Halaman

Assalamu'alaikum, have barokah day ;)

Sabtu, 01 November 2014

Tips Wanita Cantik Menawan Sesuai Sunnah Rasul


Sungguh, tidak diragukan lagi bahwa setiap wanita selalu merindukan agar dapat tampil cantik, memiliki performa, berpenampilan segar dan terbebas dari aib fisik atau masalah kesehatan lainnya. Sebenarnya sejak lama baginda Rasul mengajarkan bimbingan dan arahan seputar kecantikan wanita. Beliau menjelaskan secara terperinci dan detail, tentu dengan kata-kata yang lugas dan simpel namun sarat makna. Berikut ini nasihat-nasihat Rasulullah dan para sahabatnya agar wanita tampil cantik dan menawan...

1. Kebugaran

Makan dan minum seorang muslimah tidak sebatas aktifitas memuaskan nafsu, menghilangkan lapar dan dahaga semata. Karenanya, seorang muslim apabila tidak lapar dia tidak makan dan apabila tidak haus, dia tidak minum. Hal ini seperti yang diriwayatkan dari seorang sahabat,
"Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan berhenti makan sebelum kenyang
Siapapun orangnya pasti ingin tampil prima. Selain tonjolan lemak di sekitar perut bisa lebih rata dari biasanya, seorang muslimah dianjurkan memiliki berat badan yang ideal dan tentu saja sehat.

2. Kesegaran Kulit dan Menunda Penuaan

Kulit adalah cerminan jiwa setiap insan. Hampir 90% iklan kecantikan berujung pada kecantikan kulit. Ada orang yang usia muda namun tampak tua, karena kulitnya tidak bercahaya. Demikian sebaliknya, ada yang sudah usia lanjut namun ternyata ia tetap memancarkan aura. Di antara menjaga kesegaran kulit dan sekaligus menunda penuaan adalah dengan mengkonsumsi tujuh biji kurma ajwah yang dihasilkan di kota Madinah di waktu pagi.
"Barang siapa yang setiap pagi hari makan tujuh biji buah kurma ajwa, niscaya pada hari itu ia tidak akan terganggu oleh racun atau sihir". (Muttafaq 'Alaih)

"Barang siapa pada pagi hari makan tujuh biji kurma yang dihasilkan di antara kedua hamparan Madinah, niscaya ia tidak akan terganggu oleh racun hingga sore hari". (HR. Muslim)

3. Menjaga kesegaran Kulit dan Rambut

Rasulullah saw bersabda:
"Makanlah minyak zaitun, dan olesi tubuh dengannya. Sebab ia berasal dari tumbuhan yang penuh berkah". (Hadits hasan)

4. Memperindah Mata dan Memperpanjang Bulu Mata

Rasul bersabda,
"Bercelaklah kalian dengan itsmid, karena dia bisa mencerahkan mata dan menumbuhkan rambut". (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

"Bercelaklah memakai itsmid ketika hendak tidur, karena ia dapat mencerahkan pandangan dan menumbuhkan rambut". (HR. Ibnu Majah)

Lembayung, menatap Qur'an hijauku...begitu banyak ilmu di dalamnya, betapa dimuliakannya wanita dalam Islam

Minggu, 26 Oktober 2014

Karena Roda Akan terus Berputar

Karena roda akan terus berputar…
Ya, kehidupan kita akan terus berputar seperti roda. Yang kita semua tahu bahwa perputaran roda akan membuat keadaan kita tidak selamanya sama. Kadang di atas, kadang menggelinding di bawah. Kadang menyenangkan, kadang menyedihkan. Itulah kehidupan…

Karena roda akan terus berputar…
Wal asr.. Demi masa…sesungguhnya manusia itu kerugian kecuali mereka yang beriman dan beramal sholeh…

Sungguh, kalimat Allah adalah pedoman kehidupan. Hanya saja tidak sedikit di antara kita yang terlalu sombong untuk dinasihati oleh Tuhan-nya. Demi masa, waktu kita terlalu berharga jika hanya kita lewati tanpa makna. Waktu kita tidaklah banyak jika hanya kita habiskan dengan terpuruk kala roda berada di bawah. Maka, sebelum datang masa sempitmu manfaatkanlah masa lapangmu. Sebelum datang masa tuamu, berfastabiqul khairat-lah di masa mudamu. Sebelum datang masa fakirmu, gunakanlah kekayaanmu. Sebelum datang masa sakitmu, berkarya terbaiklah di masa sehatmu. Sebelum datang Izra’il menjemputmu, carilah ridha-Nya di masa-masa hidup di dunia.

Karena roda akan terus berputar, kita harus memanfaatkan waktu yang masih diberikan kepada kita dengan sebaik-baiknya. Kita tidak akan bisa memutar kembali waktu yang telah terlewat, dan kita tidak akan pernah bisa menunda kematian yang akan datang menjemput kita. Tidak ada alasan apapun untuk kita menunda-nunda kebaikan, hidup akan terus berjalan. Yaaaa, roda yang akan terus berputar…dengan atau tanpa kita yang melakoni dan memanfaatkannya.

Karena roda akan terus berputar…
1436 H sudah datang, terasa ada sesal ketika menoleh 1435 H. Terlalu sombong diri ini dengan pemberian waktu dari-Nya, amanah yang mungkin lebih banyak dihabiskan untuk bersantai dan menunda kebaikan. Maka Ya Tuhan kami, kami sambut momen indah ini…Sebelum penyesalan menghampiri, marilah bersama-sama bergerak menjadi pribadi yang lebih baik. Lebih baik dalam memanfaatkan waktu dan lebih baik dalam menanti kematian.

Happy Islamic New Year…1436 H

Mulak Ulu, tiba-tiba ingin menulis saat melihat roda yang terus berputar pada kendaraan yang terus melaju… :D


Rabu, 22 Oktober 2014

Titip Rindu Untuk Ayah

Ayah...
Menggenang air mataku mengingatmu
Mengkhayal hidup indah bersamamu
Kucari-cari apa yang bisa kuingat
Kukumpulkan apa yang bisa kupungut
Berharap ada kenangan yang terserak

Rindu, sungguh rindu yang tak terkatakan
Rindu yang tak bisa diekspresikan
Rindu yang berharap ada balasan...

Titip rindu untuk ayah
Duhai Pemilik Angin, Pemilik Malam...


Lembayung, tiba-tiba rinduku membuncah untuknya...

Selasa, 23 September 2014

I'm a Teacher

Tiba-tiba mau nulis setelah login di http://PADAMU.SIAP.WEB.ID hehe...

Beberapa hari ini berita di media begitu menghebohkan dunia persilatan guru, pasalnya ada pekerjaan rumah yang "dikerjakan" seorang kakak untuk adiknya disalahkan oleh sang guru. Hmm, tak ingin membahasnya kembali, karena di FB sudah kukeluarkan semua apa yang ingin kukeluarkan setelah membaca begitu banyak komentar-komentar yang sangat tidak menghargai profesi seorang guru...Grrrrrrrrrr, aku marah. Aku marah lho... Hihi #Ups

Oh ya, perkenalkan...aku ini seorang guru...kenapa aku jatuh ke lembah pendidikan? Entahlah, aku juga tidak tau. Hanya kelas 6 SD ketika ditanya cita-citaku ingin menjadi seorang guru. Setelah itu, aku sangat tidak menginginkan berkecimpung dalam pendidikan (Guru, red.)

Dulu kelas 6 SD aku sangat ingin menjadi seorang guru, seperti salah satu guru yang mengajariku. Yaaa, aku ingin seperti beliau yang kata-katanya dalam mengajar akan selalu dikenang oleh muridnya. Tapi hanya saat itu saja memiliki keinginan menjadi seorang guru. Karena pada sekolah selanjutnya, aku dikenal sebagai orang yang pendiam, yang bisa dikatakan sangat tidak cocok menjadi guru. Karenanya, keinginan itu dipendam...namun akhirnya, taqdir membawaku pada cita-cita semasa kelas 6 SD.

Dan sekarang aku berpikir, inilah cita-cita pertamaku. Maka aku harus bertanggung jawab atas amanah yang telah Allah taqdirkan. Yaaa...yaaaa, I'm a teacher...wanna be great teacher...aku ingin menjadi guru yang kata-katanya akan terkenang sampai kapanpun oleh muridnya. (Padahal aku suka marah-marah, hahaha...hihi) Gak lah, cuma sesekali kok... :D

Menjadi seorang guru, sungguh bukan pekerjaan yang mudah dan tidak semua orang bisa mengajar. Perlu kesabaran extra, yang dihadapi itu anak manusia dan orang tuanya, mereka itu makhluk hidup, bernyawa ( Yaaa iyalah...) jadi, sedikit saja sikap/kata/kebijakan sang guru yang tidak berkenan di hati mereka, harus dihadapi dengan bijak dan sabar...(walau pengen melotot ke mereka...hihi). Seperti halnya kejadian yang heboh tadi, itu hanya salah satu contoh yang hartus dihadapi. Masih banyak lagi...karena memang guru itu menghadapi makhluk yang bernyawa...


Finally, hari-hari slalu kunikmati dan berusaha menjadi guru yang baik, inilah jalanku...aku harus BERTANGGUNG JAWAB.Tantangan itu pasti ada dan akan slalu ada...


Ini teman yang iseng fhoto lalu dikirim ke aku. haha, pengen ketawa kalo ingat waktu itu...

Kost, depan sekolah...
Salam padamu negeri,

Sembilan Juli

Rabu, 06 November 2013

Makna Hijrah

1 Muharram 1435 di Lahat, diisi Tabligh Akbar oleh Ustadz Bukhori Yusuf bertempat di Islamic Center Masjid Muttaqin. Ustadz kelahiran Jepara yang memilih istri asal Palembang ini merupakan anggota DPR RI Komisi III FPKS periode 2009-2014 dan akan dicalonkan kembali untuk periode selanjutnya dengan Dapil yang sama yaitu Dapil Sumsel II meliputi OI, OU, OKI, OKU, OKUT, OKUS, Prabumulih, Muara Enim, Pali, Lahat, Pagar Alam dan Empat Lawang, menyampaikan taujih Makna Hijrah. Berikut taujih yang sempat tercatat olehku, begitu menyemangati…

Makna Hijrah :
1. Hijrah adalah BERPINDAH. Seperti berpindahnya Rasulullah dari kota Mekkah menuju ke kota Madinah.
2. Hijrah adalah MENINGGALKAN kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik. Meninggalkan perilaku maksiat kepada ibadah.
3. Hijrah adalah PERUBAHAN (QS. Ar-Rad:11) Perubahan diri kita menjadi lebih baik, bukan fisik, bukan jabatan, bukan gaji, tetapi kedalaman dan keluasan hati. Hati yang bisa merefleksikan perintah-perintah Allah. Hati yang sehat seperti cermin yang memantulkan sinar terang.
4. Hijrah adalah TUMBUH dan BERKEMBANG agar bermashlahat terhadap sesama. Ibarat pohon besar yang tumbuh, akarnya menghujam kuat, cabang dan batangnya besar kokoh, daunnya rindang dan buahnya bisa dinikmati.

“SUDAHKAH KITA SEBAGAI UMAT ISLAM, SEBAGAI KADER DAKWAH MENJADI SEPERTI POHON YANG BESAR???”

Momentum hijrah bukan hanya berpindah tetapi harus berani mengubah budaya bangsa yang terjajah kebudayaan buruk.


Lahat, 1 Muharam 1435 H...
Salam Perubahan,
Sembilan Juli

Kamis, 17 Oktober 2013

My Journey ( 8 - 12 Oktober 2013)

Mendarat di daerah istimewa Jogja sekitar pukul 15:25, kuhirup udara sepuasnya, kubuka telinga dan kunikmati bahasa yang masih asing di telinga. Aku suka lemah lembut tutur kata mereka, terasa berbeda. Berjalan menikmati senja, menyaksikan mentari yang siap tenggelam tergantikan rembulan di tempat wisata Candi Ratu Boko. Luar biasa indah ciptaan Allah, hanya tasbih yang lirih tergumam tiap kaki menapak menaiki area wisata, puncak yang menawan dengan sunset yang menghias senja. Ingin rasanya bermain layang-layang di sana…
Malam telah datang, aku kembali menikmati keindahan daerah istimewa ini. Bertemu teman yang akan menampungku selama di Jogja, janji bertemu di depan Kantor Pos, Nol Kilometer. Menghabiskan separuh malam dengan berjalan-jalan di Malioboro dan foto-foto di depan Tugu Supersemar. Larut semakin menelan malam, dari Nol Kilometer dibonceng motor menuju Bantul. Perjalanan malam yang menyenangkan.

Pagi hari, pagi-pagi sekali untuk ukuran Palembang dan sekitarnya. Aku dan temanku pergi ke Pantai Parangtritis. Tempat yang aku sukai, biru langit dan biru laut bertemu, debur ombak yang menelan teriakanku, pepasir yang bersih tempat berlari tanpa takut ada yang menertawakan. Aku suka, sungguh aku suka…ya, kuluapkan semuanya di sana.

Siang di terminal Jombor, bersiap melaju ke Kudus bersama Bus Nusantara, kunikmati tiap pemandangan yang sempat kusaksikan selama perjalanan dari balik jendela bus. Tiba di Kudus, hari telah berganti malam. Makan malam dengan 1 porsi Soto di pinggir jalan, begitu lahapnya. Entah apa karena lapar atau karena sotonya enak, atau juga karena tenang oleh tulisan halal dan lantunan murottal di tempat tersebut. Rekor MURI, baru malam itu aku makan habis 1 porsi… hihi

Perjalanan kembali dilanjutkan, menunggu bus menuju Pati. Bus yang begitu sesak oleh penumpang, berdiri dan berdesakan. Hwwuuuuaaahhh, ini benar-benar bocah petualang. Ketika berdiri, ada seorang bapak yang bertanya padaku dalam bahasa Jawa. Bisa dibayangkan bagaimana muka bingungku dengan bahasa itu. Hihi…roaming. Harusnya, persiapan penting ketika akan ke jawa adalah setidaknya mengerti apa yang orang lain ucapkan meski tidak bisa menjawab pertanyaan mereka dalam bahasa jawa…noted!

Hampir tengah malam, tiba di tujuan utama bepergian yaitu Pati. Tempat soulmate menikah esok paginya. Melepas rindu dan bercengkrama hingga hampir dini hari pada sang calon pengantin. Aahhh, aku merasa kehilangan dia.

Pagi tiba, disibukkan dengan rutinitas pagi masing-masing. Dan aku sendiri tertarik bersepeda onthel keliling sekitar, sebelum akad dimulai. Ada sebuah rasa ingin mengumumkan pada orang yang ditemui dijalan, bahwa aku orang Sumateraaaaaaaaa…. ^___^

Waktu indah itu pun tiba, akad suci pun terjalin. Erat dan kuat, mitaqan ghalizan…betapa bahagianya aku saat itu melihat wajah bahagianya. Barakallahulakuma wa barakah alaikuma wajama’ah bainakuma fi khair…tidak ada yang tahu, ada gerimis di mataku saat itu.

Siang menjelang, dan aku harus berpisah dengannya. Hampir tak bisa kulepas pelukanku padanya, sungguh aku masih sangat rindu. Siang itu pun, aku langsung pergi menuju Solo. Menginap di rumah teman yang ada di Sukoharjo.

Sebuah pagi di Sukoharjo, dingin menyegarkan. Bersiap jalan ke pegunungan, Keteb Pass. Ada Merapi dan Merbabu di sana, menakjubkan. Cinta pun menawanku di sana, aku suka tempat itu…pendakian masih menggoda mimpi lamaku.

Pagi hari 12 Oktober, diantar teman dan kedua orang tuanya menuju Jogja. Kembali ke Jogja, kota yang pernah ada dalam sepenggal episode hidupku beberapa tahun lalu, ehem…Take off pukul 10.45 dan tiba di Palembang pukul 11.56. Aku kembali ke Sumatera, tidak ada lagi tutur kata seperti yang mulai kunikmati di java. Sumatera – Jateng, sungguh sangat berbeda…see you next adventure, I love you…

Matur nuwun untuk semua masyarakat jawa yang telah mensukseskan perjalananku dengan indahnya, insyaAllah kita kan bertemu kembali di sebuah waktu yang telah ditaqdirkan-Nya…Jazakumullah Khairan Katsiran Wa Jazakumullah Ahsanal Jaza...

Sepenggal kisah, Palembang - Jogja - Kudus - Pati - Solo - Jogja - Palembang

Salam petualang,
Sembilan Juli

Kamis, 05 September 2013

Apakah Cinta Itu Buta???

Dering pesan masuk berbunyi, dibaca isi sms-nya… “Pengkhianat!!!” Tak mampu berkata apapun lagi menahan semua rasa dalam dada, hanya isak tangis yang makin keras menghentak. Orang yang selama ini dicintainya memutuskan hubungan mereka berdua yang sudah terlampau jauh hanya karena alasan ada orang lain.

Sementara banyak juga di luar sana yang mungkin menangis, menitikkan air mata ‘kegembiraan’ dalam sujud penuh kesyukuran, mengalir hangat di sudut-sudut matanya lantaran sang kekasih hati yang diimpikan akhirnya menikahi setelah sekian lama menanti.

Dan mungkin ada lagi isak tangis yang siapapun mendengar akan teriris hatinya. Di sebuah rumah kecil yang hanya diterangi lampu minyak di suatu desa, ditinggali seorang bapak dan anaknya yang masih kecil. Seteguh hati seorang lelaki ternyata mampu mencucurkan air mata. Air mata penyesalan memiliki istri yang meninggalkan suami dan anaknya hanya karena ada lelaki kaya raya menggodanya.

Apakah cinta itu buta???

Begitulah cinta, sangat sulit menjelaskannya. Umumnya cinta itu memang buta, seperti yang pernah kita dengar dari riwayat Imam Abu Dawud dan Ahmad, “Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli”. Tetapi sungguh, cinta itu tidak salah. Cobalah menyelami samudera cinta. Meski ombak membawa sampah dan kotoran ke tepian pantai, mengganggu pemandangan keindahannya. Jangan lupa, bahwa di balik samudera cinta tersebut ada mutiara yang gemerlapan, yang tidak saja membutakan tetapi juga menentramkan.

Marilah kita lihat cakrawala cinta di semesta, kita akan menemukan lapisan cinta yang begitu indah. Diawali dengan cinta pada Sang Pemberi Kehidupan, cinta pada para nabi dan rasul-Nya, cinta pada para sahabat dan keshalihan para ulama, cinta pada kaum muslimin, cinta pada orang tua terutama pada ibunda. Cinta pada sesama kaum mukmin, muslimin, manusia pada umumnya, pada diri sendiri dan akhirnya cinta benda atau harta. “Barang siapa ingin merasakan manisnya iman, hendaklah dia mencintai saudaranya, dan dia tidak mencintainya kecuali karena Allah”. (HR. Ahmad dan Hakim).

Cinta tertinggi nan mulia hanyalah cinta kepada Allah. Maka di setiap cinta kepada selain-Nya tidak disandarkan kepada-Nya, itulah cinta yang membutakan, cinta yang dipenuhi dengan nafsunya. Cinta yang menjadi cobaan, cinta yang cenderung pada maksiat. Cinta yang menggelora tanpa rasa malu, cinta yang membahayakan, cinta yang terbelenggu manis dalam dekapan setan. CINTA KEPADA SELAIN ALLAH TIDAKLAH ABADI, AKAN ADA KATA PUTUS DALAM CINTA SELAIN KEPADA ALLAH.

Yang harus diingat bahwa Islam tidak melarang atau mengekang manusia dari rasa cinta, memang sudah fitrah dan diabadikan dalam QS. 3:14. Tetapi Islam memberi petunjuk agar cinta tetap mengarah di jalan yang menjaga kehormatan. Cinta itu fitrah dalam lautan kesucian. Salah menggunakan petunjuk dan tidak mengikuti arah maka cinta akan tenggelam dalam lautan hawa nafsu kehinaan, membutakan. Cinta buta bagi mereka yang tidak pada jalur cinta yang sesungguhnya.

Seperti banyak orang bijak berkata bahwa cinta adalah kata kerja, kata kerja yang membebaskan. Ya, begitulah cinta seharusnya. Membebaskan belenggu dan ketergantungan yang membutakan para pencinta. Cinta yang seharusnya memberikan kekuatan energi membebaskan para pencinta kepada siapapun, dan hanya merelakan dirinya dalam bentuk penghambaan cinta kepada Allah. Begitulah sejati cinta, tidak diiringi ketergantungan dan membuat hati menjadi buta. Cinta adalah merdeka, bebas dari belenggu siapapun dan apapun yang menjajah rasa. Cinta yang memberikan barakah bagi diri dan dan sesama.

Ada sebuah kisah dalam Taman Para Pencinta karya Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah. Ada seorang pemuda tampan dan ahli ibadah dari Kufah. Suatu ketika ia pergi ke Nakha’. Tak sengaja ia melihat gadis cantik. Ia tertarik padanya dan jatuh cinta. Lalu ia datang ke rumah gadis itu dan mengutus seseorang untuk melamarkan kepada ayahnya. Sayang sekali, ayahnya sudah menerima lamaran dari sepupunya. Ternyata antara gadis itu dan ahli ibadah sudah terlanjur jatuh cinta hingga mengalami derita berat akibat kasih sayang yang tak sampai.

Lalu gadis itu mengirim surat sebagai pengobat rindunya. “Aku tahu betapa berat cintamu padaku. Dan betapa berat cobaan yang harus kau terima karena aku. Jika kau mau, aku bisa datang ke rumahmu untuk menemuimu. Atau jika engkau mau, aku bisa mengatur jalan agar engkau bisa sampai ke rumahku”. Tapi pemuda itu berkata pada utusan itu, “Tak satupun yang kupilih atas kedua keburukan itu”. Ia berkata seraya mengutip firman Allah surah al-An’am: 15 “Katakanlah: Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (Hari Kiamat) jika aku mendurhakai Tuhanku”.

Kisah tersebut memberikan pelajaran pada kita bahwa rasa cinta pada seseorang tidak membuat hatinya buta. Meski begitu besar rasa cinta sang pemuda, namun cinta pada-Nya lebih memenuhi hatinya. Sungguh agung cinta dalam Islam, menjaga umatnya agar kesucian cinta tidak tercemar oleh kotornya nafsu dan tidak hanyut oleh sewenang-wenangnya setan memperlakukan.

“Tidak sempurna iman seseorang dari kalian hingga aku lebih dia cintai daripada bapak-ibunya, anaknya, dan seluruh manusia”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan sekarang, bisa kita ketahui dimana letak cinta yang kita miliki. Apakah cinta itu buta???

***Lahat, Kost Sweet Kost…
Suatu hari ketika tiba-tiba rindu menyusup di kalbu
Dengan music backsound, Hadapilah – Shoutul Harokah***


Sabtu, 20 Juli 2013

Mungkin Ini Alasannya...

Memutuskan sebuah pilihan, bukanlah perkara yang mudah. Begitu banyak pertimbangan, begitu banyak kebimbangan dan juga pengorbanan. Memutuskan untuk memilih meninggalkan gemerlapnya ibu kota Sumsel, meninggalkan lingkungan yang begitu kondusif agar selalu mengingat dan dekat pada-Nya, meninggalkan orang-orang yang sangat dicintai. Ya, aku memutuskan untuk memilih kembali ke kota kelahiran, kota kecil bernama Lahat. Memulai kembali dari NOL untuk hidup, dari mencari kontrakan hingga semua keperluan sehari-hari. Bekerja di sebuah sekolah yang dari awal sudah tahu bahwa gajinya tidak akan sebesar di tempat kerja yang lama. Tapi keputusan sudah diambil, Bismillah…

Kehidupan semakin dirasakan berbeda, mulai dari lingkungan, teman-teman, juga gaya hidup. Harus beradaptasi dan terbiasa di tempat yang baru, harus memahami watak dan apa adanya plus adanya apa orang-orang baru. Aku menikmatinya…  Satu hal yang kusukai, aku bisa tiap minggu pulang kampung bertemu dengan ibu, tidak terlalu jauh dari Lahat. Seperti sekarang ini, malas-malasan di kamar ibu… :D

Ketika pulang kampung, dari Lahat menuju kampung harus naik mobil tua yang penuh sesak oleh penumpang dan barang. Menunggu keberangkatan mobil ke kampung kemarin, aku sempatkan membuka Al-Qur’an merah hatiku dan membacanya. Sungguh, bukan karena ingin dilihat sok alim tapi memang karena ingin memanfaatkan waktu terbuang percuma oleh menunggu, terlebih ini adalah bulan yang teramat mulia, Ramadhan. Di antara syahdunya angin yang menemani tilawahku dan hiruk pikuknya sebuah terminal, telingaku mendengar bapak-bapak yang juga akan naik di mobil yang sama sedang membicarakan aku. Mereka sedang menertawakanku, kesannya menghina apa yang sedang aku lakukan. Mereka berkata tidak takut pada neraka, Tuhan itu tidak ada. Jika ada mana buktinya? Aku hanya diam meneruskan tilawahku, ingin sekali menangis kasihan sama mereka. Ketika mobil mulai berjalan, mereka tanpa malu merokok tanpa menghargai orang yang berpuasa. Tidak ada gunanya dan bukanlah waktu yang tepat untuk menegur mereka. Alhamdulillah selalu memakai kerudung yang lebar jadi bisa ditutupkan ke muka…

Ingin dekat dan sedikit membenahi minimal keluarga terdekat, mungkin ini alasannya kenapa akhirnya aku memilih untuk meninggalkan Palembang. Kondisi kampung yang menyedihkan. Bodoh, miskin, dan sombong pada Tuhan. Semua penduduk beragama Islam, tapi rukun Islamnya hanya kalimah syahadah yang dijalankan, itupun mungkin karena terlahir sebagai orang Islam. Seolah tidak butuh sama sekali pada Tuhan yang telah memberi kehidupan. Sedih ketika melihat para pemudanya yang tanpa malu tidak berpuasa, sedih ketika anak-anak kecil dianjurkan untuk ke sungai mencari ikan daripada memperbanyak ibadah selama Ramadhan. Yaaa, Ramadhan hanya datang dan berlalu biasa-biasa saja. Dan yang sangat menyedihkan lagi, aku tidak bisa berbuat banyak untuk sebuah perubahan yang diharapkan.

Dalam segala kelemahan dan kekurangan, asaku masih membumbung tinggi di angkasa, inginku masih seperti cahaya yang berkerlip di kegelapan. Biarlah ku mulai dari apa yang bisa kulakukan, keluargaku terlebih dahulu…Semoga terlahir seorang mujahid di kampung ini yang akan mewarnai kehidupan seindah warna pelangi.

Talang Padang, dalam senja yang menawan…

Selasa, 09 Juli 2013

DUAPULUHENAM : 9490 Hari Usia Kehidupan Dunia

“Dan Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari kematianku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.
(Qur’an Surah Maryam : 33)

Kembali mata berhenti di kalender masehi, lalu terpejam dan menghela nafas. 9 Juli (lagi?). Sungguh, waktu yang begitu cepat berlalu tanpa pernah tahu kapan waktu berlari mengiringi usia yang semakin bertambah angkanya. Rasanya seperti masih kemarin menikmati tiap hela nafas di usia ke-duapuluh-lima, sekarang sudah berganti angka yang semakin malu untuk dituliskan dan dibicarakan, duapuluh-enam…

Alhamdulillah, Allah masih memberi amanah usia kehidupan di dunia , masih bisa eksis dan sedikit narsis hingga saat ini, meski sejatinya penambahan angka usia adalah berkurangnya jatah hidup di dunia. Ya, siapa tahu esok atau lusa Sang Izrail diperintah-Nya untuk mengakhiri kehidupan dunia dalam membersamai usia ini. Bukankah hanya kematian yang bisa mengantarkan kita ke syurga-Nya? Dengan persiapan dan perbekalan tentunya.

Alhamdulillah, dalam sujud syukur di hadapan-Nya, Sang Penggenggam Kehidupan atas semua nikmat yang diberi. Betapa bersyukurnya ketika masih bisa tersenyum menatap arakan awan putih di langit biru, ketika masih bisa melihat pelangi membias di horizonnya melengkung indah. Ketika masih bisa berjalan kemana-mana, masih bisa makan dengan lahapnya dan memilih makanan apa yang disuka. Ketika masih bisa merasakan berjuta indahnya jatuh cinta, masih memiliki kesempatan untuk berharap dan bermimpi akan masa depan yang insyaAllah cerah ceria. Sementara beberapa teman semasa kecil banyak yang sudah tak memiliki apa-apa karena sudah dipanggil-Nya atau orang lain yang saat ini sedang berjuang melawan penyakitnya. Sungguh, fabiayyi alaa-i rabbikuma tukadziban…

Hari ini aku hanya ingin berlama-lama sujud dan bersimbah air mata mengeja usia di atas sajadah, menangis sejadi-jadinya, mengadu kepada-Nya. Aahh, apalah artinya ulang tahun? Bukankah setiap waktu yang ku tapaki adalah langkah mendekat kepada ajal, menunaikan cintaku untuk-Nya, atau mungkin lebih sering menyibukkan diri dengan cinta-cinta yang semu. Begitu mendambakan menjejakkan kaki di jannah-Nya, bertemu dengan-Nya dan para kekasih-Nya sedangkan terkadang aku masih saja lancang menduakan-Nya dengan berhala-berhala baru masa kini. Apa persembahanku untuk-Nya, ibuku, keluargaku, teman, agama??? Begitu malunya aku, rasanya belum ada artinya sama sekali. Sungguh tidak sebanding dengan dengan apa yang telah Dia beri selama ini.

Seiring bertambahnya usia dan berkurangnya waktu, aku masih merajut mimpi dan asaku perlahan. Entah esok, lusa, bulan depan atau tahun depan, mungkin saja hidupku akan berhenti di suatu titik yang tak disangka-sangka, kematian. Begitu ingin menjadi salah satu orang yang dirindu surga-Nya sementara hingga saat ini masih terbata mengeja ayat-Nya, masih tertatih menapak di jalan-Nya… Siapkah dengan semua itu? Siap atau tidak siap, aku harus siap!!!

Duapuluh-enam, betapa membuncahnya bahagiaku. Ketika Allah memberiku kesempatan memasuki bulan suci yang ditunggu jutaan umat muslim di dunia. Sebuah moment spesial dalam merefleksi diri, berkaca pada hati, muhasabah, memperbaiki, membenahi, berburu berkah dan terus mengemis cinta-Nya. Ya, Ramadhan ini adalah hadiah terindah untuk usia yang kian menua, duapuluh-enam. Aku bahagia. Terima kasih, Rabb…

When I was six-and-twenty
I heard a wise man say,
“Give crowns and pounds and guineas
But not your heart away:
Give pearls away and rubies
But keep your fancy free”
But I was six-and-twenty,
No use to talk to me.

When I was six-and-twenty
I heard him say again,
“The heart out of the bosom
Was never given in vain;
‘Tis paid with sighs a plenty
And sold for endless rue”
And I am six-and-twenty,
And oh, ‘tis true, ‘tis true.


(By : A. E. Housman “When I Was One-and-Twenty” yang diubah angkanya)

Senin, 08 Juli 2013

Sambut Ramadhan : Adab Berpuasa

Selama melakukan puasa, Nabi SAW membimbing para sahabat untuk melakukan puasa yang sebenarnya. Berulangkali beliau menegaskan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Dari bimbingan Rasulullah SAW ini, Imam Al-Ghazali menyebutkan enam hal. Sambil menyanggah pendapat ahli fikih bahwa puasa sah bila syarat-syarat lahirnya dipenuhi, Al-Ghazali menyebut keenam hal ini sebagai syarat-syarat batiniah puasa. Tanpa syarat-syarat ini, puasa itu sama sekali tak ada faedahnya.

Pertama, menahan pandangan dari segala yang tercela dan dari semua yang dapat melalaikan kita dari zikir kepada Allah SWT. Nabi SAW bersabda: “Pandangan mata adalah anak panah beracun yang dilepaskan iblis. Barangsiapa yang menundukkan pandangannya karena takut kepada Allah, Allah akan memberikan iman kepadanya yang ia temukan manisnya iman itu dalam hatinya” (HR. Al-Thabrani). Beliau juga berkata: “Ada lima hal yang membatalkan puasa: berdusta, menggunjing, memfitnah, sumpah palsu, dan memandang dengan nafsu.”

Kedua, menjaga lisan dari kejahatan omongan, seperti menggunjing, berdusta, kata-kata kotor, kata-kata yang menusuk, apalagi memfitnah, dan mengadu domba kaum Muslimin. Pada waktu puasa, ia harus memperbanyak diam dan menyibukkan diri dengan berdzikir kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya puasa itu perisai. Bila kamu berpuasa, janganlah berkata kotor atau berlaku bodoh. Jika seseorang mengajaknya bertengkar atau mengecamnya, katakanlah, ‘Saya sedang berpuasa.’” Sekali waktu, dua orang perempuan berpuasa pada zaman Nabi SAW. Mereka ditimpa perasaan lapar dan dahaga yang tak tertahankan. Keduanya hampir pingsan. Mereka meminta izin untuk berbuka. Rasulullah SAW menyuruh orang membawa wadah dan berkata kepada kedua perempuan itu: “Muntahkan apa yang kalian sudah makan.” Mereka memuntahkan darah dan daging yang segar. Orang-orang keheranan menyaksikan peristiwa itu. Nabi SAW berkata: “Kedua perempuan itu berpuasa dari apa yang dihalalkan Allah, tetapi berbuka dengan apa yang diharamkan-Nya. Yang seorang duduk bersama yang lain, menggunjingkan orang lain. Inilah yang mereka makan berupa daging itu.” Nabi SAW menjelaskan bahwa “shauwm”, yang berarti menahan diri, dilakukan oleh kedua orang itu. Tetapi mereka hanya menahan diri dari makan dan minum yang halal. Mereka menjalankan puasa sambil menggunjing, padahal menggunjing adalah perbuatan yang haram.

Ketiga, menahan pendengaran dari semua yang dibenci dan tercela. Apa yang haram diucapkannya, haram juga didengarnya. Allah SWT mendampingkan perbuatan mendengarkan kebohongan dengan memakan harta yang haram: Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengarkan berita bohong, banyak memakan yang haram (Al-Maidah: 42). Allah SWT juga berfirman: Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka, tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram (Al-Maidah: 63). Nabi SAW menyatakan: “Yang melakukan ghibah (pergunjingan) dan yang mendengarkannya adalah sekutu dalam kejelekan” (HR. Al-Thabrani).

Keempat, menahan semua anggota badan dari berbuat dosa dan maksiat; serta menahan perut dari memakan bukan saja yang haram, tetapi juga yang syubhat. Menurut Al-Ghazali, orang yang berpuasa tetapi berbuka dengan yang haram sama seperti yang dikemukakan dalam peribahasa Arab yabni qishran wa yahdimu mishran (membangun istana dan menghancurkan kota). Nabi SAW bersabda: “Betapa banyaknya orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan dahaga.” (Musnad Ahmad, 2:441).

Kelima, tidak memperbanyak makan pada waktu berbuka. Bukankah puasa itu melemahkan nafsu. Bila nafsu dilemahkan pada siang hari dan diperkuat pada lagi pada malam hari, puasa menjadi perbuatan yang sia-sia. Al-Ghazali menyindir orang yang menyimpan dan mengumpulkan makanan untuk berbuka, yang tidak dia lakukan pada bulan-bulan yang lain. Dengan mengutip hadis, “Sekiranya setan-setan tidak merasuki hati manusia, pastilah mereka dapat melihat kerajaan (malakut) langit.” Al-Ghazali menyebut nafsu sebagai kendaraan setan. Termasuk di dalamnya nafsu makan dan hubungan intim. Dengan makan yang banyak, sangat sulit untuk dapat melakukan ibadat dengan khusyuk.

Keenam, pada waktu berbuka, hati hendaknya selalu diletakkan antara cemas dan harap. Ia harus mencemaskan ibadat dan amal salehnya. Jika tidak diterima, ia akan termasuk orang yang dimurkai Tuhan. Tetapi ia juga harus memelihara harapan . Diriwayatkan oleh Hasan al-Bashri lewat sekelompok orang yan sedang tertawa-tawa pada Hari Raya. Ia berkata, “Sesungguhnya Allah SWT menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan yang hasilnya tersembunyi bagi makhluk-Nya. Mereka berlomba-lomba menaatinya. Sebagian berhasil maju dan beruntung. Sebagian lagi tertinggal dan kecewa. Alangkah ajaibnya, orang bermain dan tertawa pada hari ketika beruntung orang yang maju dan celaka orang yang gagal. Demi Allah, sekiranya tirai disingkapkan, orang baik akan sibuk dengan kebaikannya, dan orang jelek akan sibuk dengan kejelekannya.”

Ya Allah, jadikanlah kami dan segenap umat islam termasuk orang yang puasa pada bulan ini, yang pahalanya sempurna, yang mendapatkan Lailatul Qadar, dan beruntung menerima hadiah dari-Mu. Wahai Dzat Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan.

Semoga shalawat dan salam dilimpahkan Allah kepada Nabi Muhammad, keluarga dan segenap sahabatnya.



***Dari berbagai sumber***

Sabtu, 22 Juni 2013

Kita Harus Berpisah, Cinta…

Bukankah sebuah sunnatullah bahwa perjumpaan akan ada pasangannya yaitu perpisahan? Bukankah sebuah kepastian bahwa tak ada yang abadi di dunia? Semua hanya sementara, semua yang ada dan yang pernah terjadi pada kita di dunia hanyalah sebuah proses perjalanan fana menuju tempat kekal abadi selamanya, jannah-Nya. InsyaAllah kita akan sama-sama menyiapkan bekal untuk kembali berjumpa di taman-taman indah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, surga-Nya.

Cinta, hanya raga yang menghilang dari pandangan. Sesungguhnya ruh kita, jiwa kita masih tetap dan akan terus menyatu dalam naungan-Nya, dalam deras do’a-do’a kita. Rabithah telah mengikat cinta kita, mendekap erat ukhuwah kita. Jadi apa yang harus kita tangiskan dengan perpisahan sementara ini? Bukankah kita masih akan sama-sama terus berjuang menapaki jalan dakwah ini, bukankah kita masih akan sama-sama menghabisi sisa amanah usia kehidupan dunia dalam jejak langkah menuju ridha-Nya? Meski bukan lagi dalam satu lingkaran cinta, bernama An-Naml?

Aaahh cinta, betapa bersyukurnya aku diberi kesempatan berjumpa dengan wajah-wajah penuh cinta seperti kalian. Merajut cinta di akhir pekan. Merenda asa di tiap sujud shalat malam kita. Menggores kisah indah dalam sejarah usia. Jejak-jejak kita, semoga menjadi saksi betapa kita saling mencintai karena-Nya, betapa kita sangat berharap Allah memudahkan langkah kita menyiapkan yang terbaik untuk kelak berjumpa kembali di surga.

Saudariku, bila ku ingat betapa indah skenario Allah mempertemukan kita. Dan yakinlah, perpisahan ini pun juga atas izin-Nya. Beberapa tahun kebersamaan kita, bukan tak pernah ada masalah. Dan aku merasa begitu banyak salah yang aku torehkan dalam kisah kita, begitu banyak kekurangan yang aku hadirkan dalam pertemuan-pertemuan pekanan kita. Jika lisan tak mampu berkata, semoga tulisan ini menyampaikan maafku dengan sepenuh hati dan jiwa.

Cinta, apa yang sudah kita lalui selama ini biarlah menjadi jejak sejarah dan rekaman kenangan untuk kita semakin mendewasa. Tempat lingkaran kita, dari ujung ke ujung, dari mesjid ke mesjid, dari rumah ke rumah, begitu kuat melekat di ingatan. Ramadhan bersama, I’tikaf bersama, kegiatan bersama, menyusuri jalan demi jalan, lorong demi lorong untuk dakwah atas nama cinta, masak (kafa’ah) bersama, rihlah bersama… Lampung Barat yang berkesan, karena di sana semut pernah membuat sakit kakiku dan pada akhirnya kita memberi nama An-naml untuk lingkaran kita. Hidung yang menghitam saat bangun tidur oleh lampu minyak yang menjadi penerangan, Ranau yang indah dan menyegarkan menyentuh kaki-kaki kita. Atas nama cinta, dalam perjalanan kisah kita diberi kesempatan bersama-sama menghirup udara segar di kota pegunungan Pagar Alam. Tempat yang begitu dingin, tapi tidak dengan cinta kita. Justru cinta kita semakin hangat, hangat dalam dekapan ukhuwah. Sungguh, aku tak pernah bisa melupakan dan menghapus goresan-goresan kisah yang pernah ada…

Terima kasih untuk cinta dan kasih sayang yang kalian beri kepadaku, terima kasih untuk semua bantuan materi dan dukungan semangat dari kalian, terima kasih telah mengisi ruhiyahku, terima kasih sudah meneguhkan imanku, terima kasih telah menjadi pengingat kesalahan-kesalahanku. Kalianlah penyemangatku di kala kulelah, kala kusakit, dan di kala ku sedang futur…

Cinta, inilah saatnya…waktu dari-Nya untukku berjuang tanpa kalian dalam pandangan, di tempat yang berbeda. Sama-sama kita akan terus saling mendo’akan, sama-sama kita masih akan terus berlomba-lomba dalam kebaikan. Jangan lupa kita lomba 10 jam 10 juz ya nanti Ramadhan…hehe. Sekali lagi maaf dan ikhlaskan semua yang pernah kita rasakan. Ikhlaskan…

“Seorang mukmin terhadap mukmin (lainnya) bagaikan satu bangunan, satu sama lain saling menguatkan.”. (HR. Bukhari dan Muslim)

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (HR. Muslim).

InsyaAllah, kita termasuk seperti hadits di atas. Saling menguatkan ketikah ruhiyah kita menurun. Saling mencintai karena Allah. Dan saling merasakan sakit ketika salah satu dari kita tersakiti. Persaudaraan kita benar-benar tumbuh dan memekarkan bunga-bunga cinta dan indah atas nama ukhuwah.

Pada akhirnya, waktu-Nya akan mempertemukan kita jua. Kelak di tempat dambaan kita, tentu saja surga nan indah. Aamiin… :)

Demang Lebar Daun, selesai packing...

Serpihan Kenangan


Jumat, 14 Juni 2013

Rumahmu Adalah Istana Kemuliaan dan Cinta

Wahai wanita mulia yang terhormat…
Janganlah engkau tinggalkan rumahmu, kecuali untuk suatu urusan yang memang sangat penting sekali! Di rumahmu itulah letak kebahagiaanmu. “Berdiam dirilah kalian di rumah kalian”. (QS. Al-Ahzab:33) sebab, di rumahmu itulah engkau akan mendapatkan kebahagiaan dan bisa memelihara nilai-nilai kehormatan, kemuliaan, dan kewibawaanmu.

Ketahuilah, sesungguhnya wanita murahan itu adalah yang sering ke pasar tanpa ada kepentingan, hanya mengikuti budaya dan kebiasaan yang sedang trend saja. Ironisnya, kebanyakan mereka memasuki pusat-pusat perbelanjaan untuk mencari barang-barang sepele yang aneh-aneh, tidak ada manfaatnya, tidak dianjurkan agama, tidak sejalan dengan risalah dakwah, dan tidak ada kaitannya dengan pengetahuan, ilmu, dan kebudayaan.

Singkat kata, apa yang mereka lakukan ini hanyalah sesuatu yang sia-sia, tiada guna, dan terlalu berlebih-lebihan. Apalagi bila tujuan mereka hanya sepele: MENCARI MAKAN DAN MELIHAT MODE PAKAIAN TERBARU.

Janganlah sekali-kali engkau meninggalkan rumah tanpa ada kepentingan yang benar-benar penting dan mendesak. Tetaplah engkau di rumahmu. Sebab, rumahmu adalah tempatnya kebahagiaan, ketentraman, dan kedamaian. Jadikan pula rumahmu sebagai sumber cinta dan kasih sayang, serta pangkalan kebajikan dan kedermawanan yang membawa berkah.

******
Sumber : diambil dan diketik ulang dari buku “Menjadi Wanita Paling Bahagia”. Sungguh, banyak kulihat wanita-wanita sekarang seperti yang tertulis di atas, dan mungkin saja saya sendiri juga pernah begitu. Tulisan yang di bold dan font size 16 sengaja dibesarkan untuk selalu menjadi cambuk diri. Semoga bermanfaat dan saling mengingatkan…

Sabtu, 08 Juni 2013

Ketika Sumsel Memilih


6 Juni 2013 merupakan pesta demokrasi di Sumsel, hingga pelosok-pelosok daerah pun dibuat heboh oleh keriuhan eufhoria Pilgub tersebut. Walau banyak di antara warga penduduk di pelosok yang sama sekali bingung akan memilih siapa 4 cagub cawagub yang akan mereka coblos. Tak terkecuali dengan keluarga besarku di pelosok desa di Kabupaten Lahat. Dan analisa error ku juga mengatakan bahwa hampir semua pemilih yang ada di pelosok-pelosok pedesaan tidak mengenal dengan baik ke-4 cagub cawagub tersebut.

Hanya 2 cagub dari 4 cagub yang banyak dikenali warga yang ada di pelosok. 1 cagub no urut 4 karena memang sudah dan masih menjabat gubernur mereka, yang sudah pasti peninggalan-peninggalan kampanye periode memilih tahun lalu masih mereka kenang. 1 cagub lagi yaitu no urut 3 mereka hafal wajahnya karena memang sangat gencar menyebarkan spanduk fhoto-fhoto berukuran jendela rumah mereka sejak tahun 2011-2013 dan juga hampir setiap rumah diberi kalender 2013.

Cagub lainnya, 1 di antaranya yaitu no urut 1 masih menjabat sebagai walikota Palembang dan begitu terkenal di daerah yang dipimpinnya tetapi itu hanya terkenal di batas wilayahnya saja, tidak menyebar ke pelosok Sumsel. Selanjutnya cagub dan cawagubnya no urut 2 hampir tidak dikenali oleh semua warga di pelosok bahkan di Palembang sendiri pun cagub ini diketahui pemilih hanya saat mendekati masa-masa pemilihan gubernur.

Saya menduga yang akan menang adalah cagub no urut 3, dan itu terbukti unggul sementara ketika hasil quick count yang saat masih di bawah 30% data suara TPS masuk. Sempat tidak menduga bahwa yang akan menang versi quick count adalah cagub no urut 4, Sang Gubernur yang masih dan sedang berkuasa di Sumsel. Entah alasan apa yang meyakinkan pemilih sampai mau sang gubernur tersebut memimpin kembali hingga 5 tahun ke depan. Padahal saya pribadi mengatakan bahwa cagub no 4 ini adalah seorang pengkhianat yang kembali meminta belas kasih warganya setelah kemarinnya sudah ingin meninggalkan daerah yang masih menjadi tanggung jawab kepemimpinannya, yaitu mencalonkan diri sebagai gubernur di provinsi lain. Tapi mungkin, program Pendidikan Gratis dan Kesehatan Gratis nya begitu melekat kuat di memori kenangan warga, walau tidak tahu apakah program tersebut memang sudah berjalan seperti yang diharapkan.

Menarik hati saya untuk berpikir bahwa bukan parpol yang dominan mencuri simpati warga agar memilih cagub yang diusungnya (dalam hal ini pilgub Sumsel). Tetapi pamor dan figur lah yang membuat mereka dikenal luas hingga pelosok. Walau saya sangat yakin bahwa parpol yang mengusungnya sudah bekerja keras memenangkan pilgub Sumsel ini. Seperti cagub dengan no urut 2 yang diusung PKS dan PAN, PKS dengan kadernya yang solid telah bekerja keras untuk kemenangan calon yang diusungnya (termasuk saya sendiri). Tetapi dari awal deklarasi, saya memang sedikit pesimis bahwa cagub yang diusung ini akan menang. Saya sendiri dan banyak teman lainnya yang notabenenya kader PKS tidak mengenal siapa sebelumnya cagub yang diusung, apalagi warga yang berada nun jauh di pelosok Sumsel sana.

Cagub no urut 1, siapa yang tidak mengenal parpol besar seperti PDI-P. Hampir di setiap desa yang tersebar di pelosok Sumsel memiliki Ranting dan Cabang partai ini. Tapi seperti analisa error saya bahwa bukan parpol yang dominan mencuri simpati pemilih, tetapi sosok figur dan pamor lah yang sangat dominan. Lalu cagub dengan no urut 3 yang masih menjabat sebagai Bupati OKU Timur, yang sebelumnya saya duga akan menang ini diusung oleh Partai Gerindra dan Hanura. Tetapi jauh sebelum kedua partai ini mendeklarasikannya sebagai gubernur, cagub no urut 3 ini sudah terlebih dahulu memperkenalkan dirinya melalui ormas NasDem (kala itu masih ormas, belum menjadi parpol). Fhoto-fhoto kegiatannya melalui spanduk bertebaran di mana-mana, kedekatannya dengan warga sangat terlihat di spanduk-spanduk tersebut.

Intinya dari analisa error saya ini adalah, kalau ingin dipilih oleh ribuan bahkan jutaan warga di pelosok daerah, maka bergeraklah terjun dan turun langsung dekati warga. Dengarkan dan PDKT lah ke mereka jauh sebelum pendeklarasian pencalonan oleh parpol pengusung.

6 Juni 2013,
Suatu senja menikmati nuansa dan aroma demokrasi yang diharapkan bisa menjadikan SumSel Baru.

Salam dari Pengamat Politik Amatir, hihihi…


Senin, 11 Februari 2013

Menghadapi Musibah

Semua orang siapapun itu, perempuan ataupun laki-laki tua muda tak luput dari musibah, ujian, kesedihan dan kehilangan. Mungkin saja itu memang karena salah kita selaku hamba Allah SWT yang tidak luput dari kesalahan, tapi dengan kita menyikapinya positif, insyaAllah ada hikmahnya dibalik musibah itu.

Tetapi sebagai seorang muslim, kita harus bisa menyikapi datangnya musibah itu dalam kehidupan kita. Bersabarlah karena Allah SWT bersama orang-orang yang sabar. Untuk itu kita haruslah memanjatkan do’a seperti yang dianjurkan, semoga dengan kita membaca do’a ini, Allah SWT akan memberikan pahala yang berlipat ganda dan akan memberikan yang lebih baik lagi dari sebelum-sebelumnya.

Inilah do’a yang dianjurkan saat musibah menyapa keceriaan hari-hari kita : “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’un, Allahumma jurnii fii mushiibatii wa akhlif lii khoyroon minhaa”. Yang artinya : “ Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadanya kami akan kembali (di hari kiamat). Ya Allah, berilah pahala kepadaku dan gantilah untukku dengan yang lebih baik (dari musibahku). HR. Muslim.

Kita harus ingat, anggap saja semua musibah yang menimpa kita adalah teguran atau peringatan buat kita dari Allah SWT, itu semua karena Allah SWT masih sayang pada hamba-hamba-Nya. Dan yang pasti, semua musibah itu menjadi jalan proses pendewasaan jiwa kita, mengganti keburukan diri kita menjadi sebuah kebaikan. Yakinlah bahwa Allah SWT tidak akan membebani sesuatu pada hamba-Nya diluar kemampuan hamba-Nya tersebut.

Coba sekali lagi kita renungkan, ketika sesendok garam dituangkan ke sebuah telaga/danau, apa yang terjadi? Bukankah air danau itu akan tetap tawar dan segar tanpa asin sedikitpun akibat sesendok garam? Berbeda jika sesendok garam tersebut dituangkan ke segelas air. Air di gelas tersebut sudah pasti akan langsung menjadi asin. Begitu juga dengan kita, jika dada atau jiwa kita telah disiapkan/diluaskan maka sebanyak apapun musibah/masalah/kesulitan yang menghampiri dan memasuki kehidupan kita, jiwa kita tidak akan menjadi sakit and the galau. Kita akan tetap tenang tanpa terpengaruhi oleh musibah yang menimpa. Berbeda halnya dengan kita yang jiwanya sempit, sedikit atau sekecil apapun musibah yang datang, itu akan sangat mempengaruhi hidup kita, seperti menjadi seorang yang pesakitan, terlalu sempit.

Jadi, ketika ada musibah siapkan saja dada atau jiwa kita seluas-luasnya dan katakan saja pada musibah, Selamat datang wahai musibah… ingat, bukankah hidup ini perlu ujian? Bukankah kesalahan kita butuh teguran? Musibah itu ujian dan teguran langsung dari Allah SWT, lho… betapa sayangnya Allah pada kita. Sekali lagi, tetaplah bersikap tenang dan berdo’a, yakinlah bahwa ketika ada satu pintu kesedihan maka beribu pintu kebahagiaan telah menunggu. Jangan pernah menggugat ketetapan Allah atas semua yang kita anggap musibah, dibalik itu semua Allah SWT telah menyiapkan yang terbaik atau lebih banyak lagi untuk kita. Don’t be sad, don’t be galau… Allah always besides you :)

Wallahu’alam bishowab…


*Markas An-Naml, 10 Feb 13. Materi dadakan ketika #melingkar, sang murobbi gak bisa hadir jadi disuruh gantiin. Rada nganar karena gak ada persiapan… :D *


Senin, 07 Januari 2013

Rihlah a.k.a Rekreasi


Menikmati libur yang teramat panjang sudah tentu jauh-jauh hari telah diniatkan dan dipersiapkan mau dihabiskan kemana, pun juga aku. Liburan kali ini, aku dan teman-temanku akan mengunjungi kota Seribu Cughub (Air Terjun, red. ) yaitu Pagar Alam – Sumsel. Aku sendiri tanggal 29 desember ngebolang dari kampung halamanku, naik motor lalu mencegat mobil yang lewat lalu naik ojek dan terakhir tiba di rumah teman yang akan menikah tanggal 30 Desember.
Di rumah teman itulah aku dan teman-teman lainnya bertemu untuk kemudian setelah acara walimahnya selesai kami langsung berburu keindahan pegunungan tertinggi di Bukit Barisan Sumatera, Gunung Dempo. Hamparan hijau kebun teh begitu segar dan menyegarkan. Hutan hijau pekat menjadi batas hijaunya teh dengan birunya Gunung Dempo dan tentu saja dilengkapi dengan awan putih yang berarak, Subhanallaah… sungguh sempurna ciptaan Allah.
Selanjutnya perjalanan kami menuju Cughub Mangkok. Dinamakan Cughub Mangkok karena genangan air yang jatuh mirip seperti mangkok besar, bundar (analisaku yang asal-asalan). Tempatnya tidak jauh dari lokasi perkebunan teh dan jalan menuju Cughub Mangkok sangat dekat dengan jalan utama/besar dan lebih menyenangkan lagi, mobil bisa masuk sampai di pinggir mangkok. Pengunjung bisa mandi sepuasnya di sana, persis mandi di mangkok atau baskom. Terdapat kamar-kamar ganti pakaian, tapi kurang terawat.
Tidak jauh dari lokasi Cughub Mangkok, terdapat Cughub Embun. Tapi sayang, kami tidak melanjutkan perjalanan ke sana. Sebenarnya ada satu cughub lagi yang sangat ingin aku kunjungi, yaitu Cughub Tujuh Kenangan. Cughub itu adalah cughub terindah yang pernah aku datangi, air genangannya bertingkat-tingkat berjumlah tujuh. Dulu waktu SMA pernah ke sana saat acara Pramuka, tapi jalan utama menuju Cughub Tujuh Kenangan sangat jauh dan hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Aku, dulu dan sekarang ‘kan beda, sudah tua…hihi.

Perjalanan bersama teman ini atau kami sebut dengan rihlah, selain untuk mencerahkan pikiran, juga sekaligus tadabbur alam. Berbicara tentang rihlah setiap kita tentunya pernah merasakan kejenuhan atas kesibukan dan kerutinan sehari-hari yang dihadapi. Rihlah adalah HAJATUN BASYARIAH (kebutuhan) karena sebagai manusia kita membutuhkan refresh baik terhadap jiwa maupun tubuh, refresh inilah yang disebut rihlah atau rekreasi.

Menurut Dr Abdul Hakam Ash-Sha’idi dalam bukunya berjudul Ar-Rihlatu fi Islami, Islam membagi bepergian atau perjalanan dalam lima kelompok:
* Bepergian untuk mencari keselamatan seperti hijrah yaitu keluar dari negara yang penuh bid’ah atau dominasi haram.
* Bepergian untuk tujuan keagamaan seperti menuntut ilmu, menunaikan ibadah haji, jihad di jalan Allah, berziarah ke tempat-tempat mulia, mengunjungi kerabat atau saudara karena Allah, dan bepergian untuk mengambil ibrah atau menegakkan kebenaran dan keadilan.
* Bepergian untuk kemaslahatan duniawi seperti mencari kebutuhan hidup, mencari nafkah.
* Bepergian karena urusan kemasyarakatan seperti menengahi pertikaian, menyampaikan dakwah, bermusyawarah.
* Bepergian untuk kepentingan turisme atau kesenangan semata.

Entah kapan ada waktu dan kesempatan lagi untuk kembali berpetualang di kota dingin, Pagar Alam. Semoga masih diberi-Nya kesempatan untuk menikmati keindahan ciptaan-Nya di sana… Aamiin.

Sabtu, 08 Desember 2012

Aku dan Seorang Nenek

Sore tadi adalah jadwal berkumpul dengan teman-teman An-Naml, pulang sudah maghrib dan nekat menerobos hujan, basah kuyup. Bingung mau naik angkot atau TransMusi, naik angkot harus 2 x, naik TransMusi harus nunggu transit dulu. Akhirnya yang datang duluan adalah TransMusi, menjadi penumpang TransMusi Alang-alang Lebar – Ampera sendirian.

Menunggu TransMusi Sako – PIM di halte Transit Polda, sangat lama. Hingga ada seseorang, sesuatu, kejadian yang membuat air mataku menderas. Seorang nenek datang dengan kebingungan, wajah memelasnya sungguh tak mampu aku pandang. Ketika aku sudah naik TransMusi, nenek tersebut juga naik. Lalu nenek itu bercerita kalau mau ke Pusri turunnya dimana? Giliran aku yang bingung, ini transmusi jurusannya ke PIM, kalau ke Pusri sepertinya salah naik TransMusi. Ya Rabb, aku berpikir kenapa sosok setua ini bisa di luar malam-malam sendirian, kemana keluarganya? Aku ingin mengantarnya pulang, tapi keadaanku sepertinya tidak memungkinkan. Aku terlalu kedinginan, basah kuyup, dan pastinya karena terkena air dingin tubuhku gatal-gatal dan merah. Aneh memang, karena nyamuk menghisap darahku saja kulitku tidak bisa merah tapi kalau air dingin efeknya pasti gatal merah, sampai ke kuping. Aku juga kelaparan, yang kupikirkan hanyalah segera mencari kehangatan… ( hehe ). Akhirnya dengan berat hati, nenek tersebut aku titip sama petugas TransMusi. Bayangan nenek itu sepertinya menghantui aku sampai sekarang, wajah sedih itu sepertinya ada di hadapanku. Apa aku sudah bersikap terlalu kejam pada nenek itu??? Aku takut…sangat takut.

Jumat, 30 November 2012

Goresan Senja Kala Hujan

Ya Allah,
jangan pertemukan aku dengannya
jika pertemuan itu hanya akan membuatku terluka
jangan tumbuhkan cinta di hatiku
jika cinta itu akan mengurangi cintaku pada-Mu
aku hanya ingin bertemu dengan pilihan-Mu
ku yakin pilihan-Mu tak kan mengecewakanku

Ya Allah,
aku ingin menjemputnya dengan azzamku
Ia yang akan menanamkan di hatiku cinta kepada-Mu
Ia yang akan mengenggam tanganku berlari mengejar-Mu
Ia yang akan menegurku kala aku terlambat mendatangi panggilan-Mu

Ya Allah,
aku rindu…
Sering kuhadirkan ia dalam do’aku
Kerap menghias mimpi- mimpiku
Inikah tanda begitu lemahnya hatiku???


~Demang Lebar Daun, menikmati gemulainya tarian hujan...jadinya agak 'galau'~

Selasa, 27 November 2012

Lisanku Penentu Surga Nerakaku

Sebuah cerita yang mampu mendiamkan lisanku, yang membuat luruh air mataku, yang menggigilkan perasaan sesalku. Semoga cerita ini juga bermanfaat untuk kebaikan semuanya…Lisanku, penentu surga nerakaku…
***

Diceritakan bahwa ada seorang anak yang sangat pemarah dan suka berkata kasar pada orang lain. Lalu ayah sang anak menyuruh anak tersebut menancapkan sebuah paku ke dinding pagar rumahnya setiap sang anak marah. Dikarenakan sang anak tersebut suka marah, maka tidak butuh waktu lama paku-paku yang ditancapkan setiap kali marah itu akhirnya memenuhi dinding pagar. Sang anak berkata pada ayahnya bahwa tidak ada lagi dinding yang bisa ditancapkan paku, semuanya sudah penuh. Lalu dengan bijak sang ayah berkata agar sang anak mencabut satu paku setiap kali sang anak bisa menahan diri untuk tidak marah. Lama kelamaan, dinding yang penuh tancapan paku tersebut habis dicabut kembali. Dan dengan bangga sang anak memberitahukannya pada sang ayah kalau dia bisa menahan diri untuk tidak marah sehingga dinding pagar tidak ada satupun paku yang menancap lagi. Dengan bijak ayahnya berkata, coba lihatlah dinding pagar itu…meski sudah tidak ada satupun paku yang menancap karena sudah dicabuti, tetapi tetap saja menyisakan lubang-lubang paku merusak dinding pagar tersebut…
***

Artinya, meski kita sudah menyesal dan meminta maaf pada orang lain yang pernah kita marahi, yang pernah kita sakiti hatinya dengan kata-kata, tetap saja meninggalkan luka di hati orang tersebut, tetap saja menyisakan pedih ketika mereka mengingatnya, walaupun mereka sudah memaafkan kita.
Pernahkah kita berpikir tentang itu? Mungkin, sudah tidak terhitung lagi jumlah lubang-lubang paku yang menancap dan menggores hati orang lain, menyakiti mereka tanpa kita sadari. Penyebabnya hanyalah lisan yang tak pernah kita jaga. Lisan yang begitu mudah terlepas diucapkan.

QS. Qaaf: 18 : “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu siap mencatat”.

Rasulullah SAW bersabda : “Siapa yang menahan lidahnya pasti Allah menutupi auratnya, siapa yang dapat menahan amarahnya pasti Allah melindunginya darai siksa-Nya, dan siapa meminta ampun kepada Allah, Dia pasti menerima permohonan ampunannya”. (HR. Ibnu Abi Dunya)
Terkadang tanpa pernah disadari, lisan kita dengan mudahnya terlepas begitu saja tidak memikirkan perasaan orang lain. Karena lisan, seseorang bisa dengan mudahnya tergelincir ke neraka.. Astaghfirullah…dan semoga dinding-dinding pagar yang pernah kulubangi memiliki dinding yang kuat agar mampu memaafkan orang yang telah merusak keindahan hatinya. Maafkan aku, temans…

Minggu, 11 November 2012

Love is The Game of Power and Manipulation of Emotions


Pekan lalu di rumah ibu, iseng membuka channel tv yang programnya K-Drama semua. Satu drama yang akhirnya aku tonton sampai habis, Seducing Mr. Perfect. Sebenarnya jalan cerita di film ini sudah bisa ditebak dari awal nonton, sebuah film comedy romantic. Meski jalan ceritanya sudah bisa ditebak, tapi tetap saja banyak pelajaran yang bisa diambil, pelajaran cinta untuk orang yang terpeleset di jalan pacaran… (xixixi)

Masih kucatat jelas dalam memori sebuah ungkapan dari Robin Heiden (nama aktor utama yang mengajari banyak hal tentang cinta) tentang “Love is the game of power and manipulation of emotions”. WOW…

Film ini menceritakan tentang seorang perempuan yang pacaran dan beberapa kali diputusin juga diperlakukan seperti sampah oleh mantan-mantannya. Lalu bertemu dengan seorang lelaki yang menjadi bos di tempatnya bekerja dan kemudian mengajari si perempuan dimana letak salahnya sehingga diputusin berkali-kali…salah perempuan itu adalah mencintai tanpa adanya self respect. Too much displays affection. Dimana selalu perempuan yang nelpon duluan dan yang lelaki yang selalu nutup telponnya duluan. Dimana perempuan yang selalu memberi hadiah. Inilah yang dikatakan pathetic…

Pelajarannya adalah…(ayo catetttt) harus STOP being pathetic, STOP being nice, STOP being care, give space and STOP being sensitive. Jangan tunjukkan secara berlebihan baik itu senyuman, pujian, sikap. Karena sama saja memberi pupuk ke “Ego” lelaki dan bikin besar kepala. Kalau”Ego” lelaki ini terlalu besar, pangkas rata dengan sedikit shock theraphy. Having sex is a big no…NO…Jika sex telah diberikan oleh perempuan, maka permainan cinta dianggap selesai. Lelakilah yang memenangkannya. Sementara perempuan harus menjadi sampah yang seenaknya dibuang oleh lelaki.

Si perempuan ini akhirnya mengikuti pelajaran tersebut, Ternyata...memang bener trik itu, mantannya treats her like trash anymore. Tapi perempuan sadar dan malah yang putusin pacarnya itu. Enak saja dikatakan sebagai kelinci kesayangan yang mau saja diperlakukan dan memberi apapun yang diinginkan sang lelaki…

Menurutku memang kenyataannya, kebanyakan perempuan tidak melihat percintaan itu sebagai game atau permainan yang harus dimenangkan. Perempuan lebih suka mencintai tanpa perhitungan, mencintai dengan jujur. Cinta yang membuatnya lebih senang memberi daripada menerima. Cinta yang tidak perlu ditahan atau ditutup-tutupi perasaannya dan lebih memilih menunjukkannya secara bebas. Tapi itulah salahnya, lelaki memanfaatkan kejujuran dan kebaikan perempuan. Dan aku masih ingat mimpi sang perempuan dalam film ini, si perempuan bertanya pada salah seorang mantan pacarnya kenapa mutusin dia. Si lelaki menjawab, bahwa perempuan itu terlalu baik untuknya. Kebaikan itulah penyebab putusnya hubungan tersebut. Mungkin pacaran baik-baik itu gak enak kali ya…(xixixi)

Yang penasaran, cari saja filmnya trus download…judulnya SEDUCING MR. PERFECT… :)

Tapi yang jelas bagiku, Islam telah mengajari banyak hal tentang CINTA. Cinta-Nya telah memberiku banyak cinta, cinta yang bukan sekedar permainan tetapi amanah, anugerah, nikmat yang hanya bisa dipetik dari syari’at Islam. Jika aku ingin diperlakukan seperti ratu oleh laki-laki, maka aku yang terlebih dahulu menyiapkan diri untuk bersikap seperti layaknya ratu…

Senin, 15 Oktober 2012

Ketika Aku Sakit

Bermula dari pagi kamis aku berangkat dari rumah, sengaja tidak ingin memakai kacamata. karena memang mataku masih sangat jelas dan terang, jadi jika memakai kacamata maka pasti pandangan mata akan kabur dan tentu saja merepotkan. Tetapi, mataku bermasalah dengan sinar matahari, sangat tidak tahan dengan silau. Jika keluar rumah tanpa kacamata dalam keadaan terik, maka bisa dipastikan juga akibatnya mata berkernyit, kening berkerut dan sudah dipastikan kepala yang terakhir mendapat bagiannya. Kepalaku sakit sekali, mulai hari kamis jam 10 pagi dan baru sembuh tadi malam menjelang dini hari. Sudah terlalu sering sakit kepala, tetapi baru kali ini sakit kepala yang begitu hebat dan lama. Hampir saja aku tidak bisa menahan sakit d kepalaku, hingga kamis malam menjelang maghrib, seluruh makanan dalam perut keluar dimuntahkan, gemetar dan terasa ingin pingsan. Apa boleh buat, akhirnya diputuskan untuk ke dokter. Dengan diantar oleh 2 orang akhwat, kamis ba'da maghrib meluncur ke YK Madira. Tiba jam 7 malam dan masih harus menunggu hingga jam 8.30 malam. Waktu yang kurasa begitu lama, bolak-balik ke toilet untuk muntah, juga rasanya benar-benar ingin pingsan. Seperti orang hamil saja. Jam 9 malam, dokternya baru ada. diperiksa tensi darah, katanya aku darah tinggi, 120/90. Ada percakapan yag kuanggap lucu saat dokter bertanya tentang keadaanku...
Dokter : Apa sering merasakan sakit kepala? | Saya : Iya sering... | Dokter : Kepalanya berdenyut atau berputar? | Saya : Sakit kepalanya berdenyut, pikiran di kepalanya berputar-putar... :D | Dokter : Belum menikah ya... | Saya : *nyengir*
Kepalaku diputar-putar, dipukul-pukul, disuruh menggenggam erat tangan sang dokter sekuat tenagaku. Entahlah aku tidak tahu apa maksudnya... Oleh dokter tersebut diberi resep yang harus kutebus...
Setelah diberi resep obat, aku masih harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi tetapi karena sudah terlalu malam maka diputuskan untuk diperiksa besoknya saja. Besoknya, rencana periksa ke YK Madira kembali dibatalkan. Akhirnya diantar berobat ke Puskesmas terdekat. Diperiksa tensi, kata dokternya tekanan darahnya rendah. Hebat ya, darahnya cepat sekali naik turun... Ditanya oleh dokter apa keluhanku, aku menjawab bahwa yang sakit hanya kepalaku. Dokternya malah berkata lambungku bermasalah, mag. Dan diberi obat mag, pereda mual, dan penambah nafsu makan. Aneh, yang sakit itu kepalaku, bukan mag!!! Mual pun karena sudah tidak tahan lagi dengan sakit kepala, hampir pingsan. Gejala pingsan memang muntah-muntah...
Tanpa minum obat, aku hanya bisa menahan sakit dengan istirahat di tempat tidur. Hanya obat herba yang masih aku minum hingga sekarang. Obat yang terdiri dari Sari Kurma, Habbatussauda, dan Madu. Katanya itu bisa sebagai penambah nafsu makan, jika dikonsumsi secara rutin menjelang tidur, insyaAllah bisa gendut... :)
Dalam sakitpun, masih begitu banyak nikmat-Nya yang aku rasakan. Dan yang pasti, kematian begitu dekat tanpa pernah menunggu taubatku. Banyak hikmah, banyak pelajaran, dan semoga menjadi kebaikan pada sabar menjalaninya. Berkali-kali ditelpon ibu untuk segera istirahat di rumah ibu saja, biar bisa diurus makannya... (malas makan soalnya :D) Dan pernah suatu malam, 12 panggilan tak terjawab dari ibu semuanya. Tidak sengaja tidak diangkat, karena HP tidak dipegang. Betapa khawatirnya beliau dengan keadaanku, pikirannya sudah kemana-mana saat tidak ada jawaban telponnya. Kangen ibu...kangen sepi lengang kampungku...