Halaman

Assalamu'alaikum, have barokah day ;)

Kamis, 22 Oktober 2009

PSIKOLOGI PENDIDIKAN TEORI BELAJAR KOGNITIF

PENDAHULUAN

Psikologi kognitif berpendapat bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya dikontrol oleh “reward” dan “reinforcement”, menurut mereka tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi. Bruners sebagai ahli teori belajar psikologi kognitif memandang proses belajar itu sebagai tiga proses yang berlangsung secara serempak, yaitu :
1. Proses perolehan informasi baru
2. Proses transformasi pengetahuan
3. Proses pengecekan ketepatan dan memadainya pengetahuan tersebut.
Informasi Baru dapat merupakan penyempurnaan pengetahuan terdahulu atau semacam kekuatan yang berpengaruh kepada pengetahuan tedahulu seseorang. Dalam kondisi belajar, seseorang terlibat langsung adalam situasi itu dan memperoleh “insight” untuk pemecahan masalah, jadi menurut aliran kognitif bahwa tingkah laku seseorang lebih bergantung kepada “insight” terhadap hubungan-hubungan yang ada di dalam situasi. Mereka memberi tekanan pada organisasi pengamatan atas stimulus di dalam lingkungan serta faktor-faktor yang mempengaruhi pengamatan.
Dalam ilmu komputer, tujuan mempelajari psikologi kognitif adalah menemukan bagaimana informasi diwakili di dalam pikiran manusia. Gagasan sentral di balik ilmu kognitif adalah sistem kognisi manusia dipandang sebagai komputer raksasa yang melakukan kalkulasi kompleks yang dapat dipecah-pecahkan menjadi komputasi yang lebih sederhana. Oleh karena itu, kognisi manusia dapat dianalisis pada tingkat ( hardware ) atau neuron dan tingkat representasi mental ( software ). Komputasi mental dan tingkat analisis ideal adalah kognitif.


PEMBAHASAN

Psikologi kognitif merupakan salah satu cabang dari psikologi umum dan mencakup studi ilmiah tentang gejala-gejala kehidupan mental sejauh berkaitan dengan cara manusia berpikir dalam memperoleh pengetahuan, mengolah kesan-kesan yang masuk melalui indera, pemecahan masalah, menggali ingatan pengetahuan dan prosedur kerja yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan mental mencakup gejala kognitif, afektif ( penafsiran dan pertimbangan yang menyertai reaksi perasaan ), konatif ( keputusan kehendak ). Ilmu kognitif menjelaskan bidang penelitian psikologi yang mengurusi proses kognitif seperti perasaan, pengingatan, penalaran, pemutusan dan pemecahan masalah, serta menghindari adanya tumpang tindih ilmu pengetahuan yang tertarik dalam proses tersebut seperti filosofi.
Teori belajar psikologi kognitif memfokuskan perhatiannya kepada bagimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal. Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik, karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauh mana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan.
Peranan guru menurut teori belajar psikologi kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. Jika potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses pendidikan di sekolah, maka peserta akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas.
Oleh karena itu, para ahli teori belajar psikologi kognitif berkesimpulan bahwa salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas ialah faktor kognitif yang dimiliki oleh peserta didik. Faktor kognitif merupakan jendela bagi masuknya berbagai pengetahuan yang diperoleh peserta didik melalui kegiatan belajar mandiri maupun kegiatan belajar secara kelompok. Pengetahuan tentang kognitif peserta didik perlu dikaji secara mendalam oleh para calon guru dan para guru demi untuk menyukseskan proses pembelajaran di kelas. Tanpa pengetahuan tentang kognitif guru akan mengalami kesulitan dalam membelajarkan peserta didik di kelas yang pada akhirnya mempengaruhi rendahnya kualitas proses pendidikan yang dilakukan oleh guru di kelas melalui proses belajar mengajar antara guru dan peserta didik.
Ahli teori kognitif berpendapat bahwa belajar adalah hasil dari usaha kita untuk dapat mengerti dunia. Untuk melakukan ini, kita menggunakan semua alat mental kita. Caranya, kita berpikir tentang situasi, sama baiknya kita berpikir tentang kepercayaan, harapan, dan perasaan kita yang akan mempengaruhi bagaimana dan apa yang kita pelajari. Dua siswa mungkin dalam kelas yang sama, tetapi belajar dua pelajaran yang berbeda. Apa yang dipelajari setiap siswa tergantung pada apa yang diketahui dari masing-masing siswa dan bagaimana informasi baru diproses.
Pandangan kognitif melihat belajar sebagai sesuatu yang aktif. Mereka berinisiatif mencari pengalaman untuk belajar, mencari informasi untuk menyelesaikan masalah, mengatur kembali, dan mengorganisasi apa yang telah mereka ketahui untuk mencapai pelajaran baru. Meskipun secara pasif dipengaruhi oleh lingkungan, orang akan aktif memilih, memutuskan, mempraktikkan, memperhatikan, mengabaikan, dan membuat banyak respons lain untuk mengejar tujuan. Satu hal penting yang mempengaruhi dalam proses ini adalah apa yang individu pikirkan dalam situasi belajar. Ahli-ahli psikologi kognitif menjadi lebih berminat dalam peranan pengetahuan dalam belajar. Apa yang telah kita ketahui menentukan seberapa luasnya apa yang akan kita pelajari, yang kita ingat, dan yang kita lupakan.
Menurut Bransford ( dalam Djiwandono, 2004:150 ), yang penting dalam hal ini ialah bagaimana orang belajar, mengerti dan mengingat informasi, dan mengapa beberapa orang dapat melakukan dengan baik dan yang lain tidak. Kenyataannya, ahli-ahli psikologi kognitif lebih cenderung menyelidiki aspek-aspek penting dalam belajar, seperti bagaimana orang dewasa mengingat informasi atau bagaimana anak-anak memahami cerita-cerita. Mereka tidak mencari hukum-hukum umum belajar yang menerapkan semua organisme (binatang, manusia) dalam semua situasi. Mereka lebih berminat dalam bentuk-bentuk belajar pada manusia yang dapat mengemukakan alasan dan menyelesaikan masalah, bahasa.
Sasaran belajar adalah pengaturan kegiatan kognitif dalam sistematika arus pikiran sendiri dan sistematisasi proses belajar dalam diri sendiri ( control process). Untuk menunjuk pada pengaturan kegiatan kognitif dapat menggunakan metacognition, yaitu pengetahuan tentang kegiatan berpikir dan belajar serta kontrol terhadap kegiatan itu pada diri sendiri. Yang harus dikuasai bukan hanya mengetahui apa yang harus diperbuat melainkan juga mengetahui bagaimana dan kapan harus berbuat ( cognitive monitoring ). Menurut Djaali ( 2007:67) fase-fase jalur belajar pengaturan kegiatan kognitif adalah sebagai berikut :
1. Fase motivasi.
Untuk mendapat motivasi siswa harus memeras otaknya sendiri. Jika motivasi lemah, anak akan membiarkan problem tetap menjadi problem dan terlalu susah untuk memikirkan.
2. Fase konsentrasi
Anak harus mengamati dengan cermat, jika penyelesaian masalah memerlukan pengamatan.
3. Fase pengolahan
Anak harus menggali dari ingatannya terhadap siasat yang pernah digunakan untuk mengatasi hal serupa, yang cocok untuk suatu problem. Jika siasat dalam ingatan tidak tersedia, ia harus menciptakan siasat baru dengan menggunakan kreativitas dan pikiran terarah.



4. Fase umpan balik
Konfirmasi tepat dan tidaknya penyelesaian yang ditem,puh. Konfirmasi ini bisa meningkatkan dan melemahkan motivasi anak untuk memeras otak lagi pada kesempatan yang akan datang.

1. Teori Belajar Cognitive Field ( Kurt Lewin )
Teori belajar cognitive field menitikberatkan perhatian pada kepribadian dan psikologi sosial, karena pada hakikatnya masing-masing individu berada di dalam suatu medan kekuatan, yang bersifat psikologis, yang disebut life space. Life space mencakup perwujudan lingkungan dimana individu bereaksi, misalnya orang yang dijumpai, fungsi kejiwaan yang dimiliki dan objek material yang dihadapi.
Jadi, tingkah laku merupakan hasil interaksi antar kekuatan, baik yang berasal dari dalam diri individu, seperti tujuan, kebutuhan, tekanan kejiwaan, maupun yang berasal dari luar individu, seperti tantangan dan permasalahan yang dihadapi. Menurut teori ini, belajar itu berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam struktur kognitif.
Perubahan struktur kognitif itu adalah hasil pertemuan dari dua kekuatan, yaitu yang berasal dari struktur medan kognitif itu sendiri dan yang lainnya berasal dari kebutuhan dan motivasi internal individu. Dengan demikian, peranan motivasi jauh lebih penting daripada reward atau hadiah.

2. Teori Belajar Cognitive Development ( Piaget )
Piaget memandang bahwa proses berpikir merupakan aktivitas dari fungsi intelektual, yaitu dari berpikir konkret menuju abstrak. Perkembangan intelektual adalah kualitatif, bukan kuantitatif. Intelegensia itu terdiri atas tiga aspek, yaitu :
a. Struktur atau scheme ialah pola tingkah laku yang dapat diulang.
b. Isi atau content ialah pola tingkah laku spesifik, ketika seseorang menghadapi suatu masalah.
c. Fungsi atau function adalah yang berhubungan dengan cara seseorang mencapai kemajuan intelektual. Function terdiri atas dua macam fungsi invarian, yaitu fungsi organisasi dan adaptasi.
Organisasi berupa kecakapan seseorang dalam menyusun proses fisik dan psikis dalam bentuk sistem yang koheren, sedangkan adaptasi adalah kemampuan seseorang dalam menyesuaikan dengan lingkungan. Adaptasi terdiri dari dua macam proses komplementer, yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses penggunaan struktur atau kemampuan individu untuk menghadapi masalah dalam lingkungannya, sedangkan akomodasi adalah proses prubahan respons individu terhadap stimulasi.
Jadi, perkembangan kognitif tergantung pada akomodasi. Oleh karena itu, siswa harus diberikan suatu areal yang belum diketahui, agar ia dapat belajar. Dengan adanya area baru ini siswa akan mengadakan usaha-usaha untuk dapat mengakomodasi. Situasi atau area itulah yang akan mempermudah perkembangan kognitif.

3. Teori Belajar Benyamin S. Bloom
Benyamin S. Bloom telah mengembangkan “taksonomi” untuk domain kognitif. Taksonomi adalah metode untuk membuat urutan pemikiran dari tahap dasar ke arah yang lebih tinggi dari kegiatan mental, dengan enam tahap sebagai berikut :
a. Pengetahuan ( Knowledge ) ialah kemapuan untuk menghafal, mengingat atau mengulangi informasi yang pernah diberikan. Contoh, Sebutkan lima bagian utama kamera 35 mm.
b. Pemahaman ( comprehension ) ialah kemampuan untuk menginterpretasi atau mengulang informasi dengan menggunakan bahasa sendiri. Contoh, Uraikan 6 tahapan dalam mengisi film untuk kamera 35 mm.
c. Aplikasi ( Application ) ialah kemampuan menggunakan informasi, teori, dan aturan pada situasi baru. Contoh, pilih ekspose 3 kamera untuk pengambilan gambar yang berbeda.
d. Analisis ( Analysis ) ialah kemampuan mengurai pemikiran yang kompleks, dan mengenai bagian-bagian serta hubungannya. Contoh, Bandingkan cara kerja dua kamera 35 mm yang memiliki model yang berbeda.
e. Sintesis ( Synthesis ) ialah kemampuan mengumpulkan komponen yang sama guna membentuk satu pola pemikiran yang baru. Contoh, Susunlah urutan fotografi untuk 6 objek.
f. Evaluasi ( evaluation ) ialah kemampuan membuat pemikiran berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Contoh, buatlah penilaian terhadap kualitas slide yang dihasilkan dalam lomba, dengan 4 urutan penilaian.


KESIMPULAN

Teori belajar psikologi kognitif memfokuskan perhatiannya kepada bagimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal.
Pandangan kognitif melihat belajar sebagai sesuatu yang aktif. Mereka berinisiatif mencari pengalaman untuk belajar, mencari informasi untuk menyelesaikan masalah, mengatur kembali, dan mengorganisasi apa yang telah mereka ketahui untuk mencapai pelajaran baru. Meskipun secara pasif dipengaruhi oleh lingkungan, orang akan aktif memilih, memutuskan, mempraktikkan, memperhatikan, mengabaikan, dan membuat banyak respons lain untuk mengejar tujuan.
Menurut Djaali ( 2007:67) fase-fase jalur belajar pengaturan kegiatan kognitif adalah :
1. Fase motivasi
2. Fase Konsentrasi
3. Fase pengolahan
4. Fase umpan balik.


DAFTAR PUSTAKA

Djaali. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara
Djiwandono,Sri Esti.2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Gramedia
Hadis, Abdul.2006. Psikologi dalam Pendidikan. Bandung : Alfabeta
Walgito, Bimo. 2004. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Andi Offset.

TURUNNYA AL-QUR’AN DENGAN TUJUH HURUF ( SABA’AH AHRUF )

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Satu hal yang tak pernah hilang dari ingatan, ialah Al-Qur’an selalu memberi inspirasi yang sangat luas, bagi para pemeluk ajaran Islam telah tertanam dalam hati sanubari mereka, Al-Qur’an adalah petunjuk yang nyata bagi manusi, untuk kesejahteraan di dunia dan akhirat, tetapi bagi para pengagumnya Al-Qur’an tidak hanya sekedar petunjuk dan pedoman hidup yang nyata, mereka diajak menyelam ke dalam lautan ilmu dan menikmati keindahannya yang tak pernah habis untuk dinikmati.
Kecintaan terhadap Al-Qur’an membawa semangat untuk berupaya secara seksama dan penuh keikhlasan. Sejak zaman dahulu pelestarian terhadap Al-Qur’an telah menumbuhkan semangat para sahabat untuk menuliskannya di pelepah kurma, tulang-tulang unta, kulit-kulit binatang, mereka berlomba mempelajari Al-Qur’an dan menghafalnya. Tidak heran bila akhirnya upaya itu semakin berkembang dan melahirkan berbagai ilmu pengetahuan tentang Al-Qur’an.
Di tangan para tabi’in, upaya-upaya sistematis dibangun untuk mempelajarinya, mulai dari kodifikasi, tata cara penulisan al-Qur’an dan juga turunnya Al-Qur’an dengan tujuh huruf. Ditinjau dari berbagai segi Al-Qur’an membuat manusia semakin dipacu untuk terus mendalami dan menyelami kedalaman makna yang tersurat dan tersirat darinya.
Menelusuri dan menelaah sejarah dari sahabat sampai saat ini tentang berbagai upaya manusia terhadap Al-Qur’an dapat saya katakan terdiri dari tiga jenis; pertama, adalah upaya manusia melestarikan dan menjaga Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman. Kedua, upaya manusia mempelajari Al-Qur’an untuk kepentingan ilmiah. Ketiga, upaya manusia mempelajari Al-Qur’an untuk mengurangi, mengaburkan mukjizat Al-Qur’an dan mengingkarinya.
BAB II
MASALAH

1. Apa dalil-dalil turunnya Al-Qur’an dengan Tujuh Huruf ?
2. Apa hikmah turunnya Al-Qur’an dengan Tujuh Huruf ?
3. Apakah Tujuh Huruf itu ada dalam mushhaf-mushhaf sekarang ?
4. Adakah Perbedaan Pendapat tentang pengertian Tujuh Huruf ?


BAB III
PEMBAHASAN

1. Dalil-dalil Turunnya Al-Qur’an
1. Imam Bukhari dan Imam Muslim
Dalam shahihnya meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas r.a. bahwa ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Jibril membacakan Al-Qur'an kepadaku dengan satu hurut kemudian aku mengulanginya. (Setelah itu) senantiasa aku meminta tambah dan iapun menambahiku sampai dengan tujuh huruf". Imam Muslim menambahkan: "Ibnu Syihab mengatakan: Telah sampai berita padaku bahwa tujuh huruf itu untuk perkara yang satu yang tidak diselisihkan halal haramnya".
2. Imam Bukhari
Meriwayatkan yang lafazhnya dari Bukhari bahwa; Umar bin Khattab berkata: "Aku mendengar Hisyam bin Hakim membaca surat Al-Furqan di masa hidupya Rasulullah SAW, aku mendengar bacaannya, tiba-tiba ia membacanya dengan beberapa huruf yang belum pernah Rasulullah SAW membacakannya kepadaku sehingga aku hampir beranjak dari shalat, kemudian aku menunggunya sampai salam. Setelah ia salam aku menarik sorbannya dan bertanya: "Siapa yang membacakan surat ini kepadamu?". Ia menjawab: "Rasulullah SAW yang membacakannya kepadaku", aku menyela: "Dusta kau, Demi Allah sesungguhnya Rasulullah SAW telah membacakan surat yang telah kudengar dari yang kau baca ini".
Setelah itu aku pergi membawa dia menghadap Rasulullah SAW lalu aku bertanya: "Wahai Rasulullah aku telah mendengar lelaki ini, ia membaca surat Al-Furqan dengan beberapa huruf yang belum pernah engkau bacakan kepadaku, sedangkan engkau sendiri telah membacakan surat Al-Furqan ini kepadaku". Rasulullah SAW menjawab: "Hai Umar! lepaskan dia. "Bacalah Hisyam!". Kemudian ia membacakan bacaan yang tadi aku dengar ketika ia membacanya. Rasululllah SAW bersabda: "Begitulah surat itu diturunkan" sambil menyambung sabdanya: "Bahwa Al-Qur'an ini diturunkan atas tujuh huruf maka bacalah yang paling mudah!".
Dalam satu riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW mendengarkan pula bacaan sahabat Umar r.a. kemudian beliau bersabda: "Begitulah bacaan itu diturunkan".
3. Imam Muslim
Meriwayatkan dengan sanadnya dari Ubay Bin Ka'ab ia berkata: "Aku berada di masjid, tiba-tiba masuklah lelaki, ia shalat kemudian membaca bacaan yang aku ingkari. Setelah itu masuk lagi lelaki lain membaca berbeda dengan bacaan kawannya yang pertama". Setelah kami selesai shalat, kami bersama-sama masuk ke rumah Rasulullah SAW, lalu aku bercerita: "Bahwa si lelaki ini membaca bacaan yang aku ingkari dan kawannya ini membaca berbeda dengan bacaan kawannya yang pertama". Akhirnya Rasulullah SAW memerintahkan keduanya untuk membaca.
Setelah mereka membaca Rasulullah SAW menganggap baik bacaannya. Setelah menyaksikan hal itu, terhapuslah dalam diriku sikap untuk mendustakan, tidak seperti halnya diriku ketika masa Jahiliyyah. Nabi menjawab demikian tatkala beliau melihat diriku bersimbah peluh karena kebingungan, ketika itu keadaan kami seolah-olah berkelompok-kelompok di hadapan Allah Yang Maha Agung.
Setelah saya melihat dalam keadaan demikian, beliau menegaskan pada diriku dan berkata: "Hai Ubay! Aku diutus untuk membaca Qur'an dengan suatu huruf lahjah (dialek)", kemudian aku meminta pada Jibril untuk memudahkan umatku, dia membacakannya dengan huruf kedua, akupun meminta lagi padanya untuk memudahkan umatku, lalu ia menjawab untuk ketiga kalinya. "Hai Muhammad, bacalah Qur'an dalam 7 lahjah dan terserah padamu Muhammad apakah setiap jawabanku kau susul dengan pertanyaan permintaan lagi".
Kemudian aku menjawabnya: "Wahai Allah! Ampunilah umatku, ampunilah umatku dan akan kutangguhkan yang ketiga kalinya pada saat dimana semua makhluk mencintaiku sehingga Nabi Ibrahim as". Imam Qurthubi berkata: "Denyutan hati ini (dalam jiwa Ubay) akibat dari sabda Rasulullah SAW ketika orang-orang bertanya kepadanya: "Bahwasanya kami mendapatkan sesuatu dalam diri kami, dimana seseorang merasa berat sekali untuk mengatakannya". Rasulullah SAW bertanya: "Apakah sudah kalian temui jawabannya?". "Ya" jawab mereka. Rasulullah SAW bersabda: "Itu adalah iman yang jelas". (HR. Muslim)
4. Al-Hafizh Abu Ya'la
Dalam musnad kabirnya meriwayatkan: "Bahwa Utsman r.a. pada suatu hari ia berkata di atas mimbar: "Aku sebut nama Allah teringat seorang lelaki yang mendengar Rasulullah SAW bersabda: bahwa Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf yang kesemuanya tegas lagi sempurna". Ketika Umar berdiri para hadirin berkata: "Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf yang kesemuanya tegas dan lengkap". Kemudian Utsman r.a. berkata: "Saya menyaksikannya bersama mereka".

5. Imam Muslim
Dengan sanad dari Ubay bin Ka'ab meriwayatkan bahwa Nabi SAW ketika berada di Oase Bani Ghaffar didatangi malaikat Jibril a.s. lalu Jibril berkata: "Sesungguhnya Allah SWT telah memerintah engkau unfuk membacakan Al-Qur'an kepada ummatmu dengan satu huruf". Nabi menjawab: "Aku meminta dulu kepada Allah sehat dan ampunannya, sebab ummatku tidak mampu menjalankan perintah itu".
Kemudian Jibril datang untuk kedua kalinya, seraya berkata: "Allah SWT telah memerintahkan kau untuk membacakan Al-Qur'an dengan dua huruf". Nabi menjawab: "Aku meminta sehat dan ampunan dulu kepada Allah, karena ummatku tidak kuat menjalankannya".
Jibril datang lagi untuk ketiga kalinya dan berkata: "Allah SWT telah memerintahkan kau untuk membacakan Al-Qur'an kepada ummatmu dengan tiga huruf. Nabi menjawab: "Aku minta sehat dan maghfirah dulu kepada Allah, sebab ummatku tidak sanggup mengerjakannya".
Jibril datang lagi untuk keempat kalinya seraya berkata: "Kau telah diperintahkan Allah untuk membacakan Al-Qur'an kepada ummatmu dengan tujuh huruf dan huruf mana saja yang mereka baca berarti benar".
6. At-Turmudzy
Juga meriwayatkan dari Ubay bin Ka'ab, ia mengatakan: "Rasulullah SAW berjumpa dengan Jibril di gundukan Marwah". Ia (Ka'ab) berkata: "Kemudian Rasul berkata kepada Jibril bahwa aku ini diutus untuk ummat yang ummy (tidak bisa menulis dan membaca). Diantaranya ada yang kakek-kakek tua, nenek-nenek bangka dan anak-anak". Jibril menjawab: "Perintahkan, membaca Al-Qur'an dengan tujuh huruf". Imam Turmudzy mengatakan: "Hadits ini hasan lagi shahih".
Dalam suatu lafazh lain disebutkan: "Barangsiapa membacanya dengan satu huruf saja berarti telah membaca seperti ia (Nabi) membaca".
Dituturkan dalam lafazh Hudzaefah, kemudian aku berkata: "Wahai Jibril bahwa aku diutus untuk ummat yang ummiyah di dalamnya terdapat orang lelaki, perempuan, anak-anak, pelayan (babu) dan kakek tua yang tidak bisa membaca sama sekali". Jibril balik berkata: "Bahwa Al-Qur'an diturunkan dengan tujuh huruf".
7. Imam Ahmad
Mengeluarkan hadits dengan sanadnya dari Abi Qais maula 'Amar bin 'Ash dari 'Amr, "Bahwa ada seseorang ini berdiri sehingga tidak terang membaca satu ayat Al-Qur'an". Kemudian 'Amr berkata kepadanya: "Sebenarnya ayat itu begini dan begini". Setelah itu ia mengatakan hal itu kepada Rasulullah SAW, Rasulullah SAW menjawab: "Sesungguhnya Al-Qur'an itu diturunkan dengan tujuh huruf, mana saja yang kalian baca berarti benar dan jangan kalian saling meragukan".
8. Ath-Thabary dan Ath-Thabrany
Meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Ia berkata: "Ada seseorang datang kepada Rasulullah SAW, lalu berkata: "Ibnu Mas'ud telah membacakan sebuah surat kepadaku seperti yang telah dibacakan oleh Zaid bin Tsabit dan membacakan pula kepadaku Ubay bin Ka'ab. Ternyata bacaan mereka berbeda-beda. Maka bacaan siapa yang saya ambil?". Rasulullah SAW terdiam, sedangkan shahabat 'Ali berada di sampingnya, kemudian 'Ali berkata: "Setiap orang diantara kalian hendaklah membaca menurut pengetahuannya, karena kesemuanya baik lagi indah".
9. Ibnu Jarir Ath-Thabary
Mengeluarkan hadits dari Abi Hurairah, bahwa ia berkata: "Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Al-Qur'an ini diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah semampunya dan tidak berdosa. Tetapi jangan sekali-kali mengakhiri dzikir rahmat dengan adzab atas dzikir 'adzab dengan rahmat".

2. Hikmah Turunnya Al-Qur’an dengan Tujuh Huruf

a. Mempermudah ummat Islam khususnya bangsa Arab yang dituruni Al-Qur'an sedangkan mereka memiliki beberapa dialeks (lahjah) meskipun mereka bisa disatukan oleh sifat ke-Arabannya. Kami ambil hikmah ini dengan alasan sabda Rasulullah SAW: "Agar mempermudah ummatku, bahwa ummatku tidak mampu melaksanakannya", dan lain-lain.
b. Seorang ahli tahqiq Ibnu Jazary berkata: "Adapun sebabnya Al-Qur'an didatangkan dengan tujuh huruf, tujuannya adalah untuk memberikan keringanan kepada ummat, serta memberikan kemudahan sebagai bukti kemuliaan, keluasan, rahmat dan spesialisasi yang diberikan kepada ummat utama disamping untuk memenuhi tujuan Nabinya sebagai makhluk yang paling utama dan kekasih Allah".
c. Dimana Jibril datang kepadanya sambil berkata: "Bahwa Allah telah memerintahkan kamu untuk membacakan Al-Qur'an kepada ummatmu dengan satu huruf". Kemudian Nabi SAW menjawab: "Saya akan minta 'afiyah (kesehatan) dan pertolongan dulu kepada Allah karena ummatku tidak mampu". Beliau terus mengulang-ulang pertanyaan sampai dengan tujuh huruf.
d. Menyatukan ummat Islam dalam satu bahasa yang disatukan dengan bahasa Quraisy yang tersusun dari berbagai bahasa pilihan dikalangan suku-suku bangsa Arab yang berkunjung ke Makkah pada musim haji dan lainnya.

3. Tujuh Huruf itu ada dalam mushhaf-mushhaf sekarang

1. Sekelompok fukaha’, qurra’dan ulama mutakallimin, mereka menyatakan bahwa semua huruf itu ada pada mushhaf Utsmaniyah. Alasan mereka :
a. Tidak diperbolehkan bagi umat ini untuk menyia-nyiakan atau membuang begitu saja sebagian dari beberapa huruf itu.
b. Sesungguhnya para sahabat telah sepakat bahwa mushhaf yang dinuqil Utsman itu adalah huruf yang dituliskan oleh Abu Bakar r.a.
c. Sabda Nabi SAW.: “Sesungguhnya umatku tidak mampu akan demikian”, tidaklah dimaksudkan hanya pada masa sahabat saja, sedangkan kemudahan Al-Qur’an itu bersamaan dengan tetapnya kemukjizatannya.
2. Jumhurul ulama khalaf maupun salaf serta imam-imam kaum muslimin telah memilih bahwa mushhaf-mushhaf Utsmaniyyah memuat ahruf as-saba’ah yang terkandung dalam tulisannya saja serta mengumpulkan pemberian akhir yang permohonannya diajukan oleh Nabi SAW kepada Jibril.
3. Ibnu Jarir Ath-Thabari dan pengikutnya berpendapat bahwa mushhaf-mushhaf Utsmaniyyah hanya memuat satu huruf saja dari ahruf as-saba’ah. Mereka mengatakan ahruf as-saba’ah ada pada masa Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar. Akan tetapi keika pada masa Utsman para Imam berpendapat agar mencukupkan pada satu huruf saja untuk menyatukan kalimaul Muslimin. Dan dengan huruf yang satu itulah Utsman menulis semua mushhafnya.
Az-Zarqani berkata dalam kitabnya manahilul Irfan, halaman 662 yang redaksinya sebagai berikut : “Manakala kita menilik kembali “wajah-wajah tujuh” itu pada mushhaf-mushhaf Utsmaniyyah dan apa yang telah tertulis, kita akan menemukan kebenaran yang tidak bisa lagi dibantah. Yaitu bahwa sesungguhnya mushhaf-mushhaf Utsmaniyyah itu memuat ahruf as-saba’ah (tujuh huruf) seluruhnya. Dalam arti, bahwa tiap-tiap satu dari mushhaf-mushhaf itu memuat penulisan yang sesuai dengan huruf-hurufnya secara keseluruhan maupun sebagian, tidak mengubah dalam pengumpulannya dari salah satu hurufnya”.
Syekh Az-Zarqani telah menerangkan bahwa menurut mazhab yang terpilih “wajah-wajah tujuh” itu sampai kini masih ada dalam mushhaf-mushhaf Utsmaniyyah.
Berikut ini contoh, hanya saja sebagian wajah-wajah tujuh itu dikatakan telah dinaskh ”pemberian” yang terakhir.Firman Allah :
     
Disitu lafal al-amaanata, dibaca dalam bentuk jamak atau dibaca mufrad, akan tetapi dalam mushhaf Utsmaniyyah lafal itu ditulis li-amaanatihim, yang hurufnya ditulis mufrad, namun diatasnya terdapat alif kecil untuk mengisyaratkan bacaan jamak, dengan tanpa diberi harakat. ( Manahilul Irfan,hal. 162).

4. Perbedaan Pendapat tentang pengertian Tujuh Huruf

a. Ada segolongan orang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf ialah bahasa Arab itu terdiri dari tujuh bahasa yang digabung menjadi satu, yaitu bahasa Hazil, Tsaqif, Hawazin, Kinanah, Tamim dan Yamana.
b. Sebagian orang berpendapat bahwa pengertian tujuh huruf ialah bentuknya yang tujuh. Yaitu, amar, nahi, halal, haram, muhkam, mutasyabih dan amtsal. Hadits dari Ibnu Mas’ud RA kata nabi SAW. Kitab yang pertama kali diturunkan satu bab atas satu huruf. Al-Qur’an itu tujuh Bab atas tujuh huruf. Zajar, amar, halal, haram, muhkam, mutasyabih dan amtsal.
c. Adapula segolongan orang yang mengatakan bahwa pengertian tujuh huruf yaitu bentuknya itu yang tujuh kali berubah, yang jatuhnya itu berbeda-beda.
1. Perbedaan nama-nama dalam mufrad , mudzakar dan cabang-cabangnya. Seperti firman Allah ‘Azza wa jalla dalam surat Al-Mukminun ayat : 8, kalimat amaanatihim () kadang dibaca jamak, kadang pula dibaca mufrad
2. Perbedaan dalam tashrif fi’il, ada yang madhi, mudhari’ dan amar. Misalnya dalam firman Allah ‘Azza wa jalla (As-Saba’ : 19 ), lafal rabbana () kadang dibaca nashab sebagai munada dan lafal baa’id sebagai fi’il amar. Namun kadang juga dibaca rabbunaa ba’ada, lafal rabbun dibaca rafa’ dan lafal ba’ada sebagai fi’il madhi ditasydid ‘ainnya, dan jumlahnya sebagai khabar.
3. Perbedaan dalam ibdal (penggantian), baik penggantian suatu huruf dengan huruf lain seperti dalam firman Allah surat Al-Baqarah : 259. Lafal kaifa nunsyizuhaa(كَيْفَ ئُنْشِزُهَا ) kadang dibaca dengan za dan kadang pula dibaca dengan ra beserta fathah nunnya. Dan firman Allah dala surat Al-Waqi’ah : 29, lafal wa thalhin mandhuudin ( وَطَلْحٍ مَنْضُوْدٍ ) kadang dibaca dengan wa thal’in ( وَطَلْعٍ ) , sehingga disini tidak ada perbedaan antara isim dan fi’il. Atau penggantian lafal dengan lafal lain. Seperti firman Allah dalam surat Al-Qari’ah : 5, lafal kal’ihnilmanfuusy (كَالْعِهَنِ اَلمَنفوس )
4. perbedaan dalam taqdim dan ta’khir ( mendahulukan dan mengakhirkan ) yang adakalanya dalam huruf, seperti firman Allah dalam surat Qaf : 19, wajaa-at sakaratul haqqi bilhaqqi (وَجَاعَتْ سَكَرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقً ), dibaca wajaa-at sakaratul haqqi bil mauti.
5. Perbedaan segi I’rab. Seperti firman Allah dalam surat Yusuf : 31, maa haadzaa basyaran ( ماَهَذاَ بَشَرًأ). Juga dalam surat Al-Buruj : 15, dzuul ‘’arsyil majiidu (ذُواْلعَرْشِ الْمَجِيْدُ ) dibaca rafa’ sebagai na’at dari lafal dzuu, namun kadang juga dibaca jer “al-majiidi” sebagai sifat dari lafal al-‘arsy.
6. Perbedaan dalam ziadah dan naqash ( menambah dan mengurangi ). Seperti dalam firman Allah dalam surat Al-Lail: 3, wamaa khalaqadz dzakara wal untsaa ( وَمَاخَلَقَ الذًكرَ وَاْلأَنْشَى ) dibaca wadz dzakara wal untsaa dengan membuang maa khalaqa.
7. Perbedaan lahjah ( dialek ) dengan tafkhim, tarqiq, imalah, izhar, idghom. Perbedaan seperti ini sangat banyak. Misalnya lafal Musa dalam firman Allah dalam surat Thaha: hal ataaka hadiitsu muusaa kadang dibaca imalah, tetapi boleh juga tidak.
d. Tujuh Huruf adalah wajah-wajah lafal yang berbeda dalam kalimat dan makna yang sama. Contoh: Lafal halumma, aqbil, ta’al, ‘ajal, isra’, qasdhi dan nahwi. Tujuh lafal itu maknanya sama, yaitu minta agar menghadap.
Pendapat ini juga dianggap benar oleh kebanyakan ulama fiqh dan hadits,antara lain Ibnu Jarir Ath-Thahawi serta ulama lain.

KESIMPULAN

Dari penjelasan diatas dapat saya simpulkan bahwa pengertian tujuh huruf adalah bahasa dari bahasa-bahasa Arab tentang satu arti. Dengan pengertian bahwa terjadinya perbedaan bahasa Arab dalam menta’birkan arti-arti yang terdapat dalam Al-Qur’an dengan lafazh-lafazh menurut ukuran bahasa ini bagi satu arti.
Keberadaan ahruf as-saba’ah ( tujuh huruf ) sesungguhnya merupakan rahmat maupun kelonggaran dari Allah untuk umat ini. Hikmahnya sendiri yaitu, memudahkan bacaan dan hafalan, bukti kemukjizatan Qur’an bagi naluri atau watak dasar kebahasaan orang Arab, kemukjizatan Qur’an dalam aspek makna dan hukum-hukumnya.
Bangsa Arab mempunyai aneka ragam dialek (lahjah) yang timbul dari fitrah mereka. Setiap suku mempunyai format dialek yang tipikal dan berbeda dengan suku-suku lain. Perbedaan dialek itu tentunya sesuai dengan letak geografis dan sosio-kultural dari masing-masing suku. Namun demikian, mereka telah menjadikan bahasa Quraish sebagai bahasa bersama (common language) dalam berkomunikasi, berniaga, mengunjungi ka’bah, dan melakukan bentuk-bentuk interaksi lainnya. Dari keyataan diatas, sebenarnya kita dapat memahami alasan al-Qur’an diturunkan dengan menggunakan bahasa Quraisy
Bahasa Rasul adalah bahasa Arab, karena itulah Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Wahyu diturunkan kepada Rasul dengan makna dan lafalnya, maka makna dan lafalnya adalah ciptaan Allah, Rasul mengucapkannya dengan bahasa dari Allah, dan menyampaikannya kepada manusia sebagaimana Allah menyampaikannya kepada Rasul, beliau melukiskannya sebagimana terlukis dalam fikiran dan hafalan, dan megucapkannya sebagaimana disampaikan oleh Allah, Allah mewahyukannya dan Rasul menerima seluruhnya dengan murni, Allah memancarkan wahyu dan menciptakan penjagaannya, maka pengucapan wahyu harus tunduk kepada Allah.



DAFTAR PUSTAKA

Hamid, Shalahuddin.2002. Ulumul Qur’an. Intimedia Ciptanusa. Jakarta.
Manna Khalil- Al, Qattan. 1996. Studi Ilmu Al-Qur’an. Litera Antarnusa. Jakarta
Ash-Shabuni, Syekh Muhammad Ali. 2001. Ikhtisar Ulumul Qur’an Praktis. Pustaka Amani.
Quthan, Mana’ul. 1993. Pembahasan Ilmu Al-Qur’an. Rineka Cipta. Jakarta
Al-Ibyariy, Ibrahim. 1988. Pengenalan Sejarah Al-Qur’an. Rajawali Pers. Jakarta.
http://nulibya.wordpress.com
http://www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/3/1/pustaka-42.html