang buta, seperti yang pernah kita dengar dari riwayat Imam Abu Dawud dan Ahmad, “Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli”. Tetapi sungguh, cinta itu tidak salah. Cobalah menyelami samudera cinta. Meski ombak membawa sampah dan kotoran ke tepian pantai, mengganggu pemandangan keindahannya. Jangan lupa, bahwa di balik samudera cinta tersebut ada mutiara yang gemerlapan, yang tidak saja membutakan tetapi juga menentramkan.

Marilah kita lihat cakrawala cinta di semesta, kita akan menemukan lapisan cinta yang begitu indah. Diawali dengan cinta pada Sang Pemberi Kehidupan, cinta pada para nabi dan rasul-Nya, cinta pada para sahabat dan keshalihan para ulama, cinta pada kaum muslimin, cinta pada orang tua terutama pada ibunda. Cinta pada sesama kaum mukmin, muslimin, manusia pada umumnya, pada diri sendiri dan akhirnya cinta benda atau harta. “Barang siapa ingin merasakan manisnya iman, hendaklah dia mencintai saudaranya, dan dia tidak mencintainya kecuali karena Allah”. (HR. Ahmad dan Hakim).

Cinta tertinggi nan mulia hanyalah cinta kepada Allah. Maka di setiap cinta kepada selain-Nya tidak disandarkan kepada-Nya, itulah cinta yang membutakan, cinta yang dipenuhi dengan nafsunya. Cinta yang menjadi cobaan, cinta yang cenderung pada maksiat. Cinta yang menggelora tanpa rasa malu, cinta yang membahayakan, cinta yang terbelenggu manis dalam dekapan setan. CINTA KEPADA SELAIN ALLAH TIDAKLAH ABADI, AKAN ADA KATA PUTUS DALAM CINTA SELAIN KEPADA ALLAH.

Yang harus diingat bahwa Islam tidak melarang atau mengekang manusia dari rasa cinta, memang sudah fitrah dan diabadikan dalam QS. 3:14. Tetapi Islam memberi petunjuk agar cinta tetap mengarah di jalan yang menjaga kehormatan. Cinta itu fitrah dalam lautan kesucian. Salah menggunakan petunjuk dan tidak mengikuti arah maka cinta akan tenggelam dalam lautan hawa nafsu kehinaan, membutakan. Cinta buta bagi mereka yang tidak pada jalur cinta yang sesungguhnya.

Seperti banyak orang bijak berkata bahwa cinta adalah kata kerja, kata kerja yang membebaskan. Ya, begitulah cinta seharusnya. Membebaskan belenggu dan ketergantungan yang membutakan para pencinta. Cinta yang seharusnya memberikan kekuatan energi membebaskan para pencinta kepada siapapun, dan hanya merelakan dirinya dalam bentuk penghambaan cinta kepada Allah. Begitulah sejati cinta, tidak diiringi ketergantungan dan membuat hati menjadi buta. Cinta adalah merdeka, bebas dari belenggu siapapun dan apapun yang menjajah rasa. Cinta yang memberikan barakah bagi diri dan dan sesama.

Ada sebuah kisah dalam Taman Para Pencinta karya Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah. Ada seorang pemuda tampan dan ahli ibadah dari Kufah. Suatu ketika ia pergi ke Nakha’. Tak sengaja ia melihat gadis cantik. Ia tertarik padanya dan jatuh cinta. Lalu ia datang ke rumah gadis itu dan mengutus seseorang untuk melamarkan kepada ayahnya. Sayang sekali, ayahnya sudah menerima lamaran dari sepupunya. Ternyata antara gadis itu dan ahli ibadah sudah terlanjur jatuh cinta hingga mengalami derita berat akibat kasih sayang yang tak sampai.

Lalu gadis itu mengirim surat sebagai pengobat rindunya. “Aku tahu betapa berat cintamu padaku. Dan betapa berat cobaan yang harus kau terima karena aku. Jika kau mau, aku bisa datang ke rumahmu untuk menemuimu. Atau jika engkau mau, aku bisa mengatur jalan agar engkau bisa sampai ke rumahku”. Tapi pemuda itu berkata pada utusan itu, “Tak satupun yang kupilih atas kedua keburukan itu”. Ia berkata seraya mengutip firman Allah surah al-An’am: 15 “Katakanlah: Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (Hari Kiamat) jika aku mendurhakai Tuhanku”.

Kisah tersebut memberikan pelajaran pada kita bahwa rasa cinta pada seseorang tidak membuat hatinya buta. Meski begitu besar rasa cinta sang pemuda, namun cinta pada-Nya lebih memenuhi hatinya. Sungguh agung cinta dalam Islam, menjaga umatnya agar kesucian cinta tidak tercemar oleh kotornya nafsu dan tidak hanyut oleh sewenang-wenangnya setan memperlakukan.

“Tidak sempurna iman seseorang dari kalian hingga aku lebih dia cintai daripada bapak-ibunya, anaknya, dan seluruh manusia”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan sekarang, bisa kita ketahui dimana letak cinta yang kita miliki. Apakah cinta itu buta???

***Lahat, Kost Sweet Kost…
Suatu hari ketika tiba-tiba rindu menyusup di kalbu
Dengan music backsound, Hadapilah – Shoutul Harokah***


Sabtu, 20 Juli 2013

Mungkin Ini Alasannya...

Memutuskan sebuah pilihan, bukanlah perkara yang mudah. Begitu banyak pertimbangan, begitu banyak kebimbangan dan juga pengorbanan. Memutuskan untuk memilih meninggalkan gemerlapnya ibu kota Sumsel, meninggalkan lingkungan yang begitu kondusif agar selalu mengingat dan dekat pada-Nya, meninggalkan orang-orang yang sangat dicintai. Ya, aku memutuskan untuk memilih kembali ke kota kelahiran, kota kecil bernama Lahat. Memulai kembali dari NOL untuk hidup, dari mencari kontrakan hingga semua keperluan sehari-hari. Bekerja di sebuah sekolah yang dari awal sudah tahu bahwa gajinya tidak akan sebesar di tempat kerja yang lama. Tapi keputusan sudah diambil, Bismillah…

Kehidupan semakin dirasakan berbeda, mulai dari lingkungan, teman-teman, juga gaya hidup. Harus beradaptasi dan terbiasa di tempat yang baru, harus memahami watak dan apa adanya plus adanya apa orang-orang baru. Aku menikmatinya…  Satu hal yang kusukai, aku bisa tiap minggu pulang kampung bertemu dengan ibu, tidak terlalu jauh dari Lahat. Seperti sekarang ini, malas-malasan di kamar ibu… :D

Ketika pulang kampung, dari Lahat menuju kampung harus naik mobil tua yang penuh sesak oleh penumpang dan barang. Menunggu keberangkatan mobil ke kampung kemarin, aku sempatkan membuka Al-Qur’an merah hatiku dan membacanya. Sungguh, bukan karena ingin dilihat sok alim tapi memang karena ingin memanfaatkan waktu terbuang percuma oleh menunggu, terlebih ini adalah bulan yang teramat mulia, Ramadhan. Di antara syahdunya angin yang menemani tilawahku dan hiruk pikuknya sebuah terminal, telingaku mendengar bapak-bapak yang juga akan naik di mobil yang sama sedang membicarakan aku. Mereka sedang menertawakanku, kesannya menghina apa yang sedang aku lakukan. Mereka berkata tidak takut pada neraka, Tuhan itu tidak ada. Jika ada mana buktinya? Aku hanya diam meneruskan tilawahku, ingin sekali menangis kasihan sama mereka. Ketika mobil mulai berjalan, mereka tanpa malu merokok tanpa menghargai orang yang berpuasa. Tidak ada gunanya dan bukanlah waktu yang tepat untuk menegur mereka. Alhamdulillah selalu memakai kerudung yang lebar jadi bisa ditutupkan ke muka…

Ingin dekat dan sedikit membenahi minimal keluarga terdekat, mungkin ini alasannya kenapa akhirnya aku memilih untuk meninggalkan Palembang. Kondisi kampung yang menyedihkan. Bodoh, miskin, dan sombong pada Tuhan. Semua penduduk beragama Islam, tapi rukun Islamnya hanya kalimah syahadah yang dijalankan, itupun mungkin karena terlahir sebagai orang Islam. Seolah tidak butuh sama sekali pada Tuhan yang telah memberi kehidupan. Sedih ketika melihat para pemudanya yang tanpa malu tidak berpuasa, sedih ketika anak-anak kecil dianjurkan untuk ke sungai mencari ikan daripada memperbanyak ibadah selama Ramadhan. Yaaa, Ramadhan hanya datang dan berlalu biasa-biasa saja. Dan yang sangat menyedihkan lagi, aku tidak bisa berbuat banyak untuk sebuah perubahan yang diharapkan.

Dalam segala kelemahan dan kekurangan, asaku masih membumbung tinggi di angkasa, inginku masih seperti cahaya yang berkerlip di kegelapan. Biarlah ku mulai dari apa yang bisa kulakukan, keluargaku terlebih dahulu…Semoga terlahir seorang mujahid di kampung ini yang akan mewarnai kehidupan seindah warna pelangi.

Talang Padang, dalam senja yang menawan…