Halaman

Assalamu'alaikum, have barokah day ;)
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 November 2014

Tips Wanita Cantik Menawan Sesuai Sunnah Rasul


Sungguh, tidak diragukan lagi bahwa setiap wanita selalu merindukan agar dapat tampil cantik, memiliki performa, berpenampilan segar dan terbebas dari aib fisik atau masalah kesehatan lainnya. Sebenarnya sejak lama baginda Rasul mengajarkan bimbingan dan arahan seputar kecantikan wanita. Beliau menjelaskan secara terperinci dan detail, tentu dengan kata-kata yang lugas dan simpel namun sarat makna. Berikut ini nasihat-nasihat Rasulullah dan para sahabatnya agar wanita tampil cantik dan menawan...

1. Kebugaran

Makan dan minum seorang muslimah tidak sebatas aktifitas memuaskan nafsu, menghilangkan lapar dan dahaga semata. Karenanya, seorang muslim apabila tidak lapar dia tidak makan dan apabila tidak haus, dia tidak minum. Hal ini seperti yang diriwayatkan dari seorang sahabat,
"Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan berhenti makan sebelum kenyang
Siapapun orangnya pasti ingin tampil prima. Selain tonjolan lemak di sekitar perut bisa lebih rata dari biasanya, seorang muslimah dianjurkan memiliki berat badan yang ideal dan tentu saja sehat.

2. Kesegaran Kulit dan Menunda Penuaan

Kulit adalah cerminan jiwa setiap insan. Hampir 90% iklan kecantikan berujung pada kecantikan kulit. Ada orang yang usia muda namun tampak tua, karena kulitnya tidak bercahaya. Demikian sebaliknya, ada yang sudah usia lanjut namun ternyata ia tetap memancarkan aura. Di antara menjaga kesegaran kulit dan sekaligus menunda penuaan adalah dengan mengkonsumsi tujuh biji kurma ajwah yang dihasilkan di kota Madinah di waktu pagi.
"Barang siapa yang setiap pagi hari makan tujuh biji buah kurma ajwa, niscaya pada hari itu ia tidak akan terganggu oleh racun atau sihir". (Muttafaq 'Alaih)

"Barang siapa pada pagi hari makan tujuh biji kurma yang dihasilkan di antara kedua hamparan Madinah, niscaya ia tidak akan terganggu oleh racun hingga sore hari". (HR. Muslim)

3. Menjaga kesegaran Kulit dan Rambut

Rasulullah saw bersabda:
"Makanlah minyak zaitun, dan olesi tubuh dengannya. Sebab ia berasal dari tumbuhan yang penuh berkah". (Hadits hasan)

4. Memperindah Mata dan Memperpanjang Bulu Mata

Rasul bersabda,
"Bercelaklah kalian dengan itsmid, karena dia bisa mencerahkan mata dan menumbuhkan rambut". (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

"Bercelaklah memakai itsmid ketika hendak tidur, karena ia dapat mencerahkan pandangan dan menumbuhkan rambut". (HR. Ibnu Majah)

Lembayung, menatap Qur'an hijauku...begitu banyak ilmu di dalamnya, betapa dimuliakannya wanita dalam Islam

Minggu, 26 Oktober 2014

Karena Roda Akan terus Berputar

Karena roda akan terus berputar…
Ya, kehidupan kita akan terus berputar seperti roda. Yang kita semua tahu bahwa perputaran roda akan membuat keadaan kita tidak selamanya sama. Kadang di atas, kadang menggelinding di bawah. Kadang menyenangkan, kadang menyedihkan. Itulah kehidupan…

Karena roda akan terus berputar…
Wal asr.. Demi masa…sesungguhnya manusia itu kerugian kecuali mereka yang beriman dan beramal sholeh…

Sungguh, kalimat Allah adalah pedoman kehidupan. Hanya saja tidak sedikit di antara kita yang terlalu sombong untuk dinasihati oleh Tuhan-nya. Demi masa, waktu kita terlalu berharga jika hanya kita lewati tanpa makna. Waktu kita tidaklah banyak jika hanya kita habiskan dengan terpuruk kala roda berada di bawah. Maka, sebelum datang masa sempitmu manfaatkanlah masa lapangmu. Sebelum datang masa tuamu, berfastabiqul khairat-lah di masa mudamu. Sebelum datang masa fakirmu, gunakanlah kekayaanmu. Sebelum datang masa sakitmu, berkarya terbaiklah di masa sehatmu. Sebelum datang Izra’il menjemputmu, carilah ridha-Nya di masa-masa hidup di dunia.

Karena roda akan terus berputar, kita harus memanfaatkan waktu yang masih diberikan kepada kita dengan sebaik-baiknya. Kita tidak akan bisa memutar kembali waktu yang telah terlewat, dan kita tidak akan pernah bisa menunda kematian yang akan datang menjemput kita. Tidak ada alasan apapun untuk kita menunda-nunda kebaikan, hidup akan terus berjalan. Yaaaa, roda yang akan terus berputar…dengan atau tanpa kita yang melakoni dan memanfaatkannya.

Karena roda akan terus berputar…
1436 H sudah datang, terasa ada sesal ketika menoleh 1435 H. Terlalu sombong diri ini dengan pemberian waktu dari-Nya, amanah yang mungkin lebih banyak dihabiskan untuk bersantai dan menunda kebaikan. Maka Ya Tuhan kami, kami sambut momen indah ini…Sebelum penyesalan menghampiri, marilah bersama-sama bergerak menjadi pribadi yang lebih baik. Lebih baik dalam memanfaatkan waktu dan lebih baik dalam menanti kematian.

Happy Islamic New Year…1436 H

Mulak Ulu, tiba-tiba ingin menulis saat melihat roda yang terus berputar pada kendaraan yang terus melaju… :D


Rabu, 06 November 2013

Makna Hijrah

1 Muharram 1435 di Lahat, diisi Tabligh Akbar oleh Ustadz Bukhori Yusuf bertempat di Islamic Center Masjid Muttaqin. Ustadz kelahiran Jepara yang memilih istri asal Palembang ini merupakan anggota DPR RI Komisi III FPKS periode 2009-2014 dan akan dicalonkan kembali untuk periode selanjutnya dengan Dapil yang sama yaitu Dapil Sumsel II meliputi OI, OU, OKI, OKU, OKUT, OKUS, Prabumulih, Muara Enim, Pali, Lahat, Pagar Alam dan Empat Lawang, menyampaikan taujih Makna Hijrah. Berikut taujih yang sempat tercatat olehku, begitu menyemangati…

Makna Hijrah :
1. Hijrah adalah BERPINDAH. Seperti berpindahnya Rasulullah dari kota Mekkah menuju ke kota Madinah.
2. Hijrah adalah MENINGGALKAN kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik. Meninggalkan perilaku maksiat kepada ibadah.
3. Hijrah adalah PERUBAHAN (QS. Ar-Rad:11) Perubahan diri kita menjadi lebih baik, bukan fisik, bukan jabatan, bukan gaji, tetapi kedalaman dan keluasan hati. Hati yang bisa merefleksikan perintah-perintah Allah. Hati yang sehat seperti cermin yang memantulkan sinar terang.
4. Hijrah adalah TUMBUH dan BERKEMBANG agar bermashlahat terhadap sesama. Ibarat pohon besar yang tumbuh, akarnya menghujam kuat, cabang dan batangnya besar kokoh, daunnya rindang dan buahnya bisa dinikmati.

“SUDAHKAH KITA SEBAGAI UMAT ISLAM, SEBAGAI KADER DAKWAH MENJADI SEPERTI POHON YANG BESAR???”

Momentum hijrah bukan hanya berpindah tetapi harus berani mengubah budaya bangsa yang terjajah kebudayaan buruk.


Lahat, 1 Muharam 1435 H...
Salam Perubahan,
Sembilan Juli

Senin, 11 Februari 2013

Menghadapi Musibah

Semua orang siapapun itu, perempuan ataupun laki-laki tua muda tak luput dari musibah, ujian, kesedihan dan kehilangan. Mungkin saja itu memang karena salah kita selaku hamba Allah SWT yang tidak luput dari kesalahan, tapi dengan kita menyikapinya positif, insyaAllah ada hikmahnya dibalik musibah itu.

Tetapi sebagai seorang muslim, kita harus bisa menyikapi datangnya musibah itu dalam kehidupan kita. Bersabarlah karena Allah SWT bersama orang-orang yang sabar. Untuk itu kita haruslah memanjatkan do’a seperti yang dianjurkan, semoga dengan kita membaca do’a ini, Allah SWT akan memberikan pahala yang berlipat ganda dan akan memberikan yang lebih baik lagi dari sebelum-sebelumnya.

Inilah do’a yang dianjurkan saat musibah menyapa keceriaan hari-hari kita : “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’un, Allahumma jurnii fii mushiibatii wa akhlif lii khoyroon minhaa”. Yang artinya : “ Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadanya kami akan kembali (di hari kiamat). Ya Allah, berilah pahala kepadaku dan gantilah untukku dengan yang lebih baik (dari musibahku). HR. Muslim.

Kita harus ingat, anggap saja semua musibah yang menimpa kita adalah teguran atau peringatan buat kita dari Allah SWT, itu semua karena Allah SWT masih sayang pada hamba-hamba-Nya. Dan yang pasti, semua musibah itu menjadi jalan proses pendewasaan jiwa kita, mengganti keburukan diri kita menjadi sebuah kebaikan. Yakinlah bahwa Allah SWT tidak akan membebani sesuatu pada hamba-Nya diluar kemampuan hamba-Nya tersebut.

Coba sekali lagi kita renungkan, ketika sesendok garam dituangkan ke sebuah telaga/danau, apa yang terjadi? Bukankah air danau itu akan tetap tawar dan segar tanpa asin sedikitpun akibat sesendok garam? Berbeda jika sesendok garam tersebut dituangkan ke segelas air. Air di gelas tersebut sudah pasti akan langsung menjadi asin. Begitu juga dengan kita, jika dada atau jiwa kita telah disiapkan/diluaskan maka sebanyak apapun musibah/masalah/kesulitan yang menghampiri dan memasuki kehidupan kita, jiwa kita tidak akan menjadi sakit and the galau. Kita akan tetap tenang tanpa terpengaruhi oleh musibah yang menimpa. Berbeda halnya dengan kita yang jiwanya sempit, sedikit atau sekecil apapun musibah yang datang, itu akan sangat mempengaruhi hidup kita, seperti menjadi seorang yang pesakitan, terlalu sempit.

Jadi, ketika ada musibah siapkan saja dada atau jiwa kita seluas-luasnya dan katakan saja pada musibah, Selamat datang wahai musibah… ingat, bukankah hidup ini perlu ujian? Bukankah kesalahan kita butuh teguran? Musibah itu ujian dan teguran langsung dari Allah SWT, lho… betapa sayangnya Allah pada kita. Sekali lagi, tetaplah bersikap tenang dan berdo’a, yakinlah bahwa ketika ada satu pintu kesedihan maka beribu pintu kebahagiaan telah menunggu. Jangan pernah menggugat ketetapan Allah atas semua yang kita anggap musibah, dibalik itu semua Allah SWT telah menyiapkan yang terbaik atau lebih banyak lagi untuk kita. Don’t be sad, don’t be galau… Allah always besides you :)

Wallahu’alam bishowab…


*Markas An-Naml, 10 Feb 13. Materi dadakan ketika #melingkar, sang murobbi gak bisa hadir jadi disuruh gantiin. Rada nganar karena gak ada persiapan… :D *


Selasa, 27 November 2012

Lisanku Penentu Surga Nerakaku

Sebuah cerita yang mampu mendiamkan lisanku, yang membuat luruh air mataku, yang menggigilkan perasaan sesalku. Semoga cerita ini juga bermanfaat untuk kebaikan semuanya…Lisanku, penentu surga nerakaku…
***

Diceritakan bahwa ada seorang anak yang sangat pemarah dan suka berkata kasar pada orang lain. Lalu ayah sang anak menyuruh anak tersebut menancapkan sebuah paku ke dinding pagar rumahnya setiap sang anak marah. Dikarenakan sang anak tersebut suka marah, maka tidak butuh waktu lama paku-paku yang ditancapkan setiap kali marah itu akhirnya memenuhi dinding pagar. Sang anak berkata pada ayahnya bahwa tidak ada lagi dinding yang bisa ditancapkan paku, semuanya sudah penuh. Lalu dengan bijak sang ayah berkata agar sang anak mencabut satu paku setiap kali sang anak bisa menahan diri untuk tidak marah. Lama kelamaan, dinding yang penuh tancapan paku tersebut habis dicabut kembali. Dan dengan bangga sang anak memberitahukannya pada sang ayah kalau dia bisa menahan diri untuk tidak marah sehingga dinding pagar tidak ada satupun paku yang menancap lagi. Dengan bijak ayahnya berkata, coba lihatlah dinding pagar itu…meski sudah tidak ada satupun paku yang menancap karena sudah dicabuti, tetapi tetap saja menyisakan lubang-lubang paku merusak dinding pagar tersebut…
***

Artinya, meski kita sudah menyesal dan meminta maaf pada orang lain yang pernah kita marahi, yang pernah kita sakiti hatinya dengan kata-kata, tetap saja meninggalkan luka di hati orang tersebut, tetap saja menyisakan pedih ketika mereka mengingatnya, walaupun mereka sudah memaafkan kita.
Pernahkah kita berpikir tentang itu? Mungkin, sudah tidak terhitung lagi jumlah lubang-lubang paku yang menancap dan menggores hati orang lain, menyakiti mereka tanpa kita sadari. Penyebabnya hanyalah lisan yang tak pernah kita jaga. Lisan yang begitu mudah terlepas diucapkan.

QS. Qaaf: 18 : “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu siap mencatat”.

Rasulullah SAW bersabda : “Siapa yang menahan lidahnya pasti Allah menutupi auratnya, siapa yang dapat menahan amarahnya pasti Allah melindunginya darai siksa-Nya, dan siapa meminta ampun kepada Allah, Dia pasti menerima permohonan ampunannya”. (HR. Ibnu Abi Dunya)
Terkadang tanpa pernah disadari, lisan kita dengan mudahnya terlepas begitu saja tidak memikirkan perasaan orang lain. Karena lisan, seseorang bisa dengan mudahnya tergelincir ke neraka.. Astaghfirullah…dan semoga dinding-dinding pagar yang pernah kulubangi memiliki dinding yang kuat agar mampu memaafkan orang yang telah merusak keindahan hatinya. Maafkan aku, temans…

Jumat, 15 Juni 2012

Allahumma Balighna Ramadhan... Ya Allah sampaikanlah kami ke Bulan Ramadhan




Saat ini kita sudah memasuki akhir bulan rajab dan akan memasuki awal bulan sya’ban. Menandakan bahwa sebentar lagi kita akan bertemu dengan bulan suci nan mulia, bulan Ramadhan 1433 H. Dan itu artinya cahaya dan nuansa Ramadhan sudah demikian dekatnya menyapa diri kita. Sebagai pengingat, sebagai seorang Muslim sejati yang merindukan kebaikan, pasti akan selalu menantikan saat-saat di mana kebaikan kita akan meningkat dan pahala ketaatan kepada Allah dengan pahala yang berlipat-lipat.

Sebagai penyemangat kita dalam menyongsong bulan suci ini, ada sebuah hadits yang sudah sangat populer bagi kita. “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan”. ( HR. Thabrani dan Baihaqi). Dan diharapkan kita memahami hadits ini untuk kita bersemangat mempersiapkan diri mempersembahkan dan mengharapkan yang terbaik.

Ramadhan adalah penghulu semua bulan Hijriah seperti halnya hari Jum’at yang merupakan penghulu semua hari-hari yang tujuh. Setiap tahun Ramadhan datang menyapa lalu setelah itu pergi lagi, meninggalkan kita yang mungkin belum meningkatkan pahala ketaatan kita pada Allah. Ramadhan, keutamaannya begitu banyak dan memang tidak mudah digapai seluruhnya oleh setiap Muslim kecuali dengan susah payah dan kebersihan hati serta keikhlasan jiwa. Seorang Muslim yang merindukan bulan suci nan mulia ini pastinya tidak akan menyia-nyiakan pertemuannya dengan Ramadhan. Saksikan, bahwa aku seorang Muslim!!!

Seperti halnya seorang olahragawan yang butuh pemanasan sebelum bertanding, kita juga harusnya melakukan hal yang sama, melakukan peningkatan ibadah dan ketaatan pada Allah agar saat bertemu dengan Ramadhan, kondisi fisik dan ruhiyah kita benar-benar siap dan prima. Dalam hadits tadi, Rasulullah memohon kepada Allah seraya mengajak umatnya untuk diberikan keberkahan yang optimal dengan melakukan pelatihan amal shalih di bulan Rajab dan Syaban. Bentuk-bentuk pelatihan atau pemanasan itu misalnya membayar ‘hutang’ shaum bagi yang pernah uzur meninggalkan shaumnya pada Ramadhan yang lalu, mempersiapkan tilawah Al-Qur’an bagi yang masih gagap dan kurang lancar, memperbaiki tajwidnya dengan belajar dengan orang yang paham ilmu tajwid. Dan sudah seharusnya setiap Muslim yang merindukan taqorrub di bulan ramadhan kelak, mulai sekarang sudah mempersiapkan tilawah hariannya. Amalan shalih yang harus kita siapkan adalah puasa itu sendiri. Di bulan yang sudah mendekati Ramadhan, kita bisa melakukan latihan puasa ayyamul bidh (puasa 3 hari setiap bulan pada tanggal 13,14,15 H), puasa senin-kamis, puasa Nabi Daud (puasa satu hari, satu hari tidak dan seterusnya/selingan), lalu mulailah menyempatkan latihan berinfaq, sedekah, dan juga membayar zakat.

Allahumma balighna Ramadhan… Sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan…. Inilah harapan terbesar kita setelah meminta permohonan diberkahi di 2 bulan sebelum Ramadhan. Kita meminta dipertemukan dengan Ramadhan untuk melakukan amal shalih sebanyak-banyaknya, beribadah dan tentunya lagi pahala yang tanpa putus. Kalaupun takdir Allah ‘berkata lain’ kepada diri kita, insyaAllah ajang pelatihan ini akan menjadi saksi bahwa kita benar-benar mencintai Ramadhan dengan ibadah, meski akhirnya itu akan menjadi pertemuan terakhir kita dengannya.

Masih adakah di antara kita yang terselip perasaan terbebani atau merasa sedih dengan Ramadhan yang sebentar lagi akan tiba??? Maka, periksalah hati kita, di sana pasti sudah terjangkiti banyak penyakit… Sekali lagi, Allahumma balighna Ramadhan… Wallahu’alam bishowab…

Senin, 31 Oktober 2011

Pasangan Selalu Ideal ala Sahabat

Saat seseorang hendak mengadukan masalah rumah tangganya ke Khalifah Umar bin Khathab, tanpa sengaja ia malah mendengar sang Khalifah tengah dimarahi istrinya.

“Khalifah Umar, tadi aku mendengar engkau diomeli istrimu sedemikian rupa. Dan engkau hanya diam saja, tak marah, ataupun menegurnya, bagaimana engkau mampu berbuat demikian?” tanyanya.

Dengan tenang, Umar menjawab, “itu aku lakukan karena aku menghormatinya. Dia yang mengurusku, anak-anakku dan rumahku. Ia mencucikan bajuku, membuatkan roti untukku, memasak untukku, dan pekerjaan lain. Sementara semua itu tidak pernah kuperintahkan padanya. Jadi sudah sepantasnya aku memuliakannya.”

Begitulah. Jika sang Khalifah saja bisa sedemikian bersabar, kenapa kita justru banyak mengeluh?




Sumber : Majalah Ummi edisi No.5/XXIII/September 2011/ 1432 H.

Bentuk Diri Agar Pantas Dipinang

Komitmen kuat pada ibadah wajib

Lazim dengan ibadah-ibadah wajib adalah indikasi dari kematangan diri Muslim. Pernikahan adalah syariat maka penegakannya pun harus dengan fondasi keagamaan yang mapan. Dengan terawatnya ibadah-ibadah wajib, insya Allah ketika berumah tangga, anak kita akan lebih mudah diarahkan untuk beribadah.

Maksimal dalam ibadah sunah

Berkeluarga tentu akan menyita banyak waktu dan tenaga. Salah satu yang akan terkorbankan adalah waktu untuk melakukan ibadah-ibadah sunah seperti qiyamullail, tilawah Al-Qur’an, menghadiri kajian-kajian ilmu, dan lain-lain. Namun bila kita maksimal mengamalkannya, insya Allah setelah menikah kita tidak meninggalkannya, walau mungkin ada sedikit penurunan. Lebih bagus lagi kalau tetap sama kadar intensitasnya.

Meningkatkan kedewasaan

Seseorang disebut dewasa bila ia mampu mengatasi dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi perbuatannya. Mampu mengedepankan rasio ketimbang emosi saat mengambil keputusan, serta mampu menerima realitas dan mendahulukan kebaikan bersama di atas kepentingan dirinya sendiri.

Cukup ilmu

Cukup di sini bukan berarti boleh tidak belajar lagi, karena menuntut ilmu adalah proses sepanjang hidup. Cukup di sini adalah menyadari urgensi menikah dari segi syariat dan mempunyai cukup banyak informasi tentang pengalaman pernikahan orang lain atau dari seminar-seminar pengasuhan anak.

Terampil mengatur keuangan dan urusan rumah tangga.

Salah satu tugas penting istri adalah mengatur urusan rumah dan keuangan keluarga. Karena itu kemampuan ini perlu dipupuk sejak sebelum menikah. Tak harus sangat terampil, minimal ada keinginan untuk terus belajar.


Sumber : Majalah Ummi edisi No.5/XXIII/September 2011/ 1432 H.

Kamis, 11 Agustus 2011

Tanda-tanda Gagal Ramadhan

Di bulan Ramadhan, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka lebar-lebar. Namun banyak orang gagal mendapatkan kemuliaannya. Di bawah ini kiat-kiat menghindari gagalnya Ramadhan :

1. Kurang melakukan persiapan di bulan Syaban.
Misalnya, tidak tumbuh keinginan melatih bangun malam dengan shalat tahajjud. Begitupun tidak melakukan puasa sunnah Syaban, sebagaimana telah disunnahkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam. Dalam hadits Bukhari dan Muslim, dari Aisyah Radhiallaahu anha berkata, “Saya tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa selain di bulan Syaban.”

2. Gampang mengulur shalat fardhu.
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan kecuali orang-orang yang bertaubat dan beramal shalih” (Maryam: 59).
Menurut Said bin Musayyab, yang dimaksud dengan tarkush-shalat (meninggalkan shalat) ialah tidak segera mendirikan shalat tepat pada waktunya. Misalnya menjalankan shalat zhuhur menjelang waktu ashar, ashar menjelang maghrib, shalat maghrib menjelang isya, shalat isya menjelang waktu subuh serta tidak segera shalat subuh hingga terbit matahari. Orang yang bershiyam Ramadhan sangat disiplin menjaga waktu shalat, karena nilainya setara dengan 70 kali shalat fardhu di bulan lain.

3. Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah.
Termasuk di dalamnya menjalankan ibadah shalatul-lail. Mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah merupakan ciri orang yang shalih.
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami” (Al-Anbiya:90).
Dan hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, sampai Aku mencintainya. (Hadits Qudsi)

4. Kikir dan rakus pada harta benda.
Takut rugi jika mengeluarkan banyak infaq dan shadaqah adalah tandanya. Salah satu sasaran utama shiyam agar manusia mampu mengendalikan sifat rakus pada makan minum maupun pada harta benda, karena ia termasuk sifat kehewanan (Bahimiyah). Cinta dunia serta gelimang kemewahan hidup sering membuat manusia lupa akan tujuan hidup sesungguhnya.
Mendekat kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala, akan menguatkan sifat utama kemanusiaan (Insaniyah).

5. Malas membaca Al-Qur’an.
Ramadhan juga disebut Syahrul Qur’an, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an. Orang-orang shalih di masa lalu menghabiskan waktunya baik siang maupun malam Ramadhan untuk membaca Al-Qur’an. Ibadah ummatku yang paling utama adalah pembacaan Al-Qur’an (HR Baihaqi).
Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menimba dan menggali sebanyak mungkin kemuliaan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Kebiasaan baik ini harus nampak berlanjut setelah Ramadhan pergi, sebagai tanda keberhasilan latihan di bulan suci.

6. Mudah mengumbar amarah.
Ramadhan adalah bulan kekuatan. Nabi Saw bersabda : “Orang kuat bukanlah orang yang selalu menang ketika berkelahi. Tapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menguasai diri ketika marah.”
Dalam hadits lain beliau bersabda : “Puasa itu perisai diri, apabila salah seorang dari kamu berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan jangan membodohkan diri. Jika ada seseorang memerangimu atau mengumpatmu, maka katakanlah sesesungguhnya saya sedang berpuasa” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

7. Gemar bicara sia-sia dan dusta.
“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta perbuatan Az-Zur, maka Allah tidak membutuhkan perbuatan orang yang tidak bersopan santun, maka tiada hajat bagi Allah padahal dia meninggalkan makan dan minumnya” (HR Bukhari dari Abu Hurairah).
Kesempatan Ramadhan adalah peluang bagi kita untuk mengatur dan melatih lidah supaya senantiasa berkata yang baik-baik. Umar ibn Khattab Ra berkata : Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi juga dari dusta, dari perbuatan yang salah dan tutur kata yang sia-sia (Al Muhalla VI: 178).
Ciri orang gagal memetik buah Ramadhan kerap berkata di belakang hatinya. Kalimat-kalimatnya tidak ditimbang secara masak : Bicara dulu baru berpikir, bukan sebaliknya, berpikir dulu, disaring, baru diucapkan.

8. Memutuskan tali silaturrahim.
Ketika menyambut datangnya Ramadhan Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa menyambung tali persaudaraan (silaturrahim) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya”. Puasa mendidik pribadi-pribadi untuk menumbuhkan jiwa kasih sayang dan tali cinta.
Pelaku shiyam jiwanya dibersihkan dari kekerasan hati dan kesombongan, diganti dengan perangai yang lembut, halus dan tawadhu. Apabila ada atau tidak adanya Ramadhan tidak memperkuat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, itu tanda kegagalan.

9. Menyia-nyiakan waktu.
Al-Qur’an mendokumentasikan dialog Allah SWT dengan orang-orang yang menghabiskan waktu mereka untuk bermain-main. Allah bertanya : “Berapa tahunkan lamanya kamu tinggal di bumi ?.” Mereka menjawab : “Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari. Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman : “Kamu tidak tingal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui. “Maka apakah kamu mengira sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami ?. Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang sebenarnya; tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan yang mempunyai Arsy yang mulia” (Al-Mu’minun: 112-116).
Termasuk gagal dalam ber-Ramadhan orang yang lalai atas karunia waktu dengan melakukan perbuatan sia-sia, kemaksiatan, dan hura-hura. Disiplin waktu selama Ramadhan semestinya membekas kuat dalam bentuk cinta ketertiban dan keteraturan.

10. Labil dalam menjalani hidup.
Labil alias perasaan gamang, khawatir, risau, serta gelisah dalam menjalani hidup juga tanda gagal Ramadhan. Pesan Rasulullah SAW : ‘Sesungguhnya telah datang bulan Ramadhan yang penuh berkah. Allah telah memfardhukan atas kamu berpuasa di dalamnya. Dibuka semua pintu surga, dikunci semua pintu neraka dan dibelenggu segala syetan. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tiada diberikan kebajikan malam itu, maka sungguh tidak diberikan kebajikan atasnya’ (HR Ahmad, Nasa’i, Baihaqi dari Abu Hurairah)
Bila seseorang meraih berkah bulan suci ini, jiwanya mantap, hatinya tenteram, perasaannya tenang dalam menghadapi keadaan apapun.

11. Tidak bersemangat mensyiarkan Islam.
Salah satu ciri utama alumnus Ramadhan yang berhasil ialah tingkat taqwa yang meroket. Dan setiap orang yang ketaqwaannya semakin kuat ialah semangat mensyiarkan Islam. Berbagai kegiatan amar ma’ruf nahiy munkar dilakukannya, karena ia ingin sebanyak mungkin orang merasakan kelezatan iman sebagaimana dirinya. Jika semangat ini tak ada, gagal lah Ramadhan seseorang.

12. Khianat terhadap amanah.
Shiyam adalah amanah Allah yang harus dipelihara (dikerjakan) dan selanjutnya dipertanggung-jawabkan di hadapan-Nya kelak. Shiyam itu ibarat utang yang harus ditunaikan secara rahasia kepada Allah.
Orang yang terbiasa memenuhi amanah dalam ibadah sir (rahasia) tentu akan lebih menepati amanahnya terhadap orang lain, baik yang bersifat rahasia maupun yang nyata. Sebaliknya orang yang gagal Ramadhan mudah mengkhianati amanah, baik dari Allah maupun dari manusia.

13. Rendah motivasi hidup berjama’ah.
Frekuensi shalat berjama’ah di masjid meningkat tajam selama Ramadhan. Selain itu, lapar dan haus menajamkan jiwa sosial dan empati terhadap kesusahan sesama manusia, khususnya sesama Muslim. Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang berjuang secara berjama’ah, yang saling menguatkan.
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam saatu barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh” (Ash-Shaf: 4). Ramadhan seharusnya menguatkan motivasi untuk hidup berjama’ah.

14. Tinggi ketergantungannya pada makhluk.
Hawa nafsu dan syahwat yang digembleng habis-habisan selama bulan Ramadhan merupakan pintu utama ketergantungan manusia pada sesama makhluk. Jika jiwa seseorang berhasil merdeka dari kedua mitra syetan itu setelah Ramadhan, maka yang mengendalikan dirinya adalah fikrah dan akhlaq. Orang yang tunduk dan taat kepada Allah lebih mulia dari mereka yang tunduk kepada makhluk.

15. Malas membela dan menegakkan kebenaran.
Sejumlah peperangan dilakukan kaum Muslimin melawan tentara-tentara kafir berlangsung di bulan Ramadhan. Kemenangan Badar yang spektakuler itu dan penaklukan Makkah (Futuh Makkah) terjadi di bulan Ramadhan. Di tengah gelombang kebathilan dan kemungkaran yang semakin berani unjuk gigi, para alumni akademi Ramadhan seharusnya semakin gigih dan strategis dalam membela dan menegakkan kebenaran. Jika bulan suci ini tidak memberi bekal perjuangan baru yang bernilai spektakuler, maka kemungkinan besar ia telah meninggalkan kita sebagai pecundang.

16. Tidak mencintai kaum dhuafa.
Syahru Rahmah, Bulan Kasih Sayang adalah nama lain Ramadhan, karena di bulan ini Allah melimpahi hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang ekstra. Shiyam Ramadhan menanam benih kasih sayang terhadap orang-orang yang paling lemah di kalangan masyarakat. Faqir miskin, anak-anak yatim dan mereka yang hidup dalam kemelaratan. Rasa cinta kita terhadap mereka seharusnya bertambah.
Jika cinta jenis ini tidak bertambah sesudah bulan suci ini, berarti Anda perlu segera instrospeksi.

17. Salah dalam memaknai akhir Ramadhan.
Khalifah Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan seluruh rakyatnya supaya mengakhiri puasa dengan memperbanyak istighfar dan memberikan sadaqah, karena istighfar dan sadaqah dapat menambal yang robek-robek atau yang pecah-pecah dari puasa. Menginjak hari-hari berlalunya Ramadhan, mestinya kita semakin sering melakukan muhasabah (introspeksi) diri.
“Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Hasyr: 18).

18. Sibuk mempersiapkan Lebaran.
Kebanyakan orang semakin disibukkan oleh urusan lahir dan logistik menjelang Iedul Fitri. Banyak yang lupa bahwa 10 malam terakhir merupakan saat-saat genting yang menentukan nilai akhir kita di mata Allah dalam bulan mulia ini. Menjadi pemenang sejati atau pecundang sejati.
Konsentrasi pikiran telah bergeser dari semangat beribadah, kepada luapan kesenangan merayakan Idul Fitri dengan berbagai kegiatan, akibatnya lupa seharusnya sedih akan berpisah dengan bulan mulia ini.

19. Idul Fitri dianggap hari kebebasan.
Secara harfiah makna Iedul Fitri berarti ‘hari kembali ke fitrah’. Namun kebanyakan orang memandang Iedul Fitri laksana hari dibebaskannya mereka dari penjara Ramadhan. Akibatnya, hanya beberapa saat setelah Ramadhan meninggalkannya, ucapan dan tindakannya kembali cenderung tak terkendali, syahwat dan birahi diumbar sebanyak-banyaknya. Mereka lupa bahwa Iedul Fitri seharusnya menjadi hari di mana tekad baru dipancangkan untuk menjalankan peran khalifah dan abdi Allah secara lebih profesional.
Kesadaran penuh akan kehidupan dunia yang berdimensi akhirat harus berada pada puncaknya saat Iedul Fitri, dan bukan sebaliknya.**

———————-
***Sumber : http://migas-indonesia.net/em>

Rabu, 10 Agustus 2011

Konsumsi Obat Penghalang Haidh Ketika Ramadhan

Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.

Kita telah mengetahui bersama bahwa puasa adalah amalan mulia. Ganjaran di balik amalan tersebut pun bisa jadi tak terhingga. Oleh karena itu, setiap orang yang beriman dengan benar pasti tidak ingin luput dari amalan yang mulia ini. Termasuk pula para wanita muslimah, mereka pun sangat ingin sekali menunaikan puasa sebulan penuh, tanpa luput sehari pun juga. Padahal selama belum monopause, si wanita sesuai ketentuan Allah, biasanya mengalami haidh setiap bulannya. Di bulan Ramadhan pun ia akan mendapati masa haidh tersebut. Sehingga ia mesti mengqodho’nya di luar Ramadhan. Yang jadi permasalahan, apabila si wanita menggunakan obat-obatan untuk menghalangi datangnya haidh agar ia dapat berpuasa secara sempurna. Atau sebagian wanita juga punya keinginan untuk bisa menikmati lailatul qadar di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sehingga ia pun menggunakan obat-obatan tersebut untuk menghalangi datang bulan. Apakah menggunakan obat-obatan semacam itu dibolehkan?

Inilah pembahasan yang akan kami angkat pada kesempatan kali ini.

Pendapat Ulama Masa Silam

‘Abdur Rozaq telah menceritakan pada kami, (ia berkata) telah menceritakan Ibnu Jarir pada kami, (ia berkata) bahwa ‘Atho’ ditanya mengenai seorang wanita yang datang haidh lantas ia menggunakan obat-obatan untuk menghilangkan haidhnya padahal itu di masa haidnya, apakah ia boleh melakukan thowaf?

نعم إذا رأت الطهر فإذا هي رأت خفوقا ولم تر الطهر الأبيض فلا

“Ia boleh thowaf jika ia telah suci. Jika ia melihat suatu yang kering, namun belum terlihat tanda suci, maka ia tidak boleh thowaf”, jawab ‘Atho’. (Mushonnaf ‘Abdur Rozaq, 1219)

‘Abdur Rozaq telah menceritakan pada kami, (ia berkata) telah menceritakan Ma’mar pada kami, (ia berkata) telah menceritakan pada kami Washil, bekas budak Ibnu ‘Uyainah, (ia berkata) ada seseorang yang bertanya pada Ibnu ‘Umar mengenai wanita yang begitu lama mengalami haidh lalu ia ingin mengkonsumsi obat yang dapat menghentikan darah haidhnya. Washil berkata,

فلم ير بن عمر بأسا

“Ibnu ‘Umar menganggap hal itu tidak masalah.”

Ma’mar berkata,

وسمعت بن أبي نجيح يسأل عن ذلك فلم ير به بأسا

“Aku mendengar Abu Najih menanyakan hal ini. Lantas ia menganggap perbuatan semacam itu tidak mengapa.” (Mushonnaf ‘Abdur Rozaq, 1220). Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhohullah berkata bahwa yang benar riwayat ini adalah perkataan Abu Najih.[1]

Dalam Al Mughni, Ibnu Qudamah rahimahullah menyebutkan,

رُوِيَ عَنْ أَحْمَدَ رَحِمَهُ اللَّهُ ، أَنَّهُ قَالَ : لَا بَأْسَ أَنْ تَشْرَبَ الْمَرْأَةُ دَوَاءً يَقْطَعُ عَنْهَا الْحَيْضَ ، إذَا كَانَ دَوَاءً مَعْرُوفًا .

Diriwayatkan dari Imam Ahmad rahimahullah, beliau berkata, “Tidak mengapa seorang wanita mengkonsumsi obat-obatan untuk menghalangi haidh, asalkan obat tersebut baik (tidak membawa efek negatif).”[2] [3]

Penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Sebagian wanita ada yang bersengaja menggunakan obat-obatan untuk menghalangi datangnya haidh yang rutin setiap bulannya. Mereka melakukan seperti ini dengan tujuan supaya tidak lagi mengqodho’ puasa selepas bulan Ramadhan. Apakah perbuatan seperti ini dibolehkan? Apakah ada syarat yang tidak membolehkan wanita menggunakan obat semacam itu?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Dalam masalah ini aku berpandangan bahwa hendaklah wanita tersebut tidak melakukan semacam itu. Hendaklah ia menjalankan ketetapan Allah yang telah digariskan pada para wanita. Kebiasaan datang haidh setiap bulannya di sisi Allah memiliki hikmah yang amat banyak jika kita mengetahuinya. Hikmah yang dimaksud adalah bahwa kebiasaan datang haidh ini termasuk kebiasaan yang normal, di mana haidh ini terjadi untuk tujuan menghalangi si wanita dari berbagai bahaya yang dapat memudhorotkan dirinya. Para pakar kesehatan telah menjelaskan efek negatif dari penggunaan obat semacam itu. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Laa dhororo wa laa dhiroor (Tidak ada bahaya dalam syari’at ini dan tidak boleh mendatangkan bahaya tanpa alasan yang benar)[4].” Oleh karena itu, dalam masalah ini aku berpandangan bahwa wanita hendaklah tidak menggunakan obat-obatan untuk mengahalangi datangnya haidh. Alhamdulillah berkat karunia Allah, jika datang haidh, wanita muslimah diperkenankan untuk tidak mengerjakan puasa dan shalat. Ketika ia kembali suci, ia boleh kembali mengerjakan puasa dan shalat. Jika berakhir Ramadhan, ia hendaklah mengqodho’ puasanya yang luput tadi.”[5]

Pernah pula diajukan pertanyaan pada Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, “Jika wanita (kemungkinan) datang haidh di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, apakah boleh ia menggunakan obat-obatan penghalang hamil supaya ia tetap bisa menjalankan ibadah di hari-hari utama?”

Syaikh rahimahullah menjawab, “Kami beranggapan tidak boleh menggunakan obat-obatan tersebut untuk menolong dalam melakukan ketaatan pada Allah. Karena datangnya haidh adalah ketetapan Allah pada kaum hawa.

Ada kisah bahwa ‘Aisyah pernah ditemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ketika itu ia sedang menemani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haji wada’. Ia pun hendak melaksanakan umroh. Namun ia datang haidh sebelum masuk Makkah. Lantas ketika ‘Aisyah pun menangis. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya, “Kenapa engkau sampai menangis?” ‘Aisyah pun menjawab bahwa ia mendapati haidh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa itu sudah menjadi ketetapan Allah bagi kaum hawa. Jika seorang wanita mendapati haidh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, maka pasrahlah dengan ketetapan Allah. Janganlah menggunakan obat-obat tersebut . Ada informasi dari pakar kesehatan yang sampai ke telinga kami, bahwa obat-obatan membawa efek negatif pada rahim dan darah. Terkadang darah tersebut merupakan sumber makanan bagi janin. Oleh karena itu, kami sarankan untuk menjauhi obat-obatan semacam ini. Ketika datang haidh, hendaklah wanita tersebut meninggalkan shalat dan puasa. Datangnya haidh ini sama sekali bukan kreasi manusia, namun itu adalah ketentuan Allah.”[6]

Jika Tetap Menggunakan Obat Penghalang Datang Bulan

Syaikh Abu Malik –penulis kitab Shahih Fiqh Sunnah- menerangkan, “Haidh adalah ketetapan Allah bagi kaum hawa. Para wanita di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyusahkan diri mereka supaya dapat berpuasa sebulan penuh (dengan mengahalangi datangnya haidh, pen). Oleh karena itu, menggunakan obat-obatan untuk menghalangi datangnya haidh tidak dianjurkan. Akan tetapi, jika wanita muslimah tetap menggunakan obat-obatan semacam itu dan tidak memiliki dampak negatif, maka tidak mengapa. Jika ia menggunakan obat tadi dan darah haidhnya pun berhenti, maka ia dihukumi seperti wanita yang suci, artinya tetap dibolehkan puasa dan tidak ada qodho’ baginya. Wallahu a’lam.”[7]

Wahai Wanita, Ridholah pada Ketetapan Allah!

Jika tidak mengkonsumsi obat-obatan penghalang datang bulan tidak membawa dampak negatif, maka tidak mengapa menggunakannya. Namun sikap yang lebih baik adalah setiap wanita muslimah ridho dengan ketetapan Allah, tanpa mesti menggunakan obat-obatan semacam itu. Setiap ketetapan Allah pasti ada hikmah yang luar biasa di balik itu semua. Lihatlah bagaimana sikap ‘Aisyah ketika ia mendapati haidh padahal ia ingin melaksanakan haji.

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Kami keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak ada yang kami ingat kecuali untuk menunaikan haji. Ketika kami sampai di suatu tempat bernama Sarif aku mengalami haid. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk menemuiku saat aku sedang menangis. Maka beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku jawab, “Demi Allah, pada tahun ini aku tidak bisa melaksanakan haji!” Beliau berkata, “Barangkali kamu mengalami haidh?” Aku jawab, “Benar.” Beliau pun bersabda,

فَإِنَّ ذَلِكَ شَىْءٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ ، فَافْعَلِى مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى

“Yang demikian itu adalah perkara yang sudah Allah tetapkan buat puteri-puteri keturunan Adam. Maka lakukanlah apa yang dilakukan orang yang berhaji kecuali thowaf di Ka’bah hingga kamu suci.” (HR. Bukhari no. 305 dan Muslim no. 1211)

Bagaimana Wanita Haidh dan Nifas Mengisi Hari-Harinya di Bulan Ramadhan dan Lailatul Qadar?

Karena wanita haidh dan nifas tidak boleh melaksanakan shalat ketika kondisi seperti itu, maka dia boleh melakukan amalan ketaatan lainnya. Yang dapat wanita haidh dan nifas lakukan ketika itu adalah,

Membaca Al Qur’an tanpa menyentuh mushaf.[8]
Berdzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan dzikir lainnya.
Memperbanyak istighfar.
Memperbanyak do’a.
Memperbanyak sedekah dan kebaikan lainnya.[9]


Semoga pembahasan ini bermanfaat bagi kaum muslimin sekalian.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.


Disusun di Panggang-GK, 16 Sya’ban 1431 H (29 Juli 2010)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id

Minggu, 24 Juli 2011

5 Alasan Harus Menjadi Murabbi

1. Jalan menuju Rabbani
2. Cara cerdas masuk surga
3. Tugas kemanusiaan
4. Pekerjaan terbaik
5. Penyambung lidah rasul

Generasi Rabbani, siapa dia???
Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia (nabi) berkata kepada manusia, "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku, bukan penyembah Allah". Akan tetapi, (dia berkata) "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-kitab dan karena kamu tetap mempelajarinya"(QS. Al-Imran: 79)
Maka, generasi Rabbani itu adalah yang mengajar dan belajar al-Qur'an.... Bimakuntum tu'allamunalkitab wa bima kuntum tadrusuuna...

Generasi Rabbani, dia haruslah :
1. mempunyai ilmu pengetahuan
2. Memahami Islam dengan baik/faqih
3. Melek politik
4. Melek manajemen
5. melaksanakan urusan rakyat yang membawa kemashlahatan, baik dalam urusan dunia maupun agama.
So...bukankah pekerjaan seorang murabbi adalah jalan menjadi seorang rabbani...

Menjadi murabbi, adalah pekerjaan terbaik
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?(QS. Al-Fushilat: 33)
Bukankah, dengan kita menjadi murabbi maka ada amal yang akan mengalir terus pada kita ketika kita sudah tiada? yaitu ilmu yang bermanfaat, melalui para binaan-binaan yang kemudian binaan pun mempunyai binaan juga, lalu seterusnya. Bukankah itu multilevel pahala???

Maka, tak ada alasan lagi untuk tidak menjadi murabbi!!!

Menuju 14.801 Kader Terbina (2015) Kader Sejati, Seorang Murabbi...

*DPW PKS Palembang, Minggu 24 Juli 2011. Dauroh Murabbi dan Talaqqi Madah*

Sabtu, 16 Juli 2011

Puasa itu Obat


Bannar Makfadan, pakar tentang ilmu tubuh Amerika Serikat mengatakan, "Puasa dapat menghilangkan segala jenis penyakit yang tidak dapat diobati melalui terapi pengobatan lainnya".

1. Penyakit Kulit
Dr. Muhammad azh-Zhawahiri, ahli penyakit kulit di RS Qashru Aini, mengatakan, "Ada keterkaitan erat antara makanan dan kulit. Tidak makan dan minum pada waktu tertentu dapat mengurangi kadar air di dalam tubuh dan darah, sehingga menyebabkan kurangnya kadar air di kulit. Keadaan seperti itu menambah daya tahan kulit terhadap gangguan penyakit kulit.

2. Tulang
Dr. Mushtafa Ismail Hafizh, dosen jurusan bedah tulang di Fak Kedokteran al-Azhar, mengatakan bahwa puasa sangat berguna untuk penderita penyakit persendian dan nyeri lutut, di samping membantu mengurangi berat badan sebagai penyebab utama nyeri persendian.

3. Demam
Dr. Muhammad Ahmad Darghan berkata, "Ilmu pengetahuan modern menemukan bahwa puasa berguna untuk melindungi seorang Muslim dari penyakit diare, dapat mengobati gangguan pencernaan (sulit mencerna) yang dapat menimbulkan kembung dan merusak colone.

4. Penyakit jantung dan aliran darah
Puasa memiliki kegunaan yang sangat penting untuk membuat jantung lebih tenang dan membersihkan darah sehingga mempermudah jantung dalam menyerap darah yang bersih.

5. Puasa dan kesehatan tubuh
Ayton Sinclair mengatakan bahwa hikmah terbesar dari puasa adalah bertambahnya tingkat kesehatan tubuh. Puasa dapat membebaskan tubuh dari racun dan kolesterol yang tertimbun.

6. Puasa dan peremajaan organ dan jaringan tubuh
Dr. M. Syelton berkata, "Beberapa penelitian menyatakan bahwa luka parah lebih cepat sembuh ketika seseorang dalam kondisi puasa dibandingkan ketika tidak berpuasa. Demikian pula dengan patah tulang yang akan mudah tersambung kembali dengan cepat ketika penderitanya berpuasa.

7. Gangguan syaraf otak, pesimis dan penyakit ayan
Semua jenis gangguan syaraf otak dapat dipulihkan kembali dengan perantaraan puasa. Begitu pula dengan gangguan pesimistik yang dapat dihilangkan di sela-sela puasa. Selain itu, puasa memiliki pengaruh dan manfaat sangat besar dalam mengobati penyakit ayan.

8. Indra Peraba dan perasa (mata, kulit, lidah, hidung dan telinga)
Kemampuan mata mengalami peningkatan yang cukup berarti pada saat orang berpuasa sehingga mata tampak lebih jelas dan bercahaya. Kepekaan indra perasa pun meningkat.

9. Keasaman lambung
Tidak ada cara lain yang lebih baik untuk mengobati kelebihan asam lambung selain puasa.

10. Cairan empedu
Penderita penyakit lever akan kembali pulih dalam waktu yang sangat singkat dengan sering berpuasa, karena puasa dapat menambah banyaknya cairan empedu yang dibuang melalui usus.

11. Puasa dan radang colone
Pada gangguan radang colone, jumlah lendir yang dikeluarkan akan meningkat lebih banyak dan encer. Namun melalui puasa secara bertahap, keadaan itu akan terus membaik hingga sembuh secara total.

12. Puasa dan kesuburan wanita
DR. M. Syelton mengatakan, “Puasa cukup untuk mengembalikan kesuburan wanita. Ada banyak wanita yang sulit hamil karena pembuahan yang minim. Namun dengan puasa, mereka masih dapat melahirkan seperti membaiknya kondisi mereka secara umum.

13. Puasa dan imunitas tubuh
Seorang ahli, Brrzone, mengatakan, “Setelah melewati puasa dalam jangka waktu yang cukup lama, gigitan nyamuk tidak mengakibatkan gatal-gatal dan merah pada kulit seperti terjadi sebelum puasa. Dr. M. Syelton pernah mengobati pasien yang terkena anemia yang lumayan kronis dengan terapi puasa.

14. Batuk
Segala jenis batuk dapat dihentikan melalui puasa tidak lebih dari jangka waktu tiga hari

15. Radang
Di antara jenis radang yang dapat disembuhkan dengan puasa adalah radang hidung, radang limpa, asma, radang colone, dan radang kantung kemih.

16. Daya ingat
Membaiknya daya ingat adalah di antara tanda-tanda pengaruh positif puasa.


*Sedang membaca buku Indahnya Ramadhan di Rumah Kita, dan ingin memotivasi agar lebih semangat berpuasa.....namun, satu hal yang membuatku sedikit "galau", sepertinya melewati ramadhan itu lebih enak bila sudah berkeluarga.... *

Selasa, 31 Mei 2011

Tembakau, yang Dibenci yang Dicari

"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan" (Al-Baqarah:195)

Tanggal 31 mei. diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau sedunia. dalam hari tersebut, seluruh warga dunia diminta untuk tidak menghisab tembakau (rokok). tujuannya untuk mengurangi polusi yang ditimbulkan oleh asap rokok serta untuk menghormati para penderita penyakit paru-paru dan jantung, akibat racun nikotin dan tar.

Pembahasan mengenai hukum rokok/tembakau sendiri telah terjadi sejak dahulu. Mirip dengan masalah penerapan fikih kontemporer yang mengenal istilah khilafiyah. perdebatan yang sudah sampai wilayah ini, tak akan pernah selesai. Karena masing-masing pihak bersikukuh dengan pendapat masing-masing. Apakah hukumnya haram. Yang pasti dan perlu kita ingat, tidak ada yang mengatakan rokok itu halal.

Meski tidak ada ayat Al-Qur'an, hadits Nabi Muhammad SAW dan pendapat ulama 4 mazhab yang menyatakan rokok sebagai barang haram, ulama karismatik Quraish Shihab pernah mengungkapkannya di sebuah media massa. Ia punya alasan yang menguatkan pendapatnya bahwa rokok cenderung haram

Rokok, menurutnya memiliki dampak yang teramat buruk untuk kesehatan dan hal itu tidak sesuai dengan tujuan keberagamaan. padahal tujuan keberagamaan adalah memelihara kesehatan, akal, harta benda, dan kehormatan. Menurutnya, hukum Islam bisa diterapkan sesuai zaman.Kalau ada yang dampaknya buruk, jelas dilarang. Jika tidak terlalu, istilahnya makruh atau tidak disenangi.

Padahal dalam perkembangan dewasa ini, sudah banyak pakar dan dokter yang menyatakan, merokok bisa mengganggu kesehatn. Bahkan perusahaan-perusahaan rokok pun mengakuinya. Kalau tidak, tentu tidak akan dibuat pernyataan di kotak rokok. Merokok dapat menyebabkan kanker, penyakit jantung, gangguan hati, gangguan kehamilan dan janin. Begitulah kira-kira tulisannya lebih keras, "Smoke will kill you

Selain itu, rokok menyebabkan pemborosan. Biaya untuk mengobati penyakit yang diakibatkan rokok jauh lebih besar dibandingkan keuntungan dari cukai rokok yang diperoleh pemerintah.

Jadi bila kita sudah tahu mudharatnya, perusahaan rokok sudah mengakuinya dan pemerintah sudah mengingatkan, maka segalanya akan kembali pada kita. Mau mengharamkannya atau tetap ngeyel mencari alasan pembenaran? Wallahu'alam.

Sumber : Buletin Jum'at Insan Mulia

Minggu, 29 Mei 2011

Makruh Bukan berarti Boleh

Setiap perokok mungkin akan membenarkan tindakannya dengan berlindung pada hukum makruh. Tidak mau divonis haram. Tidak mau disalahkan. Toh, kebanyakan ulama tradisional juga masih mengkonsumsi rokok dengan berpegang pada dalil masing-masing, termasuk mengenakan hukum makruh pada rokok.

Hukum pembebanan syariat (taklify) terbagi lima : Halal, Sunnah, Haram, Mubah, Makruh. Sebagian lagi malah menambahkan dua jenis hukum lagi dari yang di atas, yakni : Makruh Tanzihiyan (cenderung ke halal) dan makruh tahrimiyan (cenderung ke haram).

Betapa mudahnya kita menggampangkan suatu hukum, atau cenderung mengikuti hukum yang gampang. Padahal hukum makruh tidak bisa dianggap remeh. Tapi kita malah sering menganggap, makruh itu sama ringannya dengan hukum mubah. Padahal tidak, sama sekali berbeda!

Sebagaimana hukum yang lain, makruh termasuk dalam hukum taklif seperti yang disebutkan di atas. Beberapa ulama mendefinisikan hukum makruh ini. Makruh menurut bahasa berarti ‘hal yang tidak disukai’. Sedangkan menurut istilah syara’, makruh berarti ‘pekerjaan yang dituntut untuk ditinggalkan dengan tidak kita rasakan bahwa akan disiksa apabila mengerjakannya’.

Bagian paling rendah dalam rangkaian perkara-perkara yang dilarang adalah perkara makruh; baik makruh tahrimi ialah perkara makruh yang lebih dekat kepada haram serta makruh tanzihi ialah yang lebih dekat kepada halal. Demikian menurut Yusuf Qardhawi.

Sedangkan istilah yang sering kita dengar, perkara makruh adalah perkara yang apabila ditinggalkan kita mendapatkan pahala, dan apabila dikerjakan tidak mendapatkan dosa. Mengapa kita meninggalkan pahala dan tidak mendapat apa-apa karena merokok?

Imam Syafei, ulama salah satu mahdzab yang fiqihnya banyak dianut oleh muslim Indonesia, menyebutkan, “Makruh kadang berarti haram”. Itu artinya, jika Imam Syafei mengatakan makruh pada suatu perkara, maka maksudnya adalah haram. Sikap seperti ini didasarkan kepada kehati-hatian di dalam mengistinbatkan suatu hukum.

Ada banyak pendapat ulama dalam mendefinisikan makruh. Dari segi bahasa dapat diartikan sebagai hal yang dibenci, atau yang tidak disukai. Tentu saja kita tidak ingin dibenci oleh siapapun, terutama oleh Allah. Sebagaimana perkara thalaq (cerai) yang memang tidak diharamkan oleh Allah, taapi sangat dibenci di sisi-Nya.

Bagaimana mungkin kita mengaku beriman, cinta, dan taat pada Allah, namun kita justru lebih menyukai hal-hal yang dibenci oleh Allah. Makruh juga bisa berarti haram. Ini merupakan sikap kehati-hatian para ulama.

Jadi jangan merasa aman jika kita melakukan sesuatu yang makruh. Sudah seharusnya kita meninggalkan sesuatu yang dibenci oleh Allah. Kalau memang ada hal-hal yang meragukan (kita tidak tahu halal atau haramnya), maka lebih baik kita tinggalkan.
Masih beranikah kita merasa aman dengan hukum makruh? Wallahu’alam bishawab.

Sumber : Buletin Jum'at Insan Mulia

Jumat, 08 April 2011

Reuni Yuk....

“…(Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shaleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya, dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan), “salamun ‘alaykum bima sabartum” maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu” (qs. Ar-Ra’d : 23-24)
Sungguh indah Allah swt menceritakan hamba-hamba-Nya yang beruntung pada hari kiamat nanti lantaran mereka diberi anugerah untuk masuk surga beserta orang tua, istri, keluarga dan keturunannya. Terlukis indah dalam Al-qur’an ketika mereka datang dengan rombongan keluarganya menuju surga dan para malaikat memberikan sambutan khusus pada mereka.
Mereka masuk surga bersama-sama seluruh keluarganya, seperti melakukan sebuah reuni pada hari akhirat. Reuni yang mereka adakan melintasi ruang dan waktu. Reuni yang sering kita lakukan di dunia adalah reuni yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Kita hanya dapat berkumpul dan berilaturahmi dengan orang-orang yang berada dalam satu tempat yang tidak berjauhan dan dalam satu zaman dengan kita. Kita tidak bisa mengadakan silaturahim dengan orang tua kita yang sudah meninggal. Tetapi nanti pada hari akhirat, ada orang yang bisa melakukan reuni kembali dengan seluruh keluarganya, baik dengan yang sebelum maupun dengan yang sesudah mereka.
Timbul pertanyaan dalam benak, siapa gerangan orang yang beruntung bisa mengadakan silaturahim pada hari akhirat beserta seluruh keluarganya? Dalam surah Al-Ra’d disebutkan bahwa salah satu tanda orang beruntung nanti di akhirat ialah orang yang di dunianya senang menyambung silaturahim. “…dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkah supaya dihubungkan” (surah Al-Ra’d : 21). Karena di dunia mereka senang menyambungkan tali kekeluargaan, maka Allah sambungkan tali kekeluargaan mereka nanti pada hari akhirat.
Ketik kita shalat tahajud, kita dianjurkan untuk memohonkan ampunan bagi diri sendiri, bagi orang tua serta bagi 40 orang yang kita kenal. Nama-nama mereka harus disebut satu persatu pada rakaat terakhir shalat witir setelah membaca qunut dan istighfar. Untuk apa qunut dan istighfar bagi orang-orang yang namanya kita sebut itu? Tiada lain untuk menyambungkan tali silaturahim ruhaniah antara kita dengan orang tua dan orang-orang yang kita kenal. (Jalaluddin Rakhmat, 2008:116).
Ruh kita dapat bergabung dengan ruh orang suci. Caranya adalah dengan mengucapkan salam kepada mereka secara khusus dan langsung. Seperti ketika kita shalat, kita ucapkan salam kepada kafilah orang-orang yang suci itu, yaitu kepada Rasulullah saw, “Assamu’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wa barakatuh” sesudah itu kita mengucapkan salam kepada ruh kaum mukmin” Assalamu’alaina wa’ala ibadillahi shalihin” dan pada akhir shalat, kita ucapkan salam kepada semua orang di sekitar kita. “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh’ kita ucapkan salam untuk menggabungkan ruh kita dengan para arwah yang suci. Ucapan salam di akhir shalat bukan ditujukan kepada orang-orang yang hadir di sekeliling kita, melainkan ditujukan untuk para arwah yang suci itu. Bukan saja arwah yang sudah meninggal, tetapi juga yang masih hidup.
Jalin silaturahim dengan menggabungkan ruh kita dengan ruh orang-orang suci setelah shalat. Kirimkan Al-Fatihah dan istighfar pada orang tua, saudara dan kaum mukminin.
Untuk keluarga besarku yang masih hidup dan yang sudah meninggal, semoga nanti kita bisa berkumpul bersama di surga-Nya. Teman-temanku, sertakan namaku dalam do’a-do’a tulusmu agar kelak di akhirat ukhuwah kita tetap terjalin, dan mengadakan reuni AKBAR yang Allah dan Rasul-Nya beserta orang-orang shaleh menjadi saksi pertemuan kita….
***Mulai saat ini, aku akan membuat list nama-nama keluarga yang jarang dikunjungi, dan nama-nama teman yang ingin aku bersamanya nanti di akhirat…*

Senin, 06 Desember 2010

Cahayakan Hatiku

Ku ingin berislam dengan kaffah dan beriman. Menjaga hatiku agar selalu condong pada cahaya keimanan. Aku tahu,jika hati baik itulah hati yang beriman.

Ku ingin berislam dengan kaffah, dan menerima ajakan untuk beriman agar bertambah keimananku. Bukankah jika hati baik, ia akan memenuhi panggilan iman dan berupaya untuk selalu menambahnya seperti dalam Firman Allah :
"Ya Tuhan kami, kami telah mendengar orang yang memanggil untuk beriman maka segera kami beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, tutuplah kesalahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami bersama orang yag berbakti" (QS. 3: 193 )

Ku ingin berislam dengan kaffah dan bertafakkur. Melepaskan hati agar hanya terikat pada Allah. Karena ku tahu, hati yang baik akan mengajakku untuk selalu memikirkan tentang diri, penciptaan langit, bumi, hidayah, mati, masa lalu dan masa depan, surga tempat yang disediakan Allah untuk hamba-Nya yang beriman. Dan nerakalah seburuk-buruk azab yang diberikan kepada orang yang hatinya tak tersentuh cahaya Islam.

Ajaklah aku berislam dengan kaffah agar aku beriman. Bahwa sifat dasar manusia itu pelupa, tapi beruntunglah jika hati baik dan selalu ingat kepada Allah, tidak buta.
"Sesungguhnya orang bertaqwa apabila kena pengaruh syetan mereka cepat-cepat ingat, seketika itu juga mereka melihat" (QS. 7:201 )

Aku tahu bahwa jika hati memiliki sifat baik, ia akan bersinar, di mana cahaya keimanan akan memancarkan sinar bersih yang selanjutnya membuahkan amal shaleh. Sebaliknya apabila pijar cahaya itu melemah redup, bahkan mati, maka keadaan tidak akan berubah keuali terus berusaha menyalakannya dengan cahaya hidayah.
"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah apa yang ada pada suatu kaum, sehingga mereka merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri" (QS. 13:11)

Akhirnya, ajaklah aku berislam dengan kaffah agar aku tahu bahwa hati itu tidak akan berubah baik kecuali apabila iman tumbuh dengan mantap dan mengakar di dalamnya.

Senin, 01 November 2010

Ruh Sebuah Keputusan

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan yang tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur". (QS.An-Nahl : 78 )

Mari kita mengingat akan lahirnya kkita di dunia, yang tidak memiliki apa-apa dan tidak bergantung pada belas kasih dan bimbingan orang tua dan orang disekitar kita. Hidup kita nyaris tak punya pilihan dan keputusan penting, karena belum memiliki pengetahuan tentang hidup ini.

Melewati fase itu, kita mulai mencoba mengurus diri. Dan itulah awal kita memiliki tanggung jawab pada diri sendiri;memilih sekolah, belajar sungguh-sungguh, memilih aktifitas yang bermanfaat, dan sebagainya. Fase berikutnya, kita mulai menemukan jati diri kita. Ternyata banyak peran yang harus kita lakoni, dari yang kecil hingga yang berat dan rumit. Di sinilah keputusan-keputusan penting mulai kita ambil; keputusan-keputusan yang sangat menentukan dalam hidup kita, sehingga tidak ada kata main-main atau sekedar coba-coba.

Ruh sebuah keputusan terkait erat dengan 2 hal. Pertama, motivasi atau tujuan dari keputusan itu untuk apa. Kedua, bagaimana proses keputusan itu kita jalani. Karena itu, dalam keputusan-keputusan yang membuat kita berat, atau menghadapkan kita pada dua pilihan yang membingungkan, kita diajarkan untuk melibatkan Allah langsung. Kita mengenalnya dengan sholat istikharah, sholat meminta petunjuk dan pilihan yang baik.

Diriwayatkan dari Jabir, "Bahwa rasulullah mengajarkan sholat sunnah istikharah kepada kami dalam segala hal. Sebagaimana beliau mengajarkan kepada kami sebuah surat Al-Qur'an, seraya berkata : "Apabila salah seorang di antara kalian menghendaki sesuatu, maka hendaklah ia mengerjakan sholat dua rakaat selain sholat fardhu. Kemudian hendaklah ia berdo'a : "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk yang baik dengan pengetahuan-Mu. Aku memohon kemurahan yang sangat luas, karena sesungguhnhya Engkau berkuasa sedangkan aku tidak. Engkau maha mengetahui segala yang ghaib. Ya Allah jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebutkan jenis perkaranya) baik bagiku, bagi agama, bagi kehidupanku saat ini dan masa depan, maka mudahkanlah ia bagiku. Kemudian berkahilah ia bagiku. Sedang apabila Engkau mengetahui bahwa perkara itu buruk bagiku, agama serta kehidupanku saat ini dan masa depanku, maka jauhkanlah ia dariku atau aku darinya, berikanlah kepadaku kebaikan dimanapun adanya dan jadikanlah aku orang yang ridha dengan pemberian-Mu". (HR.Bukhari)

Penyandaran dengan sengaja, dan bukan dengan kebetulan itulah yang mendefinisikan niat adalah sebuah keputusan. Niat itulah keputusannya. karena itulah Abdullah bin Mubarak mengatakan, "betapa banyak pekerjaan kecil bernilai besar karena niat. dan betapa banyak pekerjaan besar yang bernilai kecil".

Bagaimana dengan kita pribadi? Apakah dalam pengambilan keputusan melibatkan Allah di dalamnya???

Wallahu alam bish shawab....