PERANAN AGAMA DAN PSIKOLOGI
DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING
A. Pendahuluan
Agama dalam kehidupan individu merupakan kebutuhan fitri dari semua manusia. Karena itu agama haruslah menjadi landasan dalam bimbingan dan konseling. Setiap individu mempunyai berbagai macam karakter yang berbeda, maka psikologi dalam bimbingan dan konseling menjadi sangat dibutuhkan untuk penyelesaian berbagai masalah yang dihadapi individu.
Maka dari itu untuk mengungkapkan tingkah laku seseorang yang beragam dan menggambarkannya dalam bentuk skala angka atau klasifikasi tertentu digunakan tes psikologi yang dimaksudkan untuk memperoleh informasi dari anak didik atau klien.
Pada makalah ini, kami membahas apa pentingnya peran agama dan psikologi dalam bimbingan dan konseling serta tes psikologi yang merupakan bagian dari bimbingan dan konseling itu sendiri.
B. Peran Agama Dalam Bimbingan dan Konseling
Agama dalam kehidupan individu merupakan kebutuhan fitri dari semua manusia. Allah telah menciptakan manusia dan telah meniupkan ruh-Nya, sehingga iman kepada Allah merupakan sumber ketentraman, keamanan dan kebahagiaan manusia, sebagaimana firman Allah yang artinya : “Ingatlah bahwa dengan mengingat Allah maka hati menjadi tenteram”.
Agama sebagai pedoman hidup bagi manusia telah memberikan petunjuk (hudan) tentang berbagai aspek kehidupan, termasuk pembinaan atau pengembangan mental (rohani) yang sehat. Sebagai petunjuk hidup bagi manusia dalam mencapai mentalnya yang sehat, agama berfungsi sebagai berikut :
a. Memelihara fitrah
Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Namun manusia mempunyai hawa nafsu (naluri atau dorongan untuk memenuhi kebutuhan/keinginan), dan juga ada pihak luar yang senantiasa berusaha menggoda atau menyelewengkan manusia dari kebenaran, yaitu setan, manusia sering terjerumus melakukan perbuatan dosa. Agar manusia dapat mengendalikan hawa nafsunya dan terhindar dari godaan setan (sehingga dirinya tetap suci), maka manusia harus beragama, atau bertakwa kepada Allah, yaitu beriman dan beramal shaleh, atau melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Apabila manusia telah bertakwa kepada Tuhan, berarti dia telah memelihara fitrahnya, dan ini juga berarti bahwa dia termasuk orang yang akan memperoleh rahmat Allah.
b. Memelihara jiwa
Agama sangat menghargai harkat dan martabat atau kemuliaan manusia. Dalam memelihara kemuliaan jiwa manusia, agama mengharamkan atau melarang manusia melakukan penganiayaan, penyiksaan atau pembunuhan, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain.
c. Memelihara akal
Allah telah memberikan karunia kepada manusia yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya, yaitu akal. Dengan akalnya inilah manusia memiliki kemampuan untuk membedakan yang baik dan buruk, atau memahami dan menerima nilai-nilai agama, dan mengembangkan ilmu dan teknologi, atau mengembangkan kebudayaan. Melalui kemampuan inilah manusia dapat berkembang menjadi makhluk yang berbudaya (beradab). Karena pentingnya peran akal ini, maka agama memberi petunjuk kepada manusia untuk mengembangkan dan memeliharanya.
d. Memelihara keturunan
Agama mengajarkan kepada manusia tentang cara memelihara keturunan atau sistem regenerasi yang suci. Aturan atau norma agama untuk memelihara keturunan itu adalah pernikahan. Menurut Zakiah Darajat (1982) salah satu peranan agama adalah sebagai terapi (penyembuhan) bagi gangguan kejiwaan. Pengamalan agama dalam kehidupan sehari-hari dapat membentengi seseorang dari kejatuhan kepada gangguan jiwa dan dapat pula mengembalikan kesehatan jiwa bagi orang yang gelisah.
Dalam layanan bimbingan dan konseling unsur-unsur agama tidak boleh diabaikan dan justru harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk mencapai kesuksesan dan juga sebagai upaya konselor dalam membahagiakan klien. Dengan demikian peranan agama dalam bimbingan dan konseling adalah :
1. Agama sebagai penenang jiwa, ketika individu dihadapkan pada suatu masalah maka akan terjadi konflik pada hatinya dan suasana hati dan pikirannya tidak menentu, peran agama di sini, individu itu dituntut untuk mandiri kepada Tuhannya karena akan memberi ketenangan dalam dirinya dan mampu mengatasi masalahnya.
2. Agama berperan sebagai motivator umtuk memiliki sikap dan tingkah laku sesuai dengan tuntunan agama.
Sementara, dalam ungkapan yang senada, Jalaluddin mengatakan bahwa peranan agama dalam kehidupan manusia adalah :
1. Agama berperan sebagai edukatif. Agama mengandung dua unsur yaitu melarang dan menyuruh, kedua unsur ini mempunyai latar belakang mengarahkan dan melaukukan bimbingan agar penganut menjadi baik dan terbiasa dengan yang baik menurut ajaran agama.
2. agama berperan sebagai sosial kontrol, yaitu agar individu menjadikan agama sebagai norma, sehingga individu dapat mengontrol dirinya sudah sesuai belum karakter dengan norma agama yang dilaksanakan.
3. Agama berperan sebagai kreator, yaitu individu yang dalam menghadapi masalahnya untuk melakukan hal-hal yang produktif agar dapat melakukan hal-hal yang berguna bagi dirinya sendiri.
Pemberian layanan bimbingan semakin diyakini kepentingannya bagi anak atau siswa, mengingat dinamika kehidupan masyarakat dewasa ini cenderung lebih komplek, terjadi perbenturan antara berbagai kepentingan yang bersifat kompetitif baik menyangkut aspek politik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, maupun aspek-aspek yang lebih khusus tentang perbenturan ideologi, antara yang hak (benar) dan batal (salah).
Untuk memanfaatkan unsur-unsur agama tersebut dalam bimbingan dan konseling seorang konselor tidak harus menjadi ulama atau ahli agama terlebih dahulu, atau mengubah suasana konseling yang netral menjadi pastoral. Pemanfaatan unsur-unsur agama itu hendaknya secara wajar, tidak dipaksakan dan tetap menempatkan klien sebagai seorang yang bebas dan berhak mengambil keputusan sendiri. Untuk tetap memberikan peran positif agama dalam bimbingan dan konseling sambil menghindari hal-hal yang tidak diinginkan maka konselor hendaknya:
1. Konselor merupakan orang yang beragama dan mengamalkan ajaran agama dengan baik, keimanan dan ketakwaannya sesuai dengan agama itu.
2. Konselor sedapat-dapatnya mampu mentransfer kaidah-kaidah agama secara garis besar yang relevan dengan permasalahan klien.
3. Konselor harus benar-benar memperhatikan dan menghormati agama klien, apabila konselor berbeda agama, maka pemasukan unsur-unsur agama tersebut hendaknya seminimal mungkin dan hanya unsur-unsur agama yang tidak mempertentangkan agama satu dengan agama yang lainnya. Tetapi apabila konselor dan klien seagama, maka pemanfaatan unsur-unsur agama lebih intensif sesuai dengan tahap perkembangan suasana konseling.
Landasan religius dalam bimbingan dan konseling mengimplikasikan bahwa konselor sebagai “helper”, pemberi bantuan dituntut untuk memiliki pemahaman akan nilai-nilai agama, dan komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya sehari-hari, khususnya dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling pada klien atau peserta didik. Konselor seyogianya menyadari bahwa memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada klien merupakan salah satu kegiatan yang bernilai ibadah, karena di dalam proses bantuannya terkandung nilai “amar ma’ruf nahi munkari” (mengembangkan kebaikan dan mencegah keburukan). Agar layanan yang diberikan itu bernilai ibadah, maka kegiatan tersebut harus didasarkan kepada keikhlasan dan kesabaran.
Jadi, peran agama dalam bimbingan dan konseling sangatlah penting. Karena agama sebagai pedoman hidup bagi manusia, khususnya anak didik yang memiliki masalah atau kegelisahan dalam kehidupannya sehari-hari dan seluruh manusia pada umumnya. Pada diri seorang konselor pun agama haruslah menjadi landasan dalam melakukan bimbingan dan koseling terhadap klien, karena hal ini merupakan salah satu kegiatan yang bernilai ibadah.
C. Peran Psikologi Dalam Bimbingan dan Konseling
Sebagaimana telah dipahami bahwa psikologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari gejala-gejala kejiwaan manusia. Kajian psikologi merupakan kajian tentang tingkah laku individu. Dalam kegiatan bimbingan dan konseling hendaknya aspek psikologi perlu diikutsertakan, karena peranan psikologi dalam bimbingan dan konseling berarti memberikan pemahaman tentang tingkah laku individu yang menjadi sasaran layanan (klien).
Pada hakikatnya individu diciptakan dari dua unsur yaitu jasmani dan rohani, keseimbangan kehidupan kedua unsur ini dapat menjadikan individu dewasa yang sehat dan sejahtera lahir dan batin. Titik beratnya untuk kehidupan lebih lanjut, adalah terletak pada sejauhmana keseimbangan kedua unsur kehidupan tersebut dapat diwujudkan dalam bimbingan dan konseling.
Dasar-dasar psikologis dari pekerjaan bimbingan bertumpu pada perbedaan-perbedaan diantara individu-individu, perbedaan-perbedaan di dalam individu, keterhubungan antara kesanggupan dan keperluan, kurva mengenai pertumbuhan belajar, sifat kepribadian, dan penyesuaian.
Dalam hubungan ini, petugas bimbingan perlu sekali mengetahui akan kemampuan dan keterbatasan individu-individu yang dilayaninya, agar supaya bimbingan yang diberikannya dapat mengenai sasaran yang tepat dan layak, dalam arti agar individu-individu itu dapat diarahkan kepada pengembangan diri mereka secara wajar dan layak pula.
Peranan aspek psikologi dalam bimbingan dan konseling yang bertujuan membantu klien dalam memecahkan masalahnya yaitu :
1. Peran psikologi sebagai metode dalam mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh klien.
2. Peran psikologi sebagai diagnosis masalah agar dapat dicari solusi masalah yang tepat yang sesuai dengan karakter masalah klien dan kejiwaan klien.
3. Peran psikologi sebagai motivator kepada klien untuk tumbuh dan berkembang secara mandiri dalam menghadapi masalah sendiri.
4. Peran psikologi sebagai pengevaluasi atas solusi masalah yang dihadapi klien, sudah berjalan secara maksimal atau belum.
Agar perkembangan pribadi peserta didik itu dapat berlangsung dengan baik, dan terhindar dari munculnya masalah-masalah psikologis, maka mereka perlu diberikan bantuan yang bersifat pribadi. Bantuan yang dapat memfasilitasi perkembangan peserta didik melalui pendekatan psikologis adalah layanan bimbingan dan konseling. Bagi konselor memahami aspek-aspek psikologis pribadi klien (konsele) merupakan tuntutan yang mutlak, karena pada dasarnya layanan bimbingan dan konseling merupakan upaya untuk memfasilitasi perkembangan aspek-aspek psikologis, pribadi atau perilaku klien, sehingga mereka memiliki pencerahan diri dan mampu memperoleh kehidupan yang bermakna ( kehidupan yang maslahat dan sejahtera), baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
Aspek psikologis dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan pribadi yang perlu dipahami oleh konselor atau pembimbing agar dapat memberikan layanan bimbingan dan konseling secara akurat dan bijaksana, dalam upaya memfasilitasi individu atau peserta didik mengembangkan potensi dirinya secara optimal, yaitu tentang :
1. Motif dan Motivasi
Salah satu aspek psikis yang penting diketahui adalah motif, karena keberadaannya sangat berperan dalam tingkah laku individu. Pada dasarnya tidak ada tingkah laku yang tanpa motif, artinya setiap tingkah laku individu itu bermotif. Konselor perlu memahami motif klien dalam bertingkah laku. Motivasi erat kaitannya dengan perhatian. Tingkah laku yang didasari oleh motif tertentu biasanya terarah pada suatu objek yang sesuai dengan isi atau tema kandungan motifnya.
2. Pembawaan dan Lingkungan
Setiap individu dilahirkan ke dunia dengan membawa kondisi mental fisik tertentu. Apa yang dibawa sejak lahir, itulah yang sering disebut dengan pembawaan. Kondisi pembawaan itu selanjutnya akan terus tumbuh dan berkembang. Akan tetapi pertumbuhan dan perkembangan itu tidak dapat terjadi dengan sendirinya, tetapi memerlukan sarana dan prasarana yang semuanya berada dalam lingkungan individu yangh bersangkutan. Optimalisasi pertumbuhan dan perkembangan isi pembawaan itu amat tergantung pada tersedia dan dinamika prasarana serta sarana yang ada di lingkungan itu.
Lingkungan adalah segala hal yang mempengaruhi individu, sehingga individu itu terlibat atau terpengaruh karenanya. Dengan kata lain bahwa hubungan antara pembawaan manusia dengan lingkungan itu bersifat saling mempengaruhi (reciprocal influencies).
3. Perkembangan Individu
Setiap individu dilahirkan ke dunia dengan membawa hereditas tertentu. Hal ini berarti bahwa karakteristik individu diperoleh melalui pewarisan dari pihak orang tuanya. Karakteristik tersebut menyangkut fisik (seperti struktur tubuh, warna kulit, dan bentuk rambut) dan psikis atau sifat-sifat mental (seperti emosi dan kecerdasan). Hereditas merupakan aspek bawaan dan memiliki potensi untuk berkembang. Seberapa jauh perkembangan individu itu terjadi dan bagaimana kualitas perkembangannya, bergantung kepada kualitas hereditas dan lingkungan yang mempengaruhinya. Lingkungan (environment) merupakan faktor penting disamping hereditas yang menentukan perkembangan individu.
Perkembangan dapat berhasil dengan baik, jika faktor-faktor tersebut bisa saling melengkapi. Untuk mencapai perkembangan yang baik harus ada asuhan terarah. Asuhan dalam perkembangan dengan melalui proses belajar ering disebut pendidikan.
Tugas-tugas perkembangan merupakan suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu. Apabila berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menuntaskan perkembangan berikutnya. Apabila gagal, maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas perkembangan berikutnya. (Havighurst, 1961).
Dalam melaksanakan tugas-tugas pelayanannya konselor menghadapi individu-individu yang sedang berkembang. Oleh karena itu, selain konselor harus memahami secara terpadu kondisi berbagai aspek perkembangan individu pada saat pelayanan bimbingan dan konseling diberikan, juga harus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depannya. Dengan demikian, dinamika perkembangan klien yang telah berlangsung sebelumnya akan dapat menjadi dasar upaya diagnosis, prognosis, dan pemberian bantuan bagi individu.
4. Belajar, balikan dan penguatan.
Dalam seluruh proses pendidikan, belajar merupakan kegiatan inti. Pendidikan itu sendiri dapat diartikan sebagai bantuan perkembangan melalui kegiatan belajar. Secara psikologis belajar dapat diartikan sebagi proses memperoleh perubahan tingkah laku (baik dalam kognitif, afektif, maupun psikomotor) untuk memperoleh respon yang diperlukan dalam interaksi dengan lingkungan secara efisien. Dalam kegiatan belajar dapat timbul berbagai masalah baik bagi pelajar itu sendiri maupun bagi pengajar.
Pengetahuan tentang hasil belajar (baik yang diketahui sendiri maupun yang berasal dari orang lain) merupakan balikan (feedback) bagi individu yang belajar, terutama tentang sampai berapa jauh kesuksesannya dalam upaya belajar itu. Kegiatan belajar tidak terbatas oleh waktu, tempat, keadaan, dan objek yang dipelajari, ataupun oleh usia. Untuk keperluan itu, individu memerlukan penguatan (reinforcement).
5. Kepribadian
Kepribadian adalah salah satu dari konsep-konsep yang paling banyak yang paling banyak mengandung pengertian yang meliputi seluruh sistem dari kecenderungan-kecenderungan dinamis yang membedakan seorang pribadi dari yang lain. Kepribadian adalah apa yang diperlihatkan seseorang dalam dirinya. Kepribadian seseorang individu adalah hasil pengaruh dari kedua faktor, hereditas dan lingkungan, termasuk disini kultur, masa lampau dan masa kini. Dengan perkataan lain kepribadian bukan hanya konsepsi psikoogis saja, tetapi juga konsepsi kultural yang menunjukkan bagaimana seseorang bertindak sesuai dengan perkembangan nilai tertentu dalam masyarakat.
Jadi, peran psikologi dalam bimbingan dan konseling adalah membantu seorang konselor dalam memahami karakter individu-individu yang beragam dan sebagai sarana untuk mencapai hasil terbaik atau kesuksesan dari layanan bimbingan dan konseling agar anak didik dapat mengembangkan potensi yang ada pada dirinya, yaitu meliputi: motif dan motivasi, pembawaan dan lingkungan, perkembangan individu, belajar, balikan dan penguatan serta kepribadian.
D. Test Psikologi Merupakan Bagian Dalam Bimbingan dan Konseling
Tes merupakan prosedur untuk mengungkapkan tingkah laku seseorang dan menggambarkannya dalam bentuk skala angka atau klasifikasi tertentu dan Testing merupakan suatu metode penelitian psikologis untuk memperoleh informasi tentang berbagai aspek dalam tingkah laku dan kehidupan batin seseorang. Menurut Anne Anastasi tes adalah alat pengukur yang mempunyai standard yang obyektif sehingga dapat digunakan secara meluas, serta dapat betul-betul digunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu.
Tes Psikologi ini merupakan suatu kegiatan pengukuran atau penilaian melalui upaya yang sistematik untuk mengungkap aspek aspek psikologi tertentu dari individu. Tes Psikologi juga merupakan seperangkat alat ukur yang digunakan untuk memperolleh informasi tentang pikiran, perasaan, persepsi, dan perilaku seseorang guna membuat keputusan penilaian tentang seseorang.
Test psychologis atau psychodiagnostik pada umumnya dan merupakan bagian mutlak dalam counseling pada khususnya, sebab tes psikologi mempunyai nilai yang sangat penting dalam konseling, efektivitas dari tes psikologi yang optimal itu bergantung individu yang berlainan dari kasus yang satu kepada kasus yang lain. Itulah sebabnya suatu pemeriksaan seperti tes psikologi itu mempunyai subjektif konsekuen yang jauh, dan hendaknya janganlah dipandang dari satu sudut saja sebagai bahan informasi, akan tetapi juga harus ditinjau arti konselingnya. Dengan perkataan lain tes psikologi dapat memberikan informasi yang sungguh-sungguh diperlukan oleh klien dalam menetukan pilihanya yang terakhir, dengan syarat bahwa klien sudah berada dalam suatu keadaan kewajiban yang memungkinkan ia sanggup mengintegrasi hasil testing itu dengan sewajarnya.
Tes psikologi dipergunakan untuk mengumpulkan data yang bersifat potensiil seperti: intelegensi, bakat, minat, kepribadian, sikap, dan sebagainya. Untuk melaksanakannya dapat dipergunakan tes psikologi yang sudah tersedia. Tes psikologi tidak dapat diselenggarakan oleh sembarangan orang, tetapi harus oleh yang berwewenang untuk itu. Tes-tes psikologis merupakan tes yang sudah distandarisasikan, artinya sudah ditetapkan tingkat kebaikannya.
Jadi, tes psikologi merupakan bagian dalam bimbingan dan konseling sebab tes psikologi ini mempunyai nilai yang sangat penting dalam konseling untuk mengetahui data-data yang diperlukan yang bersifat potensiil seperti intelegensi, bakat, minat, kepribadian, sikap dan sebagainya.
E. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa peran agama dalam bimbingan dan konseling sangatlah penting. Karena agama sebagai pedoman hidup bagi manusia, khususnya anak didik yang memiliki masalah atau kegelisahan dalam kehidupannya sehari-hari dan seluruh manusia pada umumnya. Pada diri seorang konselor pun agama haruslah menjadi landasan dalam melakukan bimbingan dan koseling terhadap klien, karena hal ini merupakan salah satu kegiatan yang bernilai ibadah.
Peran psikologi dalam bimbingan dan konseling adalah membantu seorang konselor dalam memahami karakter individu-individu yang beragam dan sebagai sarana untuk mencapai hasil terbaik atau kesuksesan dari layanan bimbingan dan konseling agar anak didik dapat mengembangkan potensi yang ada pada dirinya, yaitu meliputi: motif dan motivasi, pembawaan dan lingkungan, perkembangan individu, belajar, balikan dan penguatan serta kepribadian.
Tes psikologi merupakan bagian dalam bimbingan dan konseling sebab tes psikologi ini mempunyai nilai yang sangat penting dalam konseling untuk mengetahui data-data yang diperlukan yang bersifat potensiil seperti intelegensi, bakat, minat, kepribadian, sikap dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Lusikooy, W. 1983. Bimbingan dan Penyuluhan di Perguruan Tinggi. Jakarta: Gunung Agung.
Partowisastro, H. Koestoer. 1987. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah-sekolah Jilid II. Jakarta: Erlangga.
Sudijono, Anas. 2009. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Suryana, Ermis. 2010. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Palembang: Grafika Telindo Press.
Yusuf, Syamsu dan A. Juntika Nurihsan. 2006. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.
http://mediahatikita.blogspot.com/2008_11_01_archive.html
Senin, 27 Desember 2010
Tafsir Ayat 12-16 QS. Al-Mukminun
A. PENDAHULUAN
Setelah menceritakan keadaan orang-orang yang berbahagia dan beruntung, selanjutnya Allah menceritakan permulaan dan kesusahan mereka serta kesudahan selain mereka di antara umat manusia. Ayat-ayat ini menunjukkan keagungan pemberian Allah dan menganjurkan manusia untuk memiliki sifat-sifat terpuji. Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa semua itu berkesudahan pada suatu batas, yaitu hari kiamat pada hari kalian dibangkitkan dan dihisab, atas amal yang telah diperbuat. Jika amal itu baik, maka balasannya pun baik, dan jika buruk maka balasannya pun buruk.
Pada ayat yang di bahas dalam makalah ini, pemakalah menuntut agar senantiasa sadar pada atribut yang dimiliki Allah, yaitu sebagai Pencipta dan Penguasa pada hari berbangkit. Sebab, keyakinan pada dua kenyataan ini merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan pola hidup seseorang, sehingga bagi mereka yang dalam hatinya masih terdapat keraguan akan hari tersebut dituntut agar segera melakukan perenungan terhadap proses penciptaan manusia yang akan dijelaskan dalam makalah ini. Sebab, dengan adanya upaya perenungan terhadap proses penciptaan, kemungkinan besar ia akan tersadar pada kekeliruannya.
B. PEMBAHASAN
1. Qur’an Surat Al-Mukminun 12-16
•
Artinya : “ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kalian benar-benar akan mati. Kemudian sesungguhnya kalian akan dibangkitkan (dari kubur kalian) di hari kiamat.”
2. Makna Mufrodat :
- As-Sulalah : Apa yang dicabut dan dikeluarkan dari sesuatu. Kadang bersifat disengaja, seperti saripati sesuatu seperti buih susu, kadangpula bersifat tidak disengaja, seperti tahi kuku dan debu rumah.
- Qarar : Tempat menetap
• - Makin : Yang kokoh
- Al-alaqa : Darah beku
- Al-mudgah : Sepotong daging sebesar apa atau yang bisa dikunyah
- ‘izhaaman : Tulang
- lahman : Daging
- khalqan aakhara : Ciptakan yang lain
اللة - Fatabarakallah : Maka Maha Tinggi dan Maha Suci Allah
3. Asbabun Nuzul :
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa pandangan Umar sejalan dengan kehendak Allah dalam empat hal, antara lain mengenai turunnya ayat walaqod kholaqnal insana min sulalatim min tin ( dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah (QS. Al-Mukminun:12) sampai khalqan akhar… (makhluk yang berbentuk lain) (QS.Al-Mukminun:14). Pada waktu mendengar ayat tersebut, Umar berkata : “Fatabarakallahu ahsanul khaliqin” ( Maka Maha suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik). Maka turunlah akhir ayat tersebut (QS.Al-Mukminun:14) yang sejalan dengan ucapan dengan Umar tersebut.
4. Tafsir / Penjelasan
Artinya : “ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
Kata sulalah berasal dari kata salla yang mengandung arti mengambil, mencabut, menghunus, mencabut secara pelan-pelan. As Shawi mengartikan sulalah dengan “sesuatu yang disarikan dari sesuatu yang lain”. Dari pengertian ini tersirat bahwa yang diambil dari tanah itu hanyalah sedikit, tetapi secara substansi mencakup apa yang ada di dalam bumi (saripati tanah).
Sesungguhnya Kami telah menciptakan asal jenis ini dan individunya yang pertama, yaitu Adam as, dari saripati tanah pilihan yang tidak kotor. Sekelompok mufassir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan manusia di sini ialah Adam. Mereka mengatakan bahwa air mani lahir dari darah yang terjadi dari makanan, baik yang bersifat hewani maupun yang bersifat nabati. Makanan yang bersifat hewani akan berakhir pada makanan yang bersifat nabati, dan tumbuhan lahir dari saripati tanah dan air. Jadi pada hakikatnya manusia lahir dari saripati tanah, kemudian saripati itu megalami perkembangan kejadian hingga menjadi air mani.
•
Artinya : “Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan dalam tempat yang kokoh (rahim)”.
Kemudian Kami tempatkan saripati air mani itu dalam tulang rusuk sang suami yang dalam persetubuhan dengan istrinya ditumpahkan ke dalam rahimnya, suatu tempat penyimpanan yang kokoh bagi janin sampai saat kelahirannya.
Artinya : “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging”.
Kemudian Kami ubah air mani itu dari sifatnya yang kedua menjadi sifat darah beku. Kemudian darah beku itu Kami jadikan sepotong daging sebesar apa yang dapat dikunyah.
Artinya : “dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging”.
Kemudian segumpal daging itu Kami jadikan sedemikian rupa dan bagian-bagiannya Kami uraikan. Maka, bagiannya yang termasuk dalam pembentukan tulang, Kami jadikan tulang, dan yang termasuk substansi daging, Kami jadikan daging. Sedangkan zat-zat makanan meliputi semua itu dan tersebar di dalam darah. Maka Kami jadikan daging itu sebagai penutupnya dalam arti yang menutupi tulang, sehingga menyerupai pakaian yang menutupi tubuh.
Artinya : “Kemudian Kami jadikan dia yang (berbentuk) lain”.
Kemudian Kami jadikan dia makhluk lain yang berbeda sama sekali dengan kejadiannya yang pertama, karena Kami meniupkan ruh padanya dan menjadikannya manusia setelah sebelumnya menyerupai benda mati yang bisa berbicara, mendengar dan melihat, serta Kami titipkan padanya sekian banyak keanehan, baik lahir maupun batin.
Artinya : “Maka, Maha Suci Tuhan kami Yang Maha Kuasa. Dia adalah Pengukur dan Pembentuk Yang Paling Baik”.
Kemudian, Rasulullah saw. bersabda, “Demikianlah ayat-ayat itu diturunkan, ya Umar”. (Hadis ini dikeluarkan oleh At-Tayalisi)
Artinya : “Kemudian, sesudah itu sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati”.
Setelah kalian, wahai manusia, menetap di dunia dan ajal kalian selesai, kalian benar-benar akan mati.
Artinya :”Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari Kiamat.”
Setelah kalian meninggal dan menetap di alam kubur, kalian akan dibangkitkan kembali untuk dihisab di padang yang menghampar luas pada Hari Kiamat. Kemudian pada hari kiamat kalian akan dibangkitkan dari kubur untuk dihisab, lalu diberi balasan berupa pahala atau siksa, karena setiap orang akan mendapat balasan amalnya. Jika amal itu baik, maka baik pula balasannya, dan jika amal itu buruk, maka buruk pula balasannya.
Allah SWT berfirman menceritakan bagaimana manusia itu diciptakan yang berasal dari saripati tanah, ialah Adam, kemudian keturunannya diciptakan dari air mani yang tersimpan dalam tempat yang kokoh, ialah rahim ibunya, yang memang tersedia untuk itu dan setelah melewati suatu masa tertentu dijadikanlah air mani itu segumpal darah, kemudian segumpal darah itu menjadi segumpal daging dan dari segumpal daging itu terciptalah tulang belulang yang berbentuk kepala, tangan dan kaki, kemudian dibungkusnya tulang-tulang itu dengan daging, otot dan urat-urat, maka terciptalah suatu makhluk yang berbentuk lain dan kepadanyalah ditiupkan roh, diberinya sarana pendengaran, penglihatan, penciuman, bersuara, berpikir, dan bergerak, sehingga lengkaplah ia menjadi manusia yang utuh, sempurna sebagai makhluk Allah yang pilihan dan termulia.
Allah berfirman “Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain, janin yang lahir dari perut ibunya sebagai bayi, tumbuh menjadi balita, balita menjadi remaja, kemudian menjadi manusia lanjut usia dan akhirnya kamu sekalian akan mati, kemudian bila hari kiamat tiba dibangkitkanlah kamu sekalian dari kubur untuk berkumpul di padang mahsyar dan menerima peradilan dari Tuhan Yang Maha Hakim lagi Maha Adil. Dan Maha Suci lah Dia sebagai Pencipta Yang Paling Baik.
Ayat ini memberikan informasi tentang pentingnya memahami asal usul dan proses kejadian manusia dengan segenap potensi yang ada dalam dirinya. Proses kejadian manusia sebagaimana dikemukakan dalam ayat-ayat tersebut telah terbukti sejalan dengan apa yang dijelaskan berdasarkan analisis ilmu pengetahuan. Namun yang terpenting yaitu bukanlah terletak pada ditemukannya kesesuaian antara ajaran Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan, tetapi yang terpenting adalah agar timbul kesadaran pada manusia, bahwa dirinya adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT dan selanjutnya ia harus mempertanggungnjawabkan perbuatannya kelak di akhirat. Kesadaran ini selanjutnya diharapkan dapat menimbulkan sikap merasa sama dengan manusia lainnya, rendah hati, bertanggungjawab, ibadah dan beramal shaleh.
Senada dengan yang dikemukakan oleh Zuhdiah (2009) bahwa ayat di atas jelas menginformasikan kepada manusia mengenai asal usul keberadaan manusia dilihat dari sisi reproduksinya, yaitu berasal dari nutfah (air mani), kemudian berproses di dalam rahim sampai menjadi manusia yang sempurna dalam penciptaan-Nya. Di samping terdiri dari komponen biologis (jasmani) pada diri manusia juga ada unsur rohani (roh).
Selanjutnya kalimat khalqan akhar (makhluk yang berbentuk lain) yang terdapat pada ayat tersebut menunjukkan bahwa di samping manusia memiliki unsur fisik sebagaimana dimiliki makhluk lainnya, namun ia juga memiliki potensi lain. Potensi lain itu adalah adanya unsur ilahiyah (ruh ilahiyah) yang dihembuskan Tuhan pada saat bayi berusia empat bulan dalam kandungan. Perpaduan unsur fisik-jasmaniah dengan unsur psikis-rohaniah inilah yang selanjutnya membentuk manusia. Dari sini pula selanjutnya manusia dianugerahi potensi jasmaniah pancaindera berupa penglihatan, pendengaran, penciuman, dan perabaan dan potensi rohaniah berupa dorongan, naluri dan kecenderungan seperti kecenderungan beragama, bermasyarakat, memiliki harta, penghargaan, kedudukan, pengetahuan, dan teman hidup lawan jenis.
Pemahaman yang komprehensif tentang manusia ini disepakati oleh para ahli didik sebagai hal yang amat penting dalam rangka merumuskan berbagai kebijakan yang berkaitan dengan rumusan tujuan pendidikan, materi pendidikan, dan metode pendidikan.
Dengan demikian kita dapat merumuskan tujuan pendidikan dengan ungkapan bahwa pendidikan adalah upaya membina jasmani dan rohani manusia dengan segenap potensi yang ada pada keduanya secara seimbang sehingga dapat dilahirkan manusia yang seutuhnya. Dan dengan demikian pula kita dapat merumuskan materi pendidikan dengan ungkapan bahwa materi pendidikan harus berisi bahan-bahan pelajaran yang dapat menumbuhkan, mengarahkan, membina dan mengembangkan potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah tersebut secara seimbang. Pelajaran agama misalnya ditujukan untuk membina sikap keberagamaan, pelajaran mate-matikan ditujukan untuk membina potensi berpikir, pelajaran sejarah ditujukan untuk membina potensi bermasyarakat, dan seterusnya. Dengan pemahaman terhadap manusia itu pula kita dapat merumuskan metode pendidikan dengan ungkapan bahwa harus bertolak dari kecenderungan manusia. Manusia misalnya memiliki kecenderungan senang meniru, mendengarkan cerita, disanjung dan sebagainya. Dengan demikian metode pendidikan dapat dilakukan dengan memberikan teladan, membacakan cerita, memberikan pujian dan sebagainya.
C. KESIMPULAN
Allah SWT menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah, yang kemudian dijadikan air mani, kemudian segumpal darah, kemudian segumpal daging yang jadi pembungkus tulang. Kemudian setelah ditupkan rohnya menjadi manusia yang sempurna, yang semuanya itu terjadi dalam tempat penyimpanan yang kokoh yaitu rahim.
Setelah manusia mengalami masa ciptaannya yang pertama pasti akan mati dan akan dibangkitkan dari kuburnya pada hari kiamat untuk dihisab tentang segala amal perbuatan.
Proses kejadian manusia dalam QS. Al-Mukminun:12-16, membuktikan bahwa apa yang dijelaskan dalam ayat tersebut sejalan/sesuai dengan analisis ilmu pengetahuan. Agar timbul kesadaran pada manusia bahwa dirinya adalah makhluk diciptakan oleh Allah SWT yang banyak memiliki potensi seperti kecenderungan beragama, bermasyarakat, memiliki harta, penghargaan, kedudukan,pengetahuan dan teman hidup lawan jenis. Dengan kata lain, ayat ini menyuruh manusia mempelajari asal kejadiannya atau ilmu perkembangan manusia.
Demikianlah mukjizat kitab yang menakjubkan dan kekal dan tidak pernah musnah, bahwa sumber ilmu dan ilham yang ada padanya tidak pernah lemah dan tidak pernah kering, dan bahwa dunia akan senantiasa menguak daripadanya ufuk demi ufuk, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga mengetahui bahwa di dalam kitab yang mulia ini banyak tersimpan isyarat dan petunjuk.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Maraghi,Ahmad Musthafa, 1993, Terjemah Tafsir Al-Maraghi jus 18. Semarang: Thoha
Bahreiysi, salim dan Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid V Surabaya: PT. Bina Ilmu
Dasuki, Hafizh. 1993. Al-Qur’an dan tafsirnya jilid VI Semarang : Citra Effhar
Nata,Abuddin, 2002, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, Jakarta: Grafindo Persada
Nurwadjah, Ahmad. 2010, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan,Bandung: Marja
Shaleh, Putra dan Dahlan. 2000, Asbabun Nuzul Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-ayat Al-Qur’an. Bandung: Diponegoro
Zuhdiah, 2009, Psikologi Agama, Palembang: Grafika Telindo.
Setelah menceritakan keadaan orang-orang yang berbahagia dan beruntung, selanjutnya Allah menceritakan permulaan dan kesusahan mereka serta kesudahan selain mereka di antara umat manusia. Ayat-ayat ini menunjukkan keagungan pemberian Allah dan menganjurkan manusia untuk memiliki sifat-sifat terpuji. Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa semua itu berkesudahan pada suatu batas, yaitu hari kiamat pada hari kalian dibangkitkan dan dihisab, atas amal yang telah diperbuat. Jika amal itu baik, maka balasannya pun baik, dan jika buruk maka balasannya pun buruk.
Pada ayat yang di bahas dalam makalah ini, pemakalah menuntut agar senantiasa sadar pada atribut yang dimiliki Allah, yaitu sebagai Pencipta dan Penguasa pada hari berbangkit. Sebab, keyakinan pada dua kenyataan ini merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan pola hidup seseorang, sehingga bagi mereka yang dalam hatinya masih terdapat keraguan akan hari tersebut dituntut agar segera melakukan perenungan terhadap proses penciptaan manusia yang akan dijelaskan dalam makalah ini. Sebab, dengan adanya upaya perenungan terhadap proses penciptaan, kemungkinan besar ia akan tersadar pada kekeliruannya.
B. PEMBAHASAN
1. Qur’an Surat Al-Mukminun 12-16
•
Artinya : “ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kalian benar-benar akan mati. Kemudian sesungguhnya kalian akan dibangkitkan (dari kubur kalian) di hari kiamat.”
2. Makna Mufrodat :
- As-Sulalah : Apa yang dicabut dan dikeluarkan dari sesuatu. Kadang bersifat disengaja, seperti saripati sesuatu seperti buih susu, kadangpula bersifat tidak disengaja, seperti tahi kuku dan debu rumah.
- Qarar : Tempat menetap
• - Makin : Yang kokoh
- Al-alaqa : Darah beku
- Al-mudgah : Sepotong daging sebesar apa atau yang bisa dikunyah
- ‘izhaaman : Tulang
- lahman : Daging
- khalqan aakhara : Ciptakan yang lain
اللة - Fatabarakallah : Maka Maha Tinggi dan Maha Suci Allah
3. Asbabun Nuzul :
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa pandangan Umar sejalan dengan kehendak Allah dalam empat hal, antara lain mengenai turunnya ayat walaqod kholaqnal insana min sulalatim min tin ( dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah (QS. Al-Mukminun:12) sampai khalqan akhar… (makhluk yang berbentuk lain) (QS.Al-Mukminun:14). Pada waktu mendengar ayat tersebut, Umar berkata : “Fatabarakallahu ahsanul khaliqin” ( Maka Maha suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik). Maka turunlah akhir ayat tersebut (QS.Al-Mukminun:14) yang sejalan dengan ucapan dengan Umar tersebut.
4. Tafsir / Penjelasan
Artinya : “ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
Kata sulalah berasal dari kata salla yang mengandung arti mengambil, mencabut, menghunus, mencabut secara pelan-pelan. As Shawi mengartikan sulalah dengan “sesuatu yang disarikan dari sesuatu yang lain”. Dari pengertian ini tersirat bahwa yang diambil dari tanah itu hanyalah sedikit, tetapi secara substansi mencakup apa yang ada di dalam bumi (saripati tanah).
Sesungguhnya Kami telah menciptakan asal jenis ini dan individunya yang pertama, yaitu Adam as, dari saripati tanah pilihan yang tidak kotor. Sekelompok mufassir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan manusia di sini ialah Adam. Mereka mengatakan bahwa air mani lahir dari darah yang terjadi dari makanan, baik yang bersifat hewani maupun yang bersifat nabati. Makanan yang bersifat hewani akan berakhir pada makanan yang bersifat nabati, dan tumbuhan lahir dari saripati tanah dan air. Jadi pada hakikatnya manusia lahir dari saripati tanah, kemudian saripati itu megalami perkembangan kejadian hingga menjadi air mani.
•
Artinya : “Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan dalam tempat yang kokoh (rahim)”.
Kemudian Kami tempatkan saripati air mani itu dalam tulang rusuk sang suami yang dalam persetubuhan dengan istrinya ditumpahkan ke dalam rahimnya, suatu tempat penyimpanan yang kokoh bagi janin sampai saat kelahirannya.
Artinya : “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging”.
Kemudian Kami ubah air mani itu dari sifatnya yang kedua menjadi sifat darah beku. Kemudian darah beku itu Kami jadikan sepotong daging sebesar apa yang dapat dikunyah.
Artinya : “dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging”.
Kemudian segumpal daging itu Kami jadikan sedemikian rupa dan bagian-bagiannya Kami uraikan. Maka, bagiannya yang termasuk dalam pembentukan tulang, Kami jadikan tulang, dan yang termasuk substansi daging, Kami jadikan daging. Sedangkan zat-zat makanan meliputi semua itu dan tersebar di dalam darah. Maka Kami jadikan daging itu sebagai penutupnya dalam arti yang menutupi tulang, sehingga menyerupai pakaian yang menutupi tubuh.
Artinya : “Kemudian Kami jadikan dia yang (berbentuk) lain”.
Kemudian Kami jadikan dia makhluk lain yang berbeda sama sekali dengan kejadiannya yang pertama, karena Kami meniupkan ruh padanya dan menjadikannya manusia setelah sebelumnya menyerupai benda mati yang bisa berbicara, mendengar dan melihat, serta Kami titipkan padanya sekian banyak keanehan, baik lahir maupun batin.
Artinya : “Maka, Maha Suci Tuhan kami Yang Maha Kuasa. Dia adalah Pengukur dan Pembentuk Yang Paling Baik”.
Kemudian, Rasulullah saw. bersabda, “Demikianlah ayat-ayat itu diturunkan, ya Umar”. (Hadis ini dikeluarkan oleh At-Tayalisi)
Artinya : “Kemudian, sesudah itu sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati”.
Setelah kalian, wahai manusia, menetap di dunia dan ajal kalian selesai, kalian benar-benar akan mati.
Artinya :”Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari Kiamat.”
Setelah kalian meninggal dan menetap di alam kubur, kalian akan dibangkitkan kembali untuk dihisab di padang yang menghampar luas pada Hari Kiamat. Kemudian pada hari kiamat kalian akan dibangkitkan dari kubur untuk dihisab, lalu diberi balasan berupa pahala atau siksa, karena setiap orang akan mendapat balasan amalnya. Jika amal itu baik, maka baik pula balasannya, dan jika amal itu buruk, maka buruk pula balasannya.
Allah SWT berfirman menceritakan bagaimana manusia itu diciptakan yang berasal dari saripati tanah, ialah Adam, kemudian keturunannya diciptakan dari air mani yang tersimpan dalam tempat yang kokoh, ialah rahim ibunya, yang memang tersedia untuk itu dan setelah melewati suatu masa tertentu dijadikanlah air mani itu segumpal darah, kemudian segumpal darah itu menjadi segumpal daging dan dari segumpal daging itu terciptalah tulang belulang yang berbentuk kepala, tangan dan kaki, kemudian dibungkusnya tulang-tulang itu dengan daging, otot dan urat-urat, maka terciptalah suatu makhluk yang berbentuk lain dan kepadanyalah ditiupkan roh, diberinya sarana pendengaran, penglihatan, penciuman, bersuara, berpikir, dan bergerak, sehingga lengkaplah ia menjadi manusia yang utuh, sempurna sebagai makhluk Allah yang pilihan dan termulia.
Allah berfirman “Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain, janin yang lahir dari perut ibunya sebagai bayi, tumbuh menjadi balita, balita menjadi remaja, kemudian menjadi manusia lanjut usia dan akhirnya kamu sekalian akan mati, kemudian bila hari kiamat tiba dibangkitkanlah kamu sekalian dari kubur untuk berkumpul di padang mahsyar dan menerima peradilan dari Tuhan Yang Maha Hakim lagi Maha Adil. Dan Maha Suci lah Dia sebagai Pencipta Yang Paling Baik.
Ayat ini memberikan informasi tentang pentingnya memahami asal usul dan proses kejadian manusia dengan segenap potensi yang ada dalam dirinya. Proses kejadian manusia sebagaimana dikemukakan dalam ayat-ayat tersebut telah terbukti sejalan dengan apa yang dijelaskan berdasarkan analisis ilmu pengetahuan. Namun yang terpenting yaitu bukanlah terletak pada ditemukannya kesesuaian antara ajaran Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan, tetapi yang terpenting adalah agar timbul kesadaran pada manusia, bahwa dirinya adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT dan selanjutnya ia harus mempertanggungnjawabkan perbuatannya kelak di akhirat. Kesadaran ini selanjutnya diharapkan dapat menimbulkan sikap merasa sama dengan manusia lainnya, rendah hati, bertanggungjawab, ibadah dan beramal shaleh.
Senada dengan yang dikemukakan oleh Zuhdiah (2009) bahwa ayat di atas jelas menginformasikan kepada manusia mengenai asal usul keberadaan manusia dilihat dari sisi reproduksinya, yaitu berasal dari nutfah (air mani), kemudian berproses di dalam rahim sampai menjadi manusia yang sempurna dalam penciptaan-Nya. Di samping terdiri dari komponen biologis (jasmani) pada diri manusia juga ada unsur rohani (roh).
Selanjutnya kalimat khalqan akhar (makhluk yang berbentuk lain) yang terdapat pada ayat tersebut menunjukkan bahwa di samping manusia memiliki unsur fisik sebagaimana dimiliki makhluk lainnya, namun ia juga memiliki potensi lain. Potensi lain itu adalah adanya unsur ilahiyah (ruh ilahiyah) yang dihembuskan Tuhan pada saat bayi berusia empat bulan dalam kandungan. Perpaduan unsur fisik-jasmaniah dengan unsur psikis-rohaniah inilah yang selanjutnya membentuk manusia. Dari sini pula selanjutnya manusia dianugerahi potensi jasmaniah pancaindera berupa penglihatan, pendengaran, penciuman, dan perabaan dan potensi rohaniah berupa dorongan, naluri dan kecenderungan seperti kecenderungan beragama, bermasyarakat, memiliki harta, penghargaan, kedudukan, pengetahuan, dan teman hidup lawan jenis.
Pemahaman yang komprehensif tentang manusia ini disepakati oleh para ahli didik sebagai hal yang amat penting dalam rangka merumuskan berbagai kebijakan yang berkaitan dengan rumusan tujuan pendidikan, materi pendidikan, dan metode pendidikan.
Dengan demikian kita dapat merumuskan tujuan pendidikan dengan ungkapan bahwa pendidikan adalah upaya membina jasmani dan rohani manusia dengan segenap potensi yang ada pada keduanya secara seimbang sehingga dapat dilahirkan manusia yang seutuhnya. Dan dengan demikian pula kita dapat merumuskan materi pendidikan dengan ungkapan bahwa materi pendidikan harus berisi bahan-bahan pelajaran yang dapat menumbuhkan, mengarahkan, membina dan mengembangkan potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah tersebut secara seimbang. Pelajaran agama misalnya ditujukan untuk membina sikap keberagamaan, pelajaran mate-matikan ditujukan untuk membina potensi berpikir, pelajaran sejarah ditujukan untuk membina potensi bermasyarakat, dan seterusnya. Dengan pemahaman terhadap manusia itu pula kita dapat merumuskan metode pendidikan dengan ungkapan bahwa harus bertolak dari kecenderungan manusia. Manusia misalnya memiliki kecenderungan senang meniru, mendengarkan cerita, disanjung dan sebagainya. Dengan demikian metode pendidikan dapat dilakukan dengan memberikan teladan, membacakan cerita, memberikan pujian dan sebagainya.
C. KESIMPULAN
Allah SWT menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah, yang kemudian dijadikan air mani, kemudian segumpal darah, kemudian segumpal daging yang jadi pembungkus tulang. Kemudian setelah ditupkan rohnya menjadi manusia yang sempurna, yang semuanya itu terjadi dalam tempat penyimpanan yang kokoh yaitu rahim.
Setelah manusia mengalami masa ciptaannya yang pertama pasti akan mati dan akan dibangkitkan dari kuburnya pada hari kiamat untuk dihisab tentang segala amal perbuatan.
Proses kejadian manusia dalam QS. Al-Mukminun:12-16, membuktikan bahwa apa yang dijelaskan dalam ayat tersebut sejalan/sesuai dengan analisis ilmu pengetahuan. Agar timbul kesadaran pada manusia bahwa dirinya adalah makhluk diciptakan oleh Allah SWT yang banyak memiliki potensi seperti kecenderungan beragama, bermasyarakat, memiliki harta, penghargaan, kedudukan,pengetahuan dan teman hidup lawan jenis. Dengan kata lain, ayat ini menyuruh manusia mempelajari asal kejadiannya atau ilmu perkembangan manusia.
Demikianlah mukjizat kitab yang menakjubkan dan kekal dan tidak pernah musnah, bahwa sumber ilmu dan ilham yang ada padanya tidak pernah lemah dan tidak pernah kering, dan bahwa dunia akan senantiasa menguak daripadanya ufuk demi ufuk, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga mengetahui bahwa di dalam kitab yang mulia ini banyak tersimpan isyarat dan petunjuk.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Maraghi,Ahmad Musthafa, 1993, Terjemah Tafsir Al-Maraghi jus 18. Semarang: Thoha
Bahreiysi, salim dan Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid V Surabaya: PT. Bina Ilmu
Dasuki, Hafizh. 1993. Al-Qur’an dan tafsirnya jilid VI Semarang : Citra Effhar
Nata,Abuddin, 2002, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, Jakarta: Grafindo Persada
Nurwadjah, Ahmad. 2010, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan,Bandung: Marja
Shaleh, Putra dan Dahlan. 2000, Asbabun Nuzul Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-ayat Al-Qur’an. Bandung: Diponegoro
Zuhdiah, 2009, Psikologi Agama, Palembang: Grafika Telindo.
Langganan:
Postingan (Atom)